Menatap Keluh

“Kamu terus saja mengeluh Rise!” Seketika makianku membuatnya terpaku menatap layar laptop. Membuatnya berhenti menulis. Di saat-saat seperti ini, aku lebih suka memanggil nama penanya, Rise. Nama yang terdengar maskulin untuk ukuran perempuan sepertinya.
Tanpa menunggu makian keduaku datang, dia pun mendongakkan kepalanya. Menatap langit. Bukan padaku. “Apa maksudmu?”
“Lihat! Lihat dirimu! Apa yang kamu tulis dan apa yang sebenarnya kamu rasakan dan pikirkan sangat kontradiktif. Tulisan-tulisanmu memperlihatkanmu yang begitu kuat, tangguh, dan tabah. Tulisan-tulisanmu seakan menguatkan orang lain. Padahal, nyatanya tulisan-tulisanmu hanya kamuflase atas apa yang sebenarnya kamu rasakan dan pikirkan. Sebenarnya tulisan-tulisanmu hanya untuk menguatkan dirimu sendiri kan? Bukan untuk menguatkan orang lain?” 
Dia terdiam. Menundukkan kepalanya. Tidak lagi menatap langit biru yang kutahu kontradiktif dengan hatinya. 
“Tapi...coba kamu lihat dirimu. Kamu terus saja mengeluhkan penyakitmu. Coba, coba hitung dalam satu hari ini sudah berapa kali kamu mengeluh?” Dia semakin dalam menundukkan kepalanya. 
Demi melihat wajahnya yang semakin sendu, amarahku perlahan mereda. Kembali duduk di sampingnya. Dan kini hanya keheningan yang setia menemani kami. 
Perlahan dia kembali mendongakkan kepalanya. Sekejap kemudian segera menutup laptop kesayangannya. Benda yang tidak pernah lepas barang satu detik saja. Seketika dia menatap lamat wajahku. Aku tergugu demi melihat wajahnya yang sendu. Matanya pun berkaca-kaca, menahan tangis. 
“Kamu...apakah kamu tahu rasanya berbulan-bulan meminum obat-obat ini?” Entah kenapa tiba-tiba saja dia mengeluarkan sebungkus plastik putih. Mengeluarkan obat-obat yang selama beberapa bulan ini dikonsumsi. Obat-obat yang sama, hanya dosisnya semakin lama semakin bertambah. 
Aku tertegun melihat  tangannya yang begitu kuat menggenggam obat-obat itu. Bahkan meremas obat-obat itu. Aku begitu jerih melihatnya. 
Aku menggeleng. "Tidak tahu, tapi..."
"Lihat, kamu saja tidak tahu bagaimana bosannya aku mengonsumsi obat-obat ini selama berbulan-bulan. Obat-obat yang bahkan tidak kunjung membuatku sembuh." Tidak seperti biasanya dia menyelaku. Wajahnya sudah memerah padam. Matanya mengguratkan sinar kemarahan. Aku pun mengalah, amarahku seketika sirna, nyaliku begitu ciut untuk kembali memakinya. 
Sedetik kemudian tangisnya pecah. Bulir-bulir air mata membasahi pipi merahnya, membasahi kerudung biru donker favoritnya. Kali ini, aku sungguh-sungguh merasa iba kepadanya. Aku sungguh tidak tega melihat sahabatku terlihat begitu kesakitan. Tiba-tiba aku merasa sesak. Membuncahkan perasaanku. 
"Reva...sebenarnya aku takut sekali...," katanya terisak, sembari mengusap kedua matanya yang basah. Aku diam, memasang telinga lebar-lebar untuk mendengar keluhnya. 
"...aku takut sekali tidak akan sembuh. Aku takut sekali kematian akan semakin mendekatiku, sementara aku belum siap akan kedatangannya. Aku sungguh bosan dengan obat-obat ini. Aku sungguh bosan mengonsumsinya setiap hari tanpa jeda sehari pun. Aku bosan kontrol tiap minggu, kontrol tiap bulan. Aku bosan Rev." Dia bicara tanpa henti, sungguh-sungguh membuatku memosisikan diri sebagai pendengarnya yang baik. Dia bicara sembari terisak, sesekali mengusap matanya, sesekali menyeka hidungnya. 
Aku diam, tidak menanggapi keluhnya. Sengaja, agar dia dapat menangis sepuasnya dan mereda dengan sendirinya. Satu menit, lima menit, sepuluh menit, tangisnya masih menderas. Limabelas menit kemudian tangisnya mulai mereda. Kini saatnya aku bicara. 
"Rise, aku mungkin tidak tahu persis bagaimana bosannya meminum obat selama berbulan-bulan. Aku juga tidak tahu persis bagaimana sakitnya kamu saat keluhan-keluhan itu menderamu. Tapi aku yakin kamu memang perempuan yang kuat untuk menghadapi ini semua..."
Perlahan dia menyeka air matanya. Masih ada sisa tangis yang terdengar sesenggukan. Aku menepuk pelan pundaknya. 
"Seperti yang kamu tulis di tulisan-tulisanmu, semua yang kamu alami sekarang telah ditakdirkan oleh-Nya agar kamu lebih banyak bersabar dan bersyukur. Agar kamu sadar bahwa banyak orang yang lebih tidak beruntung dibanding kamu. Kuyakin Allah telah merencakan hal yang indah di balik semua ini. Walau harus melalui penyakit yang sedang kamu derita."
Dia menoleh ke arahku, menatapku lekat. Dia tersenyum tipis, sisa tangisnya masih terlihat jelas. Aku tersenyum lebar, membalas senyum tipisnya. Aku menatap langit lalu kupejamkan kedua mata. Menguntai banyak doa untuk sahabatku. "Syafahallah. Ya Rabb, berilah kesembuhan untuk sahabatku. Kuatkanlah kesabarannya dalam menghadapi semua ini. Kuyakin skenario-Mu sangat indah untuknya."

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments:

  1. mungkin kurang lebih sama seperti mbak rias:) saya alami sendiri saat ini 'maksud' dari tulisan mb diatas:) terkadang terbesit 'sampai kapan saya harus menunggu untuk segala kemungkinan dengan penyakit yang Allah berikan?' 'berapa hari?berapa tahun?berapa lama lagi saya bertahan?' namun kembali lagi, kalau ingat semuanya itu punya Allah, saya sedikit lega. saya lemah, dan Tuhan saya sangat Kuat. kenapa saya harus takut?kan yang ciptain kita kuat, jadi kita bisa dilindungin dong.. gmn caranya? minta hehehe.. minta dengan sungguh sungguh biar disayang sama Allah. biar Allah ambil kembali rahmat sakit kita. hehe
    ya pokoknya syafakillah mb rias RISE. RISE. RISE AND SHINE WITH ALLAH :D

    oh ini Mb rias, izin share ya:) semoga bermanfaat, kalaupun mb rias sudah pernah membacanya, semoga tidak mengurangi kebermanfaatanya.. Amin

    1. KITA BERTANYA: MENGAPA AKU DIUJI?
    QUR'AN MENJAWAB:
    "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"Kami telah beriman", sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."
    [Surah Al-Ankabut ayat 2-3].


    2. KITA BERTANYA: MENGAPA UJIAN SEBERAT INI?
    QUR'AN MENJAWAB:
    "Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya,"
    [Surah Al-Baqarah ayat 286].

    3. KITA BERTANYA: MENGAPA AKU MERASA FRUSTRASI?
    QUR'AN MENJAWAB:
    "Janganlah kamu bersikap lemah. dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman."
    [Surah Al-Imran ayat 139].

    4. KITA BERTANYA: BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?
    QUR'AN MENJAWAB:
    "Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan shalat; dan sesungguhnya shalat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyu
    [Surah Al-Baqarah ayat 45].

    5. KITA BERTANYA: APA YANG AKU DAPAT DARIPADA SEMUA INI?
    QUR'AN MENJAWAB:
    "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri, harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka."
    [Surah At-Taubat ayat 111].

    6. KITA BERTANYA: KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
    QUR'AN MENJAWAB:
    'Cukuplah Allah bagiku,tidak ada Tuhan selain dari-Nya. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal."
    [Surah At-Taubat ayat 129].

    7. KITA BERKATA: AKU TAK TAHAN!!!!!!
    QUR'AN MENJAWAB:"......dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir."
    [Surah Yusuf ayat 12] .

    ReplyDelete