Takdir dan Berbagai Pertanyaan


"Walau tak semua tanya datang beserta jawaban. Dan tak semua harapan terpenuhi. Ketika bicara juga sesulit diam. Utarakan, utarakan, utarakan."-Utarakan, Banda Neira
Mendengar lagu Banda Neira yang berjudul Utarakan itu aku teringat tentang berbagai pertanyaan yang ingin kuutarakan pada semua orang. Terlebih pada orang-orang yang membuatku memunculkan pertanyaan tersebut. Namun, ketakutan akan jawaban yang pada akhirnya membuatku hanya menyimpannya sendiri.  

Kenapa aku terlahir di keluarga ini, bukan keluarga itu? Kenapa aku diterima di jurusan Psikologi, bukan Akuntansi? Kenapa aku dipertemukan denganmu, dia, mereka, dan orang-orang lainnya yang hanya singgah sementara? Kenapa ponsel, kartu-kartu, dan dompetku hilang? Kenapa aku harus sakit di tahun terakhir kuliahku? Kenapa obat-obat yang para dokter beri tidak membuatku seperti sedia kala? Kenapa aku yang harus mengalaminya? Kenapa?

Dan berbagai pertanyaan lainnya yang jika ditanyakan akan terlihat sekali ketidakbersyukurannya. Padahal Allah sudah baik sekali memberikan rezeki, memberikan satu kesempatan untuk berbuat baik. Namun, banyak orang--termasuk aku--yang masih mempertanyakan nikmat yang Dia beri. 

Semakin bertambahnya umur dan berbagai pengalaman yang kualami, pertanyaan-pertanyaan tersebut seakan terjawab sendiri dengan satu jawaban yang sama, yaitu takdir. Setiap manusia pasti telah berusaha, mengusahakan yang paling baik. Pun setiap manusia pasti telah menjaga barang-barang yang dia miliki, menjaga tubuh mereka. Namun, jika pada akhirnya kita tidak mendapat apa yang kita impikan. Jika barang-barang yang kita jaga hilang atau diambil orang. Jika tubuh kita yang sudah dijaga sedemikian rupa pada akhirnya limbung dan sakit. Dan jika Allah telah berkehendak, kita bisa apa? Terus-menerus menyalahkan diri, menyalahkan orang lain, bahkan menyalahkan Allah? Semakin ke sini, kuyakin kalau semua itu memang sudah takdir Allah. Di balik itu pasti ada sesuatu yang lebih baik yang telah direncanakan Allah untuk kita. Juga memberikan pelajaran berharga untuk kita. Tentang mengikhlaskan, melepaskan, bersabar, dan bersyukur.

Lima bulan terakhir ini aku merasakan sekali Allah menguji sejauh mana kesabaran dan kebersyukuran yang kumiliki dengan memberiku rasa sakit. Sekaligus mencabut kenikmatan untuk mengonsumsi mie, sambal, kopi, coklat, soda, santan, ati rempela, dan berbagai makanan/minuman/buah yang sekarang menjadi pantanganku. Saat temanku makan sambal, mie, coklat atau minum kopi, aku hanya berandai kapan aku bisa menikmati itu lagi. Dan lima bulan terakhir ini aku sadar kalau aku masih kurang bersabar dan bersyukur. Tingkat kesabaran dan kebersyukuranku masih naik turun.

Ketika kesabaran dan kebersyukuranku sedang di bawah, pertanyaan-pertanyaan itu kembali muncul. Kenapa aku tidak juga sembuh dan masih terus mengonsumsi obat-obat ini? Bahkan hari ini, usai kontrol dokter aku kembali mempertanyakannya. Terlebih dokter yang menanganiku mengatakan kalau obat-obat yang kukonsumi tidak bisa langsung menyembuhkan. Namun, hanya menghambat keluhan-keluhan yang sering kualami agar tidak lagi muncul. Saat mendengar penjelasan tersebut aku merasa sedih walau dokternya memberi penghiburan dengan mengatakan, "Ini cuma gastritis biasa kok, tidak ada bakteri dan perubahan struktur lambung". Cuma. 

Jika kesabaran dan kebersyukuranku sedang normal atau tinggi, pertanyaan-pertanyaan itu seolah sirna. Bahkan aku dapat menangkap kesabaran dan kebersyukuran dari orang-orang di sekitar. Seperti saat melihat pasien yang duduk di kursi roda atau mengenakan tongkat ketika berjalan. Terlebih saat endoskopi kemarin aku terbaring di tandu rumah sakit menuju ruang endoskopi, aku merasakan betapa nikmatnya berjalan dengan kaki sendiri. Juga saat aku harus memakai selang pernapasan ketika endoskopi, aku merasakan betapa nikmatinya dan bersyukurnya masih bernapas dengan begitu mudahnya. 

Semakin ke sini, aku semakin menyadari bahwa ada beberapa kejadian di luar kuasa kita yang memang telah Allah rencanakan. Dan di balik semua itu, pasti ada hal-hal indah yang telah Allah persiapkan. Sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha sebaik mungkin dan menerima takdir itu dengan ikhlas. Dan karena tak semua tanya datang beserta jawaban, daripada sibuk mempertanyakan sesuatu yang tidak penting lebih baik kita menerimanya dengan ikhlas. Mengubah apa yang bisa kita ubah, selebihnya biarkan Allah mengubah apa yang tidak bisa kita ubah.

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments:

  1. Eh mbak.. Kita tos duluu.. Ternyata yang punya pertanyaan seperti itu gak cuma aku.. Kalo aku lagi banyak masalah, seolah2 aku menyalahkan nabi Adam. Kenapa sih makan buah terlarang. Kenapa Allah menciptakan manusia padahal Allah tau gak semua manusia itu baik. Allah mampu membolakbalikkan hati manusia, kenapa masih ada beberapa manusia yang jahat. Kenapa gak dibalik aja jadi baik?. Duh eeehhh... Pertanyaan konyol ya...hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wajar sih kalau pernah kepikiran pertanyaan macam itu, hehe. Yang penting setelahnya refleksi diri kalo di balik semua itu pasti ada rencana indah yang telah Allah siapkan

      Delete