#4 Menerbitkan Novel



Salah satu keinginanku terbesar di tahun 2016 yang ingin (sekali) kuwujudkan di tahun 2017 adalah menerbitkan sebuah novel. Hanya itu. Tidak ada jawaban lain. Jadi, untuk memperpanjang post ini lebih baik kulampirkan sekilas prolog draft novelku. Ya, sepertinya masih berantakan dan memang harus lebih banyak belajar, lebih banyak membaca dan menulis. 

***
Sebuah Prolog
Riuh rendah tepuk tangan para penonton terdengar hingga ruang tunggu para pengisi acara. Membuat jantungku semakin berdegup kencang. Malam ini memang bukan pertama kalinya aku mengisi suatu acara musik. Namun, ini malam pertama aku berperan sebagai seorang konduktor, menjadi pemimpin dalam suatu grup orkestra. Aku berkali-kali mematut diri di kaca, merapikan dasi kupu-kupu yang telah rapi.

“Deg-degan ya?” tanya Reva, salah seorang violis dalam grup orkestra kami.

“Ah, nggak kok. Biasa aja.” Aku pura-pura menutupi rasa gugupku di hadapan Reva.

Reva tertawa melihatku yang sangat terlihat gugup tetapi pura-pura agar tidak terlihat gugup. “Ya sudah kalau gitu. Good luck ya buat kita.”

Aku mengangguk. Sukses buat kamu juga, Rev.

Suara tepuk tangan para penonton kian lama kian melemah. Berganti dengan suara sang pembawa acara.

“Selamat malam para hadirin serta para tamu undangan yang telah berkenan menyempatkan waktunya untuk menghadiri acara peresmian gedung baru ini. Selamat malam juga bagi perwakilan mahasiswa yang telah hadir di acara ini. Setelah beberapa sambutan telah disampaikan, maka acara selanjutnya yaitu penampilan dari grup orkestra universitas tercinta kita ini.”

Suara tepuk tangan para penonton kembali menggema dan terdengar jelas dari belakang panggung. “Langsung saja, mari kita sambut Harmony Orchestra.

Perlahan aku mulai melangkah diiringi suara tepuk tangan ini. Badanku kutegapkan, wajahku kutegakkan menghadap arah penonton. Seulas senyum tersungging dari bibirku. Samar-samar kulihat bayangan Ayah tengah duduk di kursi penonton paling depan. Senyumnya begitu lebar membalas senyumku. Senyum yang teramat jarang kulihat.

Seketika kenangan bersama Ayah pun kembali berputar. Saat usiaku baru saja memasuki tiga tahun, Ayah mulai mengenalkanku dengan piano. Ayah mulai sering mengajakku duduk di sampingnya saat Ayah bermain piano. Permainan piano Ayah begitu indah. Tidak usah diragukan lagi kemampuan Ayah dalam bemain piano. Berbagai penghargaan telah Ayah raih, berbagai festival pun telah Ayah menangkan.

“Yah, aku juga ingin bermain piano seperti Ayah.” Ayah menghentikan permainan pianonya lalu menatap wajah polosku yang telah berusia 4 tahun. Kulihatnya matanya begitu berbinar saat mendengar pintaku.

Tanpa banyak bicara, Ayah menarik pelan kedua tanganku yang masih mungil. Lalu Ayah meletakkan kedua tanganku Ayah di atas tuts piano. Aku kebingungan karena baru pertama kali menyentuh tuts piano Ayah.

“Nanti ikutin Ayah ya, Nak.”

Aku mengangguk mantap. Tentu saja, Yah.

Ayah kembali memainkan jemarinya di atas tuts piano. Mulai memainkan lagu Twinkle-twinkle Little Star. Aku yang masih terlalu kecil gelagapan mengikuti permainan Ayah yang sudah sangat mahir. Ayah tertawa lebar melihat jariku yang tidak bergerak.

Aku hampir saja menangis karena tidak dapat memainkannya. Namun, tiba-tiba saja Ayah menyentuh kedua tanganku. Ayah kembali memainkan piano, kali ini jariku ikut menyentuh tuts piano. Seirama dengan permainan Ayah. Aku tersenyum ke arah Ayah karena bisa bermain piano bersamanya. Ayah pun membalas senyumku dengan sangat tulus.

Esoknya aku kembali diajak Ayah bermain piano. Kali ini Ayah mengajariku memainkan tangga nada. Mulai dari do rendah ke do tinggi. Ayah mengajariku dengan sangat sabar. Hari-hari berikutnya aku hanya memainkan tangga nada, bukan lagu milik siapapun. Dua kali dalam sehari, berulang kali hingga tidak terasa satu tahun telah berlalu. Dan aku hanya dapat memainkan tanga nada.

“Yah, bosen. Masa dari dulu mainnya do, re, mi, fa, sol, la, si, do doang Yah,” protesku kepada Ayah.

“Suatu saat nanti kamu akan tahu manfaatnya Nak.”

Aku tidak mengerti apa yang dimaksud Ayah. Aku pun semakin kesal karena hari selanjutnya aku tetap memainkan tangga nada saja.

Tidak terasa air mataku perlahan mulai menetes. Pipiku mulai basah. Kenangan tentang Ayah seakan masih terasa hingga sekarang. Dan tentu saja kenangan itu sulit terhapus dalam memoriku.

Aku mengusap kedua mataku yang telah basah. Bayangan Ayah yang tadi tengah duduk di kursi paling depan pun menghilang. Berganti dengan wajah-wajah bingung dari para penonton serta pemain musik grup orkestraku.

Aku melirik sekilas ke salah satu pemain piano.

Aku menganggukkan kepala perlahan, memberi kode kepada salah satu pemain piano itu. Siap? Pemain piano itu pun menganggukan kepalanya dengan mantap.

Aku kembali melihat ke arah penonton. Membungkukkan setengah badanku, memberi hormat kepada para penonton yang telah datang. Lalu aku membalikkan badan. Kuangkat kedua tanganku ke atas.

“Satu…dua…tiga…. Mulai,” ujarku pelan sambil mengangkat tangan kananku yang menggenggam baton.

Share this:

0 comments:

Post a Comment