Tentang Pertemuan


Ada sebuah jumpa tanpa pertemuan berujung pada sebuah kedekatan denganmu. Aku tidak pernah tahu kapan ini bermula, namun yang kutahu, perlahan perasaan ini mulai tumbuh dan semakin mendalam.
Perasaan yang sama turut bersemayam di dadaku. Melahirkan kehangatan yang jalar ke seluruh tubuh. Rindu, katamu. Cinta? Entahlah. Mungkin kita terlalu jauh untuk itu.
Pun aku. Tak berani mendefinisikan perasaanku padamu. Satu hal yang pasti, diam-diam aku mencuri bahagia untuk disematkan di bibirku setiap kali pesan darimu singgah di kepalaku. Melalui percakapan kita menyulam rasa.
Terkadang penyendiri sepertiku benci bila kegelapan terus menyelimuti. Dan kamulah, cahaya yang menerabas jaring-jaring sunyi. Ya, aku suka percakapan yang terlahir di antara kita. Hadir sebagai penghangat di antara dingin malamku.
Aku tahu itu, Tuan. Aku hanyalah seberkas cahaya yang menerangi kesunyianmu. Tapi bukan untuk menerangi ruang di dalam hatimu. Bukan pula untuk memiliki raga dan segalamu.
Denganmu, aku sungguh merasakan hal yang berbeda. Tentang langkah yang sejajar, tapi ragu mendefinisikan hari-hari yang kita lalui. Kita dekat, tapi fana.
Pun semu. Kedekatan itu pada akhirnya membentuk sudut perasaan yang kemudian hanya terasa olehku. Tidak pula olehmu—yang bahkan meragu.
Mungkin, hanya sampai di sana batas di mana kita bisa melangkah. Karena takdirlah yang mempersatukan. Sejauh apa pun kamu berusaha, ketika tiba masanya untuk berhenti; berhentilah.
Mempersatukanmu dengannya—seseorang yang lain itu? Bahkan aku takmengenal dirinya. Seseorang yang tiba-tiba menjadi pencuri hatimu. Seseorang yang mencipta spasi di antara kita.
Setiap hati yang terluka akan terobati oleh rasa yang alir di dalam dada. Denganmu aku bahagia. Namun memilikimu, aku takbisa. Sekalipun hatiku hangat olehmu; nyatanya dia memilih yang lain.
Semudah itukah hatimu tertambat? Memilih seseorang yang lain ketika denganku, kamu merasakan bahagia?
Inilah teka-teki yang membuatku kelu sampai detik ini. Bisa jadi kita tidak menyepakati definisi bahagia yang sama. Dan untuk itu, aku lebih memilih apa yang hati katakan tentang sebuah keputusan. Meski berujung pada dada yang menyesak.
Tidak ada pilihan yang menyesakkan, Tuan. Terlebih jawabanmu telah terbit; dan kutahu itu bukan aku. Bersikaplah tegas dengan apa yang hatimu telah tetapkan.
Dan, ya, mungkin itulah makna sebuah pertemuan; ia lahir bersama perpisahan: kamu. Sekarang, berhentilah sejenak. Mari nikmati senja untuk terakhir kalinya.
Kini semuanya sudah jelas; kita ditakdirkan untuk berpisah. Seperti senja yang tengah kita nikmati ini. Indah dan sendu; ketika ia harus kembali ke peraduannya. Harapku, malam kelak tak kelam; layaknya dadaku yang mulai kehilangan sinarnya.
Semoga, Puan. Kamu menemukan seseorang yang tepat untukmu. Yang menghadirkan bahagia di semestamu tanpa air mata kesedihan. Sampai jumpa di lain waktu.
Yogyakarta — Jakarta
11 Agustus 2017 | #KolaborasiAgustus edisi 3
Sebuah kolaborasi tentang pertemuan,

Share this:

0 comments:

Post a Comment