#19 3 Kekuatan Super



Membaca buku atau novel fantasi dan menonton drama, film fantasi atau science fiction yang tokohnya memiliki kekuatan super membuatku ingin juga memilikinya. 

1. Ingin menghilang

Membaca novel Bumi, membuatku ingin seperti Raib yang bisa menghilang begitu saja. Rasanya seru saat sudah jengah dengan rutinitas kita dapat menghilang dari peradaban, dari orang-orang sekitar. Tanpa harus pura-pura mangkir atau memalingkan muka. Apalagi kalau memiliki jubah seperti yang dimiliki Harry Potter, cukup dipakai dan clinggg...kamu tidak akan terlihat oleh siapapun. Namun, tanpa perlu memiliki kekuatan bisa menghilang pun, pada akhirnya tiap manusia akan menghilang dari dunia ini. Cepat atau lambat tanpa kita ketahui. 

2. Memutar waktu 

Menonton anime Boku Dake ga Inai Machi atau drama korea Operational Proposal membuatku ingin memutar waktu juga. Sebab di beberapa situasi, terkadang aku ingin memutar waktu. Mengulangnya kembali ke masa lalu. Bahkan memulainya kembali dari aku bayi. Agar aku tidak menjadi orang yang mudah berbicara di depan laptop, tapi sangat sulit berbicara di depan orang. Agar aku menjadi orang yang banyak memiliki sahabat baik. Agar aku tidak perlu mengenalmu, dia, atau siapapun yang membuat hatiku mudah luluh. Dan terkadang aku ingin memutar waktu ke masa depan. Aku ingin tahu bagaimana aku di masa depan, bagaimana pekerjaanku, bagaimana kehidupanku, bagaimana jodohku? Apakah kamu? Namun, di dunia nyata, memutar waktu, baik ke masa lalu, maupun ke masa depan itu sesuatu yang mustahil. Dan yang perlu dilakukan hanyalah menerima yang terjadi. Katanya, we met for a reason either you're a blessing or lesson. Jadi, kamu termasuk yang mana? Menurutku kamu keduanya. 

3. Be a mind reader!

Sejak awal kuliah hingga tahun keempat ini, entah sudah berapa orang yang mengatakan: Kamu anak psikologi ya? Pasti bisa baca pikiran. Atau kamu anak psikologi ya? Pasti bisa baca kepribadian. Sudah sangat bosan jika ada yang mengatakan demikian. Dan jawaban yang bisa kuberi hanya, nggak bisa kok. Kemarin-kemarin setelah berbalas tweet dengan manajer, aku jadi kepikiran juga kalau setelah lulus, setelah kurang lebih 4 tahun belajar Psikologi, orang-orang masih beranggapan kalau anak psikologi itu bisa baca pikiran dan kepribadian. Aku juga jadi penasaran siapa orang psikologi yang dijadikan role model sehingga anak psikologi distereotipkan dapat membaca pikiran dan kepribadian. Namun, kalau boleh jujur, aku pribadi ingin dapat membaca pikiran dan kepribadian orang lain. 

Menurutku, positifnya, aku jadi tahu apa yang orang-orang pikirkan dan rasakan, juga apa yang mereka selama ini pikirkan tentang. Ya, setidaknya, dengan begitu aku dapat dengan mengerti dan dimengerti orang lain. Namun, negatifnya, jika kita dapat membaca pikiran orang lain, setiap kita bertemu orang yang ternyata sebal dan benci terhadap kita, kita justru akan withdrawl, menghindarinya. Ya pasti akan tidak enak kalau setiap kita ingin berteman atau berkenalan dengan orang lain, tetapi mereka memiliki pandangan negatif terhadap kita. Semanis apapun perlakuan mereka, kita akan merasa risih karena tahu apa yang sebenarnya mereka pikirkan. 

Ya, namanya juga manusia. Dikasih hati, minta rempela. Dikasih hujan, minta panas. Dikasih panas, minta hujan. Dikasih satu kelebihan, minta kelebihan lain. Tidak ada bersyukurnya. Padahal Allah sudah memberikan banyak kelebihan dan potensi pada kita yang bisa kita kembangkan sendiri. 

Sumber gambar: di sini


Share this:

0 comments:

Post a Comment