#11 Memaknai Ikhlas



Bagiku, ikhlas itu seperti Surat Al-ikhlas yang di dalamnya tidak terkandung kata 'ikhlas'. Simpelnya, ikhlas itu sesuatu yang tidak perlu kita utarakan. Jadi, jika ada yang bertanya padaku, "Kamu ikhlas kan?" Pasti akan selalu kujawab, "Memangnya ikhlas harus diutarakan ya?" Walau pada kenyataannya ikhlas itu tidak sesimpel itu. Banyak pemicu-pemicu yang pada akhirnya membuatku kita tidak ikhlas. 

Bagiku, ikhlas itu erat kaitannya dengan menerima. Sepandai-pandainya kamu menulis prosa, puisi, cerita pendek, flashfiction, fanfiction, atau cerita fiksi lainnya. Lalu kamu membuat ending sesukamu, kamu tetap saja 'tidak akan pandai' menuliskan cerita hidupmu. Karena Sang Pembuat Skenario lah yang sudah mengaturnya, tinggal kita mengusahakan apa yang dapat kita lakukan. Dan dalam hal menerima dengan ikhlas, menurutku itu hal yang tersulit untuk dilakukan. Menerima kenyataan bahwa kamu sakit, menerima kenyataan bahwa apa yang kamu rencanakan tidak selalu mulus untuk dilakukan. Menerimanya dengan ikhlas, tanpa keluhan, tanpa gerutuan. Pasti akan ada satu titik di mana aku akan menyalahkan hal-hal yang membuatku menjadi 'seperti sekarang'. Pasti akan ada satu titik di mana aku terus mengeluh, terus menggerutu hingga orang-orang akan berkomentar, "Kok kamu ngeluh terus sih Yas?" Walau kusadari hal tersebut sebenarnya tidak boleh dilakukan. 

Dalam 6 bulan terakhir ini, selain belajar tentang kesabaran dan kebersyukuran, aku juga 'dipaksa' untuk menerima hal yang terjadi padaku dengan ikhlas. Tidak boleh makan atau minum yang termasuk dalam daftar pantangan makanan dan minuman. Rutin kontrol ke dokter, rutin minum obat. Walau pada akhirnya akan ada satu titik saat aku merasa di titik terendah sehingga membuatku merasa sia-sia minum obat secara rutin. Membuat merasa percuma rutin kontrol ke dokter. Seakan pelajaran kesabaran, kebersyukuran, dan keikhlasan itu tidak pernah kudapatkan. Ketika sudah seperti itu, aku harus kembali menata ulang 'pelajaran-pelajaran' yang telah kuterima tersebut sehingga tidak terlalu membuatku merasa terpuruk. 

Setiap kali ke rumah sakit, aku belajar dari pasien-pasien di sekitar tentang keikhlasan. Mereka mau menerima diri mereka 'yang seperti itu' dengan kuat, tetap tersenyum. Seakan mereka tidak mengalami hal tersebut. Pun setiap kali akan ke rumah sakit, aku harus mempersiapkan diri ketika 'hal buruk' akan terjadi padaku. Seperti saat kontrol ke Poli Saraf kemarin. Usai sang dokter konsultan memeriksaku, seperti biasa beliau menuliskan berbagai macam jenis obat ke selembar kertas resep obat. Satu hal yang membuatku sempat tercengang adalah ketika beliau menuliskan collar neck dalam daftar resep obat tersebut. Sebelumnya, aku hanya melihat perawat di Poliklinik Penyakit Dalam yang memakai sesuatu yang melingkari leher beliau. Saat itu aku merasa takjub karena perawat tersebut sebelumnya tidak memakai 'sesuatu' di lehernya. Kemarin, aku baru tahu 'sesuatu' yang melingkari leher beliau bernama collar neck atau penyangga leher. Lebih lucunya, aku akan memakai collar neck tersebut sebagai salah satu terapi menyembuhkan hyperlordosis cervicalis-ku. Memang, setiap kali keluar dari pintu rumah sakit, banyak hal baru yang kudapatkan. Banyak pelajaran yang kupetik. Salah satunya tentang keikhlasan. Ikhlas menerima keadaan diri yang 'tidak seperti dulu'. Ikhlas bahwa saat-saat tertentu tubuhku akan 'memberontak' karena kelelahan atau aku yang terlalu memaksa diriku untuk terus bekerja. 

Jadi, jika ditanya apakah aku ikhlas menerima diriku yang sekarang? Lagi-lagi aku akan menjawab, "Ikhlas tidak perlu diutarakan kan?"

Share this:

0 comments:

Post a Comment