#4 Menahan Rindu



Kata kebanyakan orang, pertemuan adalah obat dari sebuah kerinduan. Kata Eka Kurniawan, dalam salah satu judul novelnya, 'seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas'. Nyatanya, bagiku tidak semua pertemuan adalah obat dari kerinduan. Justru membuatku semakin sesak layaknya cinta tak terbalaskan. 

Rindu. Menahan rindu selama berbulan-bulan setelah jatuh hati padanya bertahun-tahun memang begitu sesak. Layaknya tokoh 'aku' dalam salah satu cerita pendek di buku "Rectoverso", yang hanya dapat melihat punggung si lelaki yang disukainya. Aku pun begitu, hanya dapat melihatnya dari kejauhan. Hanya dapat membaui aromanya yang menguar tanpa disuruh. Hanya dapat menikmati aromanya di kamar mandi. Tanpa dapat lagi meneguknya. 

Rindu. Menahan rindu kepada kopi sama halnya menahan kerinduan pada orang terkasih yang tak mengasihi. Ingin bertemu , tapi harus menjauhi. Ingin bersama, tapi tidak diperbolehkan. 

Berbulan-bulan rasa rindu pada kopi ini kupendam. Ingin sekali kubayar tuntas, tapi aku tidak ingin menanggung konsekuensinya. Berbulan-bulan aku hanya dapat menikmati aroma kopi di kamar mandi kampus. Berbulan-bulan aku hanya dapat menahan air liurku untuk tidak menetes ketika seorang kawan meneguk kopi di depanku. Berbulan-bulan aku hanya dapat berteriak dalam hati ketika seorang kawan mengajak minum kopi bersama. 

Rinduku pada kopi begitu sesak, sesesak jika aku meneguknya. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment