Kalau Rezeki



Kalau rezeki pasti tidak akan ke mana. Mungkin kita sering mengatakan demikian sambil lalu bahkan tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Namun, jika dipahami, kalimat itu memiliki makna yang mendalam. Bagiku saat kita mengatakan kalimat itu dengan sungguh-sungguh, berarti kita pasrah dan ikhlas menerima setiap takdir yang telah dirancang-Nya. 

Kalau rezeki pasti tidak akan ke mana. Aku pernah kehilangan e-KTP. Namun, saat aku telah memiliki KTP yang baru. Saat aku sudah lupa kalau e-KTP-ku hilang, dua bulan setelahnya aku kembali dipertemukan dengan e-KTP-ku yang hilang. Ternyata selama dua bulan itu orang yang menemukan e-KTP-ku menyimpannya dengan baik. 

Kalau rezeki pasti tidak akan ke mana. Setelah tahu kalau KAI menyediakan tiket go show, aku tidak pernah memesan tiket pulang dari jauh-jauh hari. Membuatku menanamkan mindset, "Tenang, pasti dapat kok. Kalau rezekinya naik kereta pasti bakalan naik kereta." Dan benar saja, pernah suatu hari aku kehabisan tiket karena baru tiba di loket pembelian tiket lima menit sebelum kereta berangkat. Lalu pada akhirnya tidak jadi pulang dengan kereta dan terpaksa menaiki bus, kendaraan yang sebenarnya kurang kusukai karena suasananya yang membuatku tidak nyaman. 

Kalau rezeki pasti tidak akan ke mana. Hari itu, rencananya pagi harinya aku ke RSA, lalu kalau selesai aku bergegas ke RSUP Dr. Sardjito untuk mendaftar endoskopi. Ternyata hari itu aku begitu dimudahkan. Walau masih menunggu berjam-jam di RSA, siangnya aku dapat ke Sardjito untuk mengurus endoskopi. Bahkan saat jam 2 ke gedung bedah lantai 4, jam seharusnya pendaftaran ditutup, aku masih dapat mendaftar endoskopi. Bahkan untuk endoskopi keesokan harinya (tanggal 4 Januari kemarin). 

Kalau rezeki pasti tidak akan ke mana. Saat temanku kehilangan kunci motor usai dari kosku,. Saat di manapun tidak ketemu, ternyata kunci itu ditemukan di kloset kamar mandi. Benar-benar hanya terlihat ujung kuncinya. Mungkin satu siraman air lagi akan membuat kunci itu benar-benar hilang. Lalu temanku mengambil kunci itu dengan hati-hati agar tidak masuk terlalu dalam ke dalam kloset. Kalau dipikir-pikir, di dunia ini banyak kejadian-kejadian yang merupakan hasil dari rumusan kalau rezeki pasti tidak akan ke mana. 

Kalau rezeki pasti tidak akan ke mana. Tidak seorang pun yang tahu apa yang Allah rencanakan kepadanya. Bagaimana takdirnya, bagaimana masa depannya. Terkadang Allah ingin menguji keikhlasan kita dengan menghilangkan barang yang menurut kita penting dan berharga. Apakah kita akan terus meratapi kehilangan itu atau mencoba mengikhlaskan? Dan ajaibnya, saat kita sudah melupakan barang yang hilang tersebut, Allah justru mengembalikan barang tersebut melalui perantara orang lain. Kalaupun tidak ketemu, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. 

Kalau rezeki pasti tidak akan ke mana. Mungkin rumusan ini juga dapat diterapkan dalam hal jodoh. Kita pun tidak ada yang tahu siapa yang akan menjadi jodoh kita. Seperti yang pernah dikatakan temanku beberapa waktu yang lalu, seberapa keras pun kita mengusahakan seseorang, kalau tidak berjodoh ya tidak mungkin bisa bersatu. Dan aku sangat menyetujuinya. Seperti halnya kita menggenggam pasir begitu erat, lambat laun pasir itu akan lepas dari genggaman kita. 

Kalau rezeki pasti tidak akan ke mana. Rumusan itu sejatinya erat kaitannya dengan takdir. Sering kali kita mempertanyakan takdir, menerka masa depan, penasaran sekali akannya. Hingga membuat kita lupa akan ikhtiar yang seharusnya kita lakukan. Lupa bahwa setelah itu seharusnya kita berdoa, memasrahkan diri pada takdir. Lupa untuk ingat bahwa kalau rezeki pasti tidak akan ke mana. Karena kita terlalu asik menerka, kita terlalu asik mempertanyakan takdir. Hingga pada akhirnya lupa bersyukur untuk hari ini. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment