#10 Malioboro Punya Cerita



Bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, Malioboro menjadi destinasi yang wajib untuk dikunjung. Sebaliknya, bagi sebagian besar orang yang sudah menetap lama di Jogja, apalagi penduduk aslinya, Malioboro terkadang menjadi tempat yang 'membosankan' untuk dikunjungi. Namun, tidak bagiku. Malioboro tetap tempat yang asyik untuk dikunjungi. Selain aksesnya yang mudah dan murah, banyak cerita yang terjadi di Malioboro.

Malioboro, merupakan tempat pertama yang kukunjungi ketika kelas 3 SMA bersama saudara laki-lakiku setelah hampir 8 tahun tidak ke Jogja. Beberapa saat setelah tiba di rumah kenalan, kami meminta izin untuk meminjam motor dan bergegas pergi ke Malioboro. Malam itu, kami menikmati suasana Malioboro yang semakin beranjak sepi. Beberapa toko telah bersiap ditutup, hanya menyisakan McD yang masih terjaga. Kami di sana hingga larut malam. Aku menikmati es krim, sementara saudaraku menikmati burger. 

Bagiku, Malioboro memiliki sejuta cerita. Banyak kisah yang terjalin di sini. Bersama orang-orang yang pernah kuanggap 'spesial' hingga memori itu selalu terpaksa berputar setiap kali aku ke Malioboro. Dan setelah hampir 4 tahun kuliah di Jogja, tanggal 18 Maret lalu, aku bisa jalan-jalan bersama adik dan Ibuku ke Malioboro. Menaiki Trans Jogja, mampir ke toko buku, menyusuri Jalan Malioboro hingga sekadar melewati Taman Pintar. Sambil sesekali mengambil gambar. Apalagi sekarang penataan Malioboro sudah terbilang rapi dan 'Instagram-able' untuk diabadikan dalam lensa kamera.


Jika tidak ada kerjaan atau sedang merasa penat, biasanya aku jalan-jalan sendirian ke Malioboro. Sekadar menikmati vanilla ice cream sembari duduk di salah satu kursi yang tersedia di sepanjang Malioboro. Menatap orang-orang yang berseliweran atau menatap langit biru yang sesekali melintas pesawat khusus untuk latihan penerbangan. Namun, di Malioboro juga aku mengalami cerita buruk yaitu saat dompetku dicuri dengan begitu mudahnya. Dompetku beserta isinya raib, hanya menyisakan beberapa lembar uang yang hanya cukup untuk membayar biaya Trans Jogja sekali jalan. Dan untungnya, ponsel yang biasanya kutaruh di saku tas, sebelumnya telah kupindah ke tas plastik yang sedang kutenteng. Walau begitu, Malioboro tetap menjadi tempat pelarianku ketika penat melanda, sembari menikmati vanilla ice cream. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment