#17 Mengapresiasi Karya

Tema hari ke-17 ini adalah bagaimana caraku menikmati pameran seni? 



Mendengar kata pameran seni, entah kenapa aku langsung teringat pada Pasar Seni yang diadakan sivitas akademik FSRD ITB. Pasar seni yang pada 2014 lalu, aku dan temanku ingin sekali kunjungi, tetapi berakhir dengan wacana. Dan pada akhirnya aku hanya mendengar dan membaca cerita tentang Pasar Seni ITB yang ramai dan sesak oleh para pengunjung. Semoga ada kesempatan untuk merasakan keramaian itu, yang entah kapan. 

Aku suka mengunjungi pameran seni, walau tidak sepenuhnya memahami seni. Namun, aku suka sekali melihatnya. Biasanya aku akan mengitari semua ruangan, melihat semua yang terpajang. Beberapa kali terpaku jika ada karya yang membuatku sangat menarik. Menatap takjub pada karya itu. Lalu mengabadikannya dalam lensa kamera.



Menurutku, seni apapun sama seperti menulis, timbul dari keresahan dan kegelisahan si pembuatnya. Masing-masing orang memiliki bakat dan minat yang berbeda sehingga menuangkan keresahan dan kegelisahan itu dengan media yang berbeda pula. Pelukis dengan lukisannya, pemusik dengan lagunya, pembuat film dengan filmnya, dan penulis dengan tulisannya. Apapun itu, sebuah karya harus dihargai, diapresiasi dengan baik, dan diberi kritik yang membangun. Salah satunya dengan mendatangi sebuah pameran dan menaati setiap peraturan di dalamnya. 

Terkadang lucu kalau membaca komentar-komentar negatif di Youtube tentang sebuah lagu atau film. Sekadar nyinyir, menghujat, tanpa lebih dulu memberi apresiasi yang positif terhadap karya tersebut. Padahal tidak semua orang mau dan mampu membuatnya. Pun saat bertandang ke sebuah pameran buku beberapa hari yang lalu, beberapa pengunjung terlihat menaruh kasar buku tersebut. Menjatuhkannya begitu saja ke tempat semula, bukan dengan menaruhnya secara perlahan. Hal miris lainnya saat dulu tidak sengaja melewati koridor fakultas tetangga dan menemukan buletin yang saat itu masih dalam kepengurusanku tergeletak begitu saja di lantai koridor. Miris sekaligus sedih. Andai mereka tahu perjuangan mencetak satu eksemplar buletin itu. 

Apapun itu karyanya, di manapun karya itu terpajang, salah satunya di pameran seni. Seharusnya kita bisa menghargainya. Bukan sekadar dengan nominal uang, tetapi cukup memberi apresiasi positif, kritik membangun, dan menjaga sebuah karya ketika kita membeli atau diberi karya tersebut.

***
Sumber gambar: di sini 

Share this:

0 comments:

Post a Comment