Dilema Anak Pertama



"Ketika kamu lulus nanti, giliran kamu yang membiayai sekolahnya adikmu ya?"-Ibunya Galih (Galih dan Ratna)

Kutipan dalam film "Galih dan Ratna" itu pernah beberapa kali diutarakan oleh Ibu, terlebih ketika aku memasuki masa semester akhir seperti ini. Sebenarnya tanpa diminta pun, sempat ada niat seperti itu, terlebih mengingat aku anak pertama di keluargaku. That's why aku begitu ambisius untuk segera lulus dan wisuda di bulan Mei 2017 ini. Walau akhir-akhir ini sering merasa demotivasi. 

Sebagai anak pertama, bagiku kalimat itu terkadang terlihat sebagai 'beban', terkadang terlihat sebagai 'amanah'. Setiap orangtua pasti mendambakan 'sesuatu' pada anak-anaknya, ingin anak-anaknya menjadi 'orang'. Terlebih pada anak pertama, karena lahir lebih dulu dan menempuh pendidikan lebih dulu. Ada harapan lebih besar yang ditujukan kepada anak pertamanya. Agar sang anak pertama segera menjadi 'orang', segera membantu orangtua untuk membiayai pendidikan adiknya atau menambah pemasukan keluarga. 

Sebagai anak pertama, semakin bertambahnya semester, semakin membuatku sadar untuk tidak selalu bergantung pada orangtua. Terutama terkait masalah finansial. Pun tidak selalu bergantung pada 'bantuan' yang masa berakhirnya jatuh pada semester ini. That's why, beberapa bulan terakhir ini, di semester 8, aku mencoba untuk mandiri secara finansial. Hanya bergantung pada gaji yang kuterima dari menjadi seorang admin. Sehingga aku harus benar-benar menekan pengeluaranku agar tidak membengkak. Namun, baru memasuki bulan ketiga semester kedelapan, ternyata aku tetap 'bergantung' pada orangtua. Walau hal tersebut seringkali membuatku dilema. Ingin minta sangu, tapi kok segan. Tidak minta, gaji semakin menipis dan beasiswa belum kunjung turun. Pada akhirnya orangtua tetap menjadi tempat untuk 'bergantung'. Selain pada Allah tentunya. 

Orangtua dan rumah pun selalu menjadi tempat untuk pulang. Walau beberapa hari ini agak sedih karena harus mengulur-ulur waktu lagi untuk pulang. Puncaknya tadi sore, ketika aku meminta orangtua dan adik untuk ke Jogja. Seketika Ibu panik, dikiranya anak pertamanya kenapa-kenapa, dikiranya anak pertamanya diopname, dikiranya anak pertamanya masuk IGD lagi. Padahal cuma rindu rumah, merasa insecure di perantauan. Ingin pulang, tapi tidak bisa pulang. Saking sok sibuknya.

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments:

  1. Halo mbak salam kenal. Saya kira ini postingan tentang film galih&ratna. Hehehe^^; Mbak nya kuliah sambil kerja? Hebat. Saya pernah nyobain, tapi enggak kuat. Semangat ya mbak! Saya tunggu cerita wisudanya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gegara quote-nya ya? wkwk. Iya, kerja di depan laptop tapi, wkwk. Shappp, semangat juga mba :D Aamiin ya rabbal alamin. Tunggu cerita wisudaku ya :D

      Delete