Andai Bumi Dapat Berbicara




Aku menatap sekelilingku. Sampah berserakan di mana-mana. Di jalan, di taman, di pemukiman, di selokan, di sungai, bahkan di tepi pantai. 

Aku mendengar sekelilingku. Bencana terjadi di mana-mana. Lalu kubertanya, “Apakah itu murni kesalahan alam. Ataukah, ada campur tangan manusia di dalamnya?” 

Aku mendengar sekelilingku. Pohon-pohon ditebang. Hutan-hutan tak lagi menghijau. Sawah-sawah, hutan-hutan berganti. Tergantikan dengan perumahan, apartemen, dan gedung-gedung bertingkat lainnya. 

Aku membaui sekelilingku. Asap-asap mengepul. Asap-asap merangsek masuk ke rongga hidung, ke rongga tenggorokan. Sesak. Lalu kubertanya lagi. Pertanyaan yang sama. Pertanyaan retoris. 

Andai bumi dapat berbicara, apakah dia akan terus diam melihat penduduknya? Andai bumi dapat berbicara, kurasa dia akan berteriak. “Wahai penduduk bumi, jangan rusak diriku!” 

Andai bumi dapat berbicara, kurasa dia akan memohon, bahkan memelas pada penduduknya. “Tolong jaga diriku, tolong jaga alam agar tetap murni seperti seharusnya.” 

Andai bumi dapat berbicara, kuyakin dia akan berteriak pada penebang liar. “Jangan tebang pohon-pohonku. Jangan rusak hutan-hutanku.” 

Andai bumi dapat berbicara, kuyakin hanya kesedihan yang dia ceritakan kepada penduduknya. Mengeluh atas apa yang diperbuat oleh penduduk kepadanya. 

Andai bumi dapat berbicara, kuyakin dia akan merasa iba dengan tingkah kita. Tingkah kita yang merusaknya tetapi tidak sadar jika merusaknya. Tetap bertingkah meski berbagai bencana menerpa. 

Andai bumi dapat berbicara, kuyakin dia akan memberontak. Andai bumi dapat melakukan sesuatu hal, kuyakin dia akan membalas semua perbuatan penduduk. Namun, sayang, dia begitu sayang dengan penduduknya. Teramat enggan membalas perbuatan kita yang tidak menjaganya. 

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments:

  1. Andai bumi dapat berbicara, dia akan menegur manusia yang membuang sampah sembarangan :)

    ReplyDelete