#6 Failure



Bercerita mengenai kegagalan terbesar, sejujurnya aku bingung kegagalan terbesar apa yang pernah kualami. Seperti kebanyakan orang, aku merasa gagal--sekaligus kecewa--ketika pengharapanku tidak menjadi kenyataan. Dan sejauh ini sejujurnya ada beberapa hal yang membuatku merasa gagal. 

Kegagalan pertama, menjadi 'anak yang baik'Kalau dilihat dari luar, kebanyakan orang pasti akan menilaiku sebagai 'a good girl', anak yang manis dan patuh kepada orangtua. Padahal terkadang aku merasa menjadi seorang anak yang rebel, anak yang super ngeyel dan keras kepala. Sekalipun tidak boleh naik gunung, sekalipun tidak boleh ke Bekasi sendirian. Aku tetap akan naik gunung, aku akan tetap ke Bekasi sendirian. Walau ya, terkadang hal tersebut membuatku gagal menjadi seorang anak yang baik dan penurut. Kegagalan lainnya mungkin saat aku masih SMP Ibu 'sakit' dan aku merasa gagal karena tidak dapat menjaga beliau hingga beliau harus merasakan 'sakit' yang seperti itu. 

Kegagalan kedua, menjadi mahasiswa Akuntansi. Sejak SMP aku sudah berambisi untuk menjadi akuntan. Setelah SMA dan ternyata aku masuk jurusan IPS, tekadku untuk mengambil jurusan Akuntansi ketika kuliah semakin bulat. Sayangnya, ketika hari pengumuman SNMPTN tiba, ternyata aku justru diterima di Psikologi, pilihan kedua. Awal kuliah, sebenarnya aku masih belum terima hingga semester kedua aku memutuskan mendaftar SBMPTN. Walau pada akhirnya aku tidak jadi mendaftar SBMPTN karena tidak diperbolehkan oleh orangtua. Namun, setelah hampir empat tahun menjadi mahasiswa Psikologi, aku mendapat berbagai pelajaran berharga. Baik ketika kuliah, maupun di organisasi, yaitu 'memanusiakan manusia'. Beberapa orang yang tahu aku anak Psikologi, ternyata mereka juga pernah mendaftar Psikolog, tetapi tidak diterima. Dari situ, aku semakin merasa bersyukur karena Allah mengarahkanku ke Psikologi. 

Kegagalan ketiga, menjadi 'penanggung jawab'. Aku memang orang yang sulit untuk berbaur dengan orang dan lingkungan yang baru. Apalagi menjadi seorang pemimpin. Setahun lalu ketika aku ditunjuk menjadi 'penanggung jawab', aku langsung tidak yakin dengan softskill leadership-ku. Dan nyatanya, menuju penghujung kepengurusan, aku memang gagal menjadi seorang penanggung jawab. Sampai sekarang aku masih merasakan perasaan bersalah tersebut. Namun, hikmah yang dapat kuambil adalah menyatukan berbagai macam orang yang berbeda itu sulit tetapi bukan berarti tidak mungkin. Selain itu, aku jadi tahu seberapa besar komitmen seseorang terhadap 'rumah' yang dipilihnya.  

Kegagalan keempat, menjaga diri. Aku gagal menjaga diriku hingga akhirnya mengalami penyakit yang membuatku bergantung pada obat. Selain itu, aku gagal menjadi diriku dalam konteks perasaan. Sejujurnya, saat masuk kuliah aku sudah bertekad untuk hijrah. Salah satu caranya dengan mengikuti lembaga dakwah kampus agar aku mendapat lingkungan baik untuk membuatku menjadi lebih baik juga. Namun, hijrah-ku sepertinya baru setengah-setengah. Aku sulit menjaga hati, menjaga diri. Dan sejujurnya hal tersebut memang hal tersulit untuk dilakukan. Hikmah yang dapat kuambil yaitu sebaik apapun lingkunganmu, kalau kamu tidak dapat menjaga diri, ya percuma. Akan tetapi, bukan berarti kita tidak usah masuk ke dalam lingkungan yang baik. Hal yang terpenting adalah ke-istiqomah-an kita dalam memperbaiki diri.  

***
Sumber gambar: di sini

Share this:

0 comments:

Post a Comment