Sahabat Kecil



Layaknya Kica dan Banyu dalam novel "Teman Imaji". Layaknya Gita, Rizky, dan Nadine dalam serial "Cinta dan Rahasia". Aku pun memiliki kisah yang hampir sama, mempunyai sahabat masa kecil kemudian ditinggalkan. Bedanya, tidak ada cinta di antara aku dan sahabat masa kecilku karena kami sama-sama perempuan. Bedanya, kisahku lebih tragis dibanding tokoh dalam "Teman Imaji" dan "Cinta dan Rahasia". Sahabat masa kecilku tidak pernah kembali. Kami tidak pernah bertemu lagi semenjak pendaftaran sekolah menengah pertama. Ketika SMA, suatu hal yang percuma ketika kuketahui sekolah kami berdekatan. Sekali waktu bahkan aku pernah berpapasan dengannya. Ingin kusapa dirinya, tetapi sepertinya dia tidak lagi mengenali. 

Sahabat masa kecilku, bercerita tentangnya seperti menguak masa laluku ketika sekolah dasar. Kesulitanku untuk beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru memang sudah terlihat sejak kecil. Dan dia lah teman pertamaku di sekolah dasar dan mungkin satu-satunya yang paling dekat denganku. Bertahun-tahun berteman, kami sering bermain bersama, mengunjungi rumah masing-masing. Entah sekadar main, atau mengerjakan PR (pekerjaan rumah) bersama. Secara sosial, kami berbeda jauh, tetapi menurutku dia orang yang rendah hati. Dari dia juga aku mulai mengenal Majalah Bobo, buku seri tokoh dunia, dan berbagai jenis musik luar negeri. 

Sahabat masa kecilku, karena dia aku mempunyai banyak cita-cita sewaktu sekolah dasar. Bahkan termasuk pekerjaan yang sama sekali tidak familiar di telingaku. Menjadi wartawan. Walau pada akhirnya sekarang aku ingin menjadi jurnalis atau wartawan. Tentunya jika pada akhirnya aku tidak menjadi psikolog. 

Sahabat masa kecilku, dulu kami pernah menguntai banyak impian yang hingga sekarang masih kuingat dengan jelas. Kami ingin membentuk sebuah band bernama "The Felix". Dia menjadi pemain keyboard, aku menjadi penyanyi. Kami juga pernah bermimpi memiliki sebuah toko buku sekaligus penerbitan buku sehingga kami tidak perlu bekerja sama dengan penerbit manapun untuk menyetok buku di toko buku kami. Walau sekarang menurutku itu hal yang tidak realistis jika hanya penerbit kami yang bukunya dijual di toko buku kami. Di samping toko buku tersebut, kami juga membuka sebuah kedai susu dari kedelai, Tentunya dengan berbagai macam rasa. 

Sahabat masa kecilku, belum selesai kami menguntai mimpi-mimpi lainnya. Belum tuntas kami menyempurnakan kisah semasa sekolah dasar, tiba-tiba dia pindah. Tanpa alasan yang jelas. Aku berusaha menghubungi telepon rumahnya, mendatangi rumahnya, hasilnya nihil. Dia tidak mau tidak ditemui. Entah apa alasannya. Sampai sekarang aku masih tidak mengerti alasannya. 

Sahabat masa kecilku, kami sudah sama-sama besar. Sama-sama mahasiswa semester akhir walau di kampus dan fakultas yang berbeda. Pada awalnya, menemukan akun media sosialnya adalah hal yang menggembirakan untukku. Namun, kegembiraan itu sirna ketika kulihat foto-foto yang terpampang di akun media sosialnya sangat berbeda jauh dengan dia yang dulu. Seringkali membuatku geleng-geleng kepala. Seringkali membuatku bertanya-tanya. Sahabatku, kenapa kamu sangat berbeda dengan yang dulu kukenal. Sahabatku, kenapa kamu begitu cepat berubah seperti orang asing bagiku? 

***
Sumber gambar: di sini

Share this:

0 comments:

Post a Comment