Cerita Jaulah Sastra ke Solo




Aku masih sangat percaya dengan konsep rezeki tidak akan ke mana-mana. Bahwa rezeki tidak akan tertukar. Selama kita mau mengusahakannya. 

Yogyakarta, 5 Maret 2017 

Hari ini aku memiliki dua agenda, yaitu rihlah bersama Keluarga Cemara dan Jaulah Sastra bersama keluarga FLP Yogyakarta. Namun, dari hari-hari sebelumnya aku telah memilih untuk ikut rihlah bersama Keluarga Cemara karena lebih dulu diputuskan tanggalnya. Entah kebetulan atau tidak, di hari H, ternyata rihlah dibatalkan dan diganti dengan sarapan bersama. Lebih kebetulan lagi ternyata tiket kereta yang didapat anak-anak FLP itu jam keberangkatannya sekitar jam 9. Tiba-tiba aku ingin sekali ikut Jaulah Sastra agar dapat refresh pikiran. Dan masih sekitar 90 menit lagi menuju jam 9. 

Ketika aku tanya ke grup, ternyata tiket yang ada di loket sudah habis. Namun, aku chat personal ke mba Muji, Ketua FLP Yogyakarta. Beliau bilang kalau sudah membeli 10 tiket ke Solo, tetapi masih ada satu orang yang belum datang. Keinginanku semakin menggebu untuk ikut ke Solo. Pikirku, kalaupun tidak mendapat tiket, aku akan ke Solo naik sepeda motor yang kusewa. Sembari menunggu kabar dari mba Muji, sekitar jam 8 aku makan bersama tiga orang Keluarga Cemara di Sunday Morning. Melihat satu per satu warung makan bertenda hingga akhirnya menemukan sebuah warung. Sesampainya di sana aku baru sadar kalau jam di ponselku sudah menunjukkan pukul 08.30. Tidak lama kemudian mba Muji mengabari kalau satu orang yang ditunggu tersebut tidak dapat dihubungi sehingga aku diperbolehkan ikut. 

"Makananku dibungkus aja ya?" kataku. Mereka pun setuju. Beberapa menit kemudian nasi kuning yang kupesan pun jadi. Lalu aku segera pamit dan bergegas menuju Stasiun Tugu bersama salah satu di antara mereka yang perempuan. Entah ada angin apa, sesampainya di perempatan Tugu, aku dan temanku baru menyadari kalau Jalan Mangkubumi ditutup. Tidak ada kendaraan yang dapat melewatinya, termasuk motor. 

"Ya udah mba, aku turun sini aja?"

"Kamu yakin?" Aku mengangguk dan segera berlari. Aku kembali melirik jam di ponselku. Sepuluh menit lagi menuju jam 9. Kayaknya nggak bakal nyampe kalau lari, batinku. Terlebih saat mendengar napasku yang tersengal dan aku merasa tidak kuat untuk terus berlari. Ketika dari gang-gang kecil Jalan Mangkubumi terlihat motor-motor berseliweran, aku berharap ada keajaiban. Dan keajaiban itu pun datang. Saat melihat bapak-bapak yang naik motor sendirian, aku menghentikan lajunya. "Pak, boleh minta tolong antar saya ke stasiun?" Tanpa pikir panjang bapak itu pun langsung setuju. Setelah sampai di depan stasiun dan aku akan mengeluarkan uang tiba-tiba bapak tersebut tidak mau menerimanya. "Udah mba, nggak apa-apa." Dalam hati, aku sangat bersyukur masih ada orang yang seperti itu. Lalu aku segera masuk ke dalam stasiun. 

Permasalahan lain pun muncul. Aku tidak dapat melewati loket pemeriksaan tiket karena tiketku ada di mba Muji. Lalu aku mengabari beliau dan temanku yang lain kalau aku tidak dapat masuk. Entah kenapa mereka tetap menyuruhku untuk masuk lewat pintu selatan. Padahal aku sudah di depan loket pemeriksaan tiket bagian timur. Aku mencoba menelepon mereka tapi reconnecting. Aku memohon petugas pemeriksaan tiket agar aku dapat masuk. Ternyata mereka begitu tegas dengan peraturan yang sudah ada. 

"Nggak bisa mba. Temennya suruh turun dulu. Keretanya masih sepuluh menit lagi berangkatnya. Masa turun aja nggak mau. Biar mereka kapok juga udah ninggalin temennya," tegas sang petugas. Aku yang mendengarnya begitu jerih sekaligus ingin menangis, takut tidak dapat masuk. 

"Ya udah pak. Coba bapak yang telepon teman saya," kataku memohon. Akhirnya petugas tersebut mau menelepon temanku yang langsung diangkat oleh temanku. Petugas itu menanyakan namaku, lalu bergegas masuk ke dalam kereta Prameks, mencari teman-temanku. Aku mengikutinya dari belakang, walau tidak dapat melewati pagar jalur pemberangkatan kereta. Dari kejauhan aku melihat mba Muji yang sepertinya juga sedang mencariku. Dan di belakang mba Muji ada petugas stasiun yang mencari teman-temanku. Akhirnya petugas stasiun tersebut mempertemukan kami. Mba Muji segera memberiku selembar tiket lalu aku berlari kembali ke loket pemeriksaan untuk memeriksa tiket keretaku. Sekitar dua menit sebelum kereta berangkat, aku sudah duduk manis di kursi. Walau dengan napas tersengal. Mba Muji dan teman-teman yang lain pun menanyakan kronologis hingga aku sampai stasiun. Aku menjawabnya dengan napas yang masih tersengal.

Tadinya, aku ingin membaca buku di kereta. Namun, pembicaraan mas Agus, Alim, dan mba Fitri terdengar asyik hingga beberapa kali aku ikut menimpali. Sementara teman-temanku yang lain sibuk dengan aktivitas masing-masing. Menatap jendela, membaca buku, dan tidur. 

Solo, 5 Maret 2017 

Sekitar 1 jam kemudian kereta kami tiba di Stasiun Purwosari. Saat itu, Shofya terlihat masih mengantre untuk membelikan tiket kepulangan kami. Setelah mendapat tiket pulang dan mendapat petunjuk lokasi yang akan kami datangi, kami bergegas beranjak dari stasiun. Namun, ternyata kami kebingungan dengan lokasi tersebut, kebingungan akan naik kendaraan atau jalan kaki. Setelah melalui perdebatan yang cukup pelik, akhirnya kami memutuskan untuk jalan, menyusuri Jalan Slamet Riyadi dan Jalan Samanhudi. Di depan Jalan Samanhudi, kami dijemput oleh salah satu anggota FLP Solo untuk mengarahkan kami menuju tempat kumpul. Ternyata tempat yang menjadi tempat kumpul kami adalah sebuah pesantren putera. Agak kaget sekaligus canggung saat diminta masuk ke dalam oleh mas Opik, Ketua FLP Solo. 

Pertemuan itu diawali dengan perkenalan, cerita suka-dukanya FLP Solo yang penuh liku. Pun cerita suka-dukanya FLP Yogyakarta, tentang struktur organisasi, kegiatan, dan jumlah anggota. Siang harinya usai melaksanakan salat Dhuhur, kami menyantap ayam yang menjadi usaha mas Opik. Setelah makan, kami kembali berbincang mengenai buku-buku mas Opik yang semuanya dicetak di fotokopian. Walau banyak yang menyukai karyanya, tetapi ada juga yang mencibir karyanya karena dicetak di fotokopian, bukan di penerbit. Mas Opik juga bercerita kalau zaman dulu penulis malu untuk menjual karyanya. Sebaliknya, di zaman sekarang penulis banyak yang memperomosikan bukunya sendiri di akun media sosialnya. Aku pun menanyakan kepada mas Opik mengenai tujuan beliau mencetak buku hingga saat ini mencapai 10 buku. Beliau mengatakan karena adanya apresiasi positif dari pembaca. Kata beliau, kalau tidak ada itu mungkin dia tidak akan menerbitkan buku-buku selanjutnya. Stuck di buku pertama. Beliau pun tidak menampik adanya apresiasi dan mendapat penghasilan (dari buku) yang membuatnya terus mencetak buku sendiri. Walau agak ingin kusanggah pendapat beliau. Sebab hingga sekarang aku masih menganggap menulis sebagai sebuah katarsis atau pelepasan emosi. Bukan sekadar mendapat apresiasi atau penghasilan. Namun, satu hal yang sangat aku apresiasi dari mas Opik adalah keberaniannya untuk mencetak buku sendiri, di fotokopian pula. Dan hal yang sangat aku apresiasi dari teman-teman FLP Solo adalah semangatnya dalam dunia menulis. 

Apapun itu, menurutku menulislah selagi dapat menulis. Menulislah untuk menebar kebaikan. Semoga FLP Yogyakarta, FLP Solo, dan FLP lainnya dapat terus berbakti, berkarya, dan berarti. 



Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

6 comments:

  1. Woh sudah bisa nanya dalam forum toh? Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk, sial. Udah bisa lah ya :p biar gak terkungkung sama 'ke-introvert-an-ku', wkwk

      Delete
  2. Replies
    1. hahaha, lebih asik lagi kalo udah bisa 'sekelas' dengan Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Afifah Afra, Ev. Wkwk

      Delete
  3. mbak Solo? kapan gabung sama komunitas kita kita ya BloggerSolo :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan, hehe. Saya aslinya Purwokerto, tapi kuliahnya di Jogja dan kemarin Minggu lagi ada acara di Solo

      Delete