#2 4 Tips Mengatasi Rasa Cemas



Tema kedua di pekan pertama bulan ini, yaitu cara mengatasi anxiety atau kecemasan. Pada dasarnya kecemasan merupakan sesuatu yang wajar dialami banyak orang. Seperti cemas bicara di depan umum, cemas menghadapi ujian, cemas akan dioperasi, cemas akan masa depan, cemas tugas belum selesai semua, dan kawan-kawannya. Selama dalam proporsi yang masih wajar dan tidak mengganggu aktivitas, everything will be alright. Sebab kalau sudah terlalu mengganggu aktivitas dapat mengarah ke gangguan psikologis, salah satunya Gangguan Kepribadian Kecemasan. Untuk tahu definisi lebih dalam tentang kecemasan, bisa berkunjung ke webnya Pijar Psikologi. Dan karena aku tidak sedang menulis artikel untuk Pijar, maka aku akan memberikan beberapa tips yang sering kulakukan saat menghadapi cemas sesuai penyebab kecemasan itu. Check this out!

1. Pejamkan Mata

Aku sepertinya dua kali mempraktekkan ini. Pertama, saat gigiku ditambal. Karena aku cemas maka aku memejamkan mataku. Saat itu aku hanya mendengar suara alat penambal gigi semacam bor yang keluar airnya. Tapi saat itu rasanya aku ingin tertawa karena lucu saja ada air yang menyembul dari mulutku karena alatku. Kedua, saat aku akan endoskopi. Sebelum masuk ke dalam ruangan aku berniat untuk tidak memejamkan mata. Namun, saat masuk ke dalam ruangan, saat dua dokter mengelilingiku, saat mulutku disemprot bius, saat alat endoskopi akan bersiap masuk ke dalam rongga mulut, sejujurnya aku sangat cemas. Lalu aku bertanya pada dokter yang aku mengendoskopiku. "Dok, boleh memejamkan mata?" Setelah dokter itu mengiyakan, aku langsung memejamkan mataku walau tetap terasa alat endoskopi itu masuk ke dalam rongga mulut, kerongkongan, hingga organ pencernaan. Setelah endoskopi selesai dilakukan, aku kembali membuka kedua mataku. "Yah, sayang banget mbaknya tadi mejemin mata, kan jarang orang bisa liat isi perutnya sendiri (baca: organ pencernaan)," gurau sang dokter.   

2. Tarik Napas

Biasanya ini kulakukan jika aku akan berbicara di depan umum. Entah presentasi, memimpin sebuah rapat, mengemukakan pendapat, bahkan menjadi pemandu mentoring. Sebab aku bukan orang yang pandai berbicara di depan umum dan jarang sekali maka aku sering cemas ketika akan melakukan hal tersebut. Saat mentoring/liqo di depan adik-adik pun aku kadang tanpa sadar bilang, "Sebentar, sebentar, aku mau narik napas dulu." Dan setelahnya lebih terasa enak ketika berbicara di depan umum. 

3. Membaca Buku dan Mendengarkan Musik

Ini kulakukan ketika menunggu antrean untuk endoskopi, rontgen, USG, atau kontrol rutin. Selain mengurangi kebosanan juga mengurangi kecemasan akan 'apa yang akan selanjutnya terjadi padaku'. Namun, sering juga kulakukan ketika aku berada di tempat asing atau suatu tempat/kerumunan orang yang membuatku tidak nyaman. Kalau rasa cemas itu meninggi, bahkan sudah sampai perkataan "I am insecure" aku akan beranjak dari tempat tersebut dan segera mencari tempat lain yang membuatku kembali merasa nyaman dan tidak lagi cemas. 

4. Berdoa 

Ini poin yang paling penting dan paling mujarab dibanding tiga poin sebelumnya. Jangan lupa baca basmalah. Jangan lupa berdoa kalau kita lagi cemas atau mau melakukan apapun. Biar berkah, biar dimudahkan dan dilancarkan.

Share this:

0 comments:

Post a Comment