JSC 2017: Bersama Anak-anak yang 'Menggemaskan'


Bagiku, berinteraksi dengan orang yang baru kukenal merupakan hal yang menakutkan. Bahkan terhadap orang yang sudah kukenal tetapi tidak dekat secara personal, aku dapat merasakan hal seperti itu juga. Seringkali tiba-tiba saja aku merasa tidak aman, bulu kuduk merinding, dan rasanya ingin bergegas dari tempat itu. Seperti halnya ketika menjadi pemandu Jogja School Writing Camp (JSC) yang diadakan Perpustakaan Kota dengan FLP Yogyakarta tanggal 8 Juli kemarin. Ketika sampai di titik kumpul yaitu di Perpustakaan Kota, rasa takut itu mulai bersemayam. Terlebih ketika pertama kali bertemu dengan puluhan anak-anak yang tidak kukenal. Serasa tidak tahu harus bagaimana nanti saat berinteraksi dengan mereka.

Pembukaan dimulai. Satu per satu pemandu telah dipertemukan dengan adik-adiknya. Aku berada di kelompok dua, total ada sepuluh anak yang kupandu. Rasa takut sekaligus canggung itu mulai terasa. Bahkan semakin meningkat ketika aku memberikan co-card sekaligus meminta mereka untuk menuliskan nama di co-card tersebut. Setelah sesi pembukaan di Perpustakaan Kota selesai, aku, peserta, dan panitia lainnya bergegas menuju bus yang telah terparkir di samping Perpustakaan Kota. Kelompokku dan kelompok satu masuk dalam bus pertama. Aku mengecek satu per satu adik panduku, memastikan tidak ada yang tertinggal. 

Bus pun berangkat. Semua kursi telah terisi oleh peserta dan dua panitia lainnya. Jadilah sepanjang perjalanan menuju Hutan Pinus Mangunan aku berdiri. Sempat takut juga karena pintu bus yang terbuka lebar sehingga aku harus tetap berdiri dengan seimbang agar tidak jatuh. Sepanjang perjalanan tingkah polah adik-adik kelompokku dan kelompok satu sangat beragam. Ada yang diam, ada yang tidur, ada yang ngobrol, banyak yang sibuk dengan gawainya, bahkan ada beberapa yang mengajakku bicara. Seseorang di antaranya bercerita dengan seru sekali tentang liburannya di Gunung Bromo, dan untungnya aku pernah ke sana sehingga cukup nyambung saat dia bercerita. 

Sesampainya di Hutan Pinus, mulai kelihatan tingkah laku dan sifat sang adik-adik. Selain hampir semuanya memiliki gawai plus media sosial seperti Instagram, mereka suka sekali berfoto. Beberapa lainnya ada yang kalem, ada yang tidak dapat diam, ada yang usil, ada yang bossy, dan ada yang suka bertengkar. Dan ada yang ganteng (hahaha). Adik-adik panduku termasuk dalam ciri-ciri yang aku sebutkan itu. Bahkan hal yang membuatku cukup terkejut ketika beberapa adik panduku yang tahu lagu-lagu barat semacam Shape of You. 

Acara sesungguhnya pun dimulai. Diawali dengan materi menulis reportase yang disampaikan oleh bu ketua FLP Yogya yang baru. Ketika adik-adik kelompok lain serius mendengarkan, adik-adik kelompokku tidak demikian. Mereka sibuk makan, ngobrol, dan ada juga yang lirih mengeluh tidak ingin mendengarkan materi. Usai materi masing-masing kelompok diberi tugas untuk praktek wawancara dan menulis reportase. Setelah sibuk berdiskusi yang tidak berujung, akhirnya aku memutuskan untuk memberi ide mewawancarai fotografer yang sedang melakukan pemotretan. Aku dan adik-adik pandu berlari mengejar mereka yang sepertinya akan pergi ke destinasi lain. Tepat beberapa langkah sebelum sampai di pintu keluar, kami berhasil mencegat mereka dan mewawancarai dua orang fotografer. Beruntung, mereka orang yang ramah dan mau meladeni kami. Satu per satu pertanyaan mulai dilontarkan oleh adik-adik panduku--yang dibantu olehku juga. Beberapa serius bertanya dan mencatat jawabannya, tetapi ada juga yang tidak dapat menuliskan setiap pertanyaan dan jawaban secara utuh. Namun, dari wawancara itu, cukup menambah wawasanku tentang fotografi dan semakin tertarik dengan dunia fotografi. Kami pun diperlihatkan hasil foto mereka yang ternyata foto pre-wedding. Cukup awkward juga setelah tahu itu, karena adik-adik panduku masih kecil. Usai wawancara, masing-masing peserta diminta untuk menuliskan hasil wawancara tersebut dalam bentuk reportase. Dari situ, mulai terlihat mana adik-adik panduku yang memang tertarik dengan dunia menulis. Ada satu anak yang membuatku kagum, yang bernama Selda karena dia dapat langsung menuliskannya dan hasilnya bagus. Walau beberapa kali dia menanyaiku mengenai penyusunan kalimatnya. 

Sesi selanjutnya yaitu games menyusun puzzle dan dilanjutkan dengan materi tentang mimpi. Di sesi kedua materi ini sangat seru karena semua peserta diminta mencari sebanyak mungkin batang, kayu, ranting yang berserakan di Hutan Pinus. Ternyata semua itu digunakan untuk membuat bangunan yang tinggi dan kokoh. Aku cukup kebingunan karena benda yang dicari adik-adik panduku tidak ada yang setinggi kelompok lain. Akhirnya kami membuat bangunan sekenanya, dan memutar otak agar bangunan itu terlihat kokoh. Namun, ketika pengetesan ternyata bangunan kelompok kami yang satu-satunya roboh. Setelah membuat bangunan, masing-masing peserta diberi balon dan diminta untuk meniupkannya hingga meletus. Beberapa berteriak tidak mau karena takut dengan balon. Termasuk adik-adik kelompokku, banyak yang takut untuk meniup balon, apalagi meniupkannya hingga meletus. Namun, ada satu anak bernama Zaky yang meniup balon hingga besar tetapi tidak meletus-meletus. Beberapa kali dia berhenti meniup karena lelah, tetapi setelah itu dia terus meniupnya. Akan tetapi, sepertinya dia cukup kesal juga karena balon yang ditiup tidak meletus-letus. Aku terus menyemangatinya hingga akhirnya dia berhasil meniup hingga balonnya meletus. Seketika dia terlihat begitu riang dan meminta satu balon lagi kepadaku. Dan satu per satu balon pun meletus, membuat riuh Hutan Pinus. Bagiku pribadi, makna dari sesi meniup balon hingga meletus begitu dalam yaitu bagaimana kita harus melawan rasa takut yang ada dalam diri kita.

Lalu sesi selanjutnya yaitu games menyusun kata. Panitia menugaskan masing-masing kelompok untuk mencari beberapa buah kata yang jika disusun akan membentuk sebuah peribahasa. Masing-masing kelompok mendapat peribahasa yang berbeda dan kelompokku mendapat kalimat "lempar batu sembunyi tangan". Mereka langsung mencari ke sana ke mari hingga akhirnya terkumpul semuanya. Walau bukan kelompok pertama yang berhasil menyusun kata, tetapi terlihat wajah-wajah riang mereka. Selanjutnya, di sesi terakhir semua peserta diminta untuk menuliskan impian atau harapan mereka di kertas origami yang berbentuk daun. Satu per satu adik panduku menuliskan impian mereka. Lalu menempelkannya ke kertas asturo yang telah disediakan. Dan kebanyakan dari mereka menulis cita-cita mereka yang serupa, dokter dan guru. Tertempelnya impian dan harapan itu pun menandakan berakhirnya acara JSC. Agak sedih juga akan berpisah dengan mereka. Walau tingkah polah mereka begitu menggemaskan hingga membuatku harus keluar masuk Hutan Pinus demi menjemput mereka yang sedang asyik jajan. Bahkan beberapa dari mereka berkomentar, "Mbak Rias ki terlalu sabar". Namun, secara keseluruhan aku menikmati acara itu dan keseruan bersama adik-adik panduku. 

Aku berharap semoga kalian semua menjadi anak-anak yang bermanfaat untuk sekitar. Apapun cita-cita kalian itu. Ah, kangen jadinya. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment