#6 Iklan di Bulan Ramadhan



Hal-hal apapun yang berhubungan sama orangtua pasti memiliki kesan tersendiri. Entah cerita, lagu, bahkan iklan. Apalagi saat kita membaca, mendengarkan, dan melihat itu di perantauan. Rasanya ingin bergegas ke rumah dan bertemu orangtua. 

Ingat sekali waktu tahun pertama kuliah, dan tahun pertama juga menjalani hari pertama hingga hari kelimabelas Ramadhan di tanah perantauan. Jauh dari orangtua, jauh dari adik. Ingin bergegas pulang, tapi masih ada UAS. Ingin bergegas pulang tapi sudah terlanjur menjadi panitia acara Ramadhan. Beberapa hari di minggu pertama Ramadhan masih terasa sekali sedihnya. Biasanya salat Tarawih, sahur, puasa, dan berbuka bersama orangtua dan adik, saat itu untuk pertama kalinya aku menjalaninya tanpa mereka.  

Bagian menyesakkan saat menjalani puasa di perantauan itu saat iseng streaming sinetron yang tayang saat sahur. Bukan sinetronnya yang membuat sedih, tapi iklan di sela penayangan sinetron. Iklan dari salah satu merek rokok. Kenapa iklan rokok banyak yang bagus ya? 

Iklan itu menceritakan tentang seorang perempuan yang selalu diantar ayahnya ke kantor. Sampai-sampai teman-temannya mengira ayahnya adalah tukang ojek langganannya. Suatu ketika saat ayahnya menjemput, dia justru memilih pergi bersama teman-teman kantornya hingga malam, bahkan hingga hujan turun. Tiba-tiba saat dia menengok ke arah jendela, dia melihat seorang ayah dan anak perempuannya yang sedang berteduh, dia pun teringat ayahnya yang selalu mengantarnya saat kuliah. Bagian yang paling menyedihkan yaitu saat dia dan teman-temannya pulang melewati kantor, ternyata sang ayah masih menunggunya di pos satpam. Dia pun memutuskan untuk turun dan bergegas menghampiri ayahnya.

Melihat iklan itu membuatku merasa tertampar. Sebab saat SMA aku selalu diantar ke manapun oleh Ayah. Entah ke sekolah, ke rumah teman, atau ke toko buku. Padahal saat itu aku sudah bisa naik motor dan teman-temanku pun banyak yang sudah tidak lagi diantar orangtuanya. Saat itu timbul perasaan malu dan pemikiran 'kok aku sudah besar masih diantar oleh orangtua ya?'. Iklan itu benar-benar menamparku kalau pemikiranku itu salah dan seharusnya aku tidak boleh begitu. Justru seharusnya aku bersyukur masih dapat diantar oleh orangtua.

Video bisa dilihat di sini.

Share this:

0 comments:

Post a Comment