Kataomoi (2): Pintu Tak Terkunci



Kamu tahu, aku tipikal orang yang mudah jatuh hati. Membiarkan pintu ruang hati terbuka lebar. Membiarkan siapapun dapat masuk dalam ruang hati. Dengan begitu seenaknya. Terkadang sesaat. Berganti dari satu lelaki ke lelaki lain. Terkadang menetap. Hingga bertahun-tahun enggan kukeluarkan dari ruang hati. Meski cerita kami sudah lama usai. Meski dia sudah memiliki pemilik ruang hatinya.

Kamu tahu, aku tidak suka mengunci pintu. Entah pintu kamar atau pintu rumah. Meski aku selalu menutupnya, tetapi tetap saja aku selalu lupa untuk mencabut kunci pintu yang masih menggantung di luar. Tidak heran jika seringkali Ayah dan Ibu menegur kebiasaan burukku tersebut. Kunci pintunya jangan digantung di luar Nak, tegur ibu. Aku hanya mengangguk sembari mengulas senyum.


Mungkin itu sebabnya aku mudah jatuh hati. Pintu ruang hatiku tidak pernah kukunci dari dalam. Hanya kututup. Bahkan kunci pintu ruangnya kubiarkan tergantung di luar. Entah karena lupa atau aku malas untuk mencabutnya.


Kamu enak ya, gampang buat suka sama orang, ujarmu usai mendengar cerita tentang laki-laki yang sedang kusuka. Dan laki-laki ke sekian yang pernah kuceritakan kepadamu. Namun, kamu tahu, itu sama sekali tidak enak. Membiarkan siapapun masuk dalam ruang hati. Lalu seenaknya mencuri hati. Lalu menerka apakah pintu ruang hatinya sudah terbuka untukmu. 


Hingga dia menetap begitu lama. Mengendap ke dalam pikiran. Mengusik kehidupan. Berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lamanya. 


Hingga kamu hanya dapat meringkuk di ruang hati yang kamu miliki. Menyimpan sendiri kesedihan dan perasaan yang selama ini kamu pendam. Menyadari bahwa kamu tidak pernah sekali pun mampu masuk ke dalam ruang hatinya. Pintu ruang hatinya telah tertutup bahkan terkunci rapat untuk seseorang lainnya. Bukan untuk kamu.


Kamu tahu, itu sama sekali tidak enak. Terlebih ketika seseorang yang sedari kuceritakan adalah seseorang yang sedang ada di depanku. Seketika kamu terpaku. Urung meneguk kembali es cappucino yang kamu pesan. Meletakannya kembali ke meja.


Dan detik selanjutnya kita larut dalam keheningan yang kita buat sendiri. 

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments:

  1. Ceritamu bikin makdeg maktratap kalo kata orang ndeso, kak Rias :| hahaha

    ReplyDelete