#18 The Only One Brother



Di keluargaku, ada beberapa kebetulan terkait kelahiran kami. Aku dan adikku selisih 3 tahun, di bulan yang sama. Bedanya aku lahir di tanggal ketiga awal bulan April, sementara adikku lahir di tanggal ketiga terakhir bulan April. Ibu dan Bapak juga selisih 3 tahun (lebih tua Ibu), juga di bulan yang sama, November. Ibu di tanggal 15, sementara Bapak dua minggu setelahnya. 

Aku dan adikku berbeda sekali. Selain berbeda gender tentunya. Dia laki-laki, aku perempuan, membuat kami berbeda kepribadian. Aku dominan otak kiri, dia (sepertinya) dominan otak kanan. Aku (pernah) menyukai Matematika dan Akuntansi, sementara dia benci Akuntansi. Walau pada akhirnya dia yang 'terjebak' masuk Manajemen, yang harus kembali bertemu dengan Akuntansi. 

Aku menyukai dunia menulis, tahan berjam-jam di depan laptop atau menghabiskan sebuah buku. Sementara adikku lebih suka menghabiskan waktu di luar. Untuk membaca novel sebentar saja, enggan. Sempat punya blog, walau pada akhirnya terurus. Punya Tumblr juga, walau belum terurus juga. 

Aku dan adikku sama-sama menyukai musik. Walau tidak selalu sama. Dia Efek Rumah Kaca, aku Banda Neira. Tapi kita sama-sama menyukai Barasuara. Aku pernah menggeluti dunia musik, musik tradisional tepatnya. Sementara dia musik modern. Gitar, drum, dan sekarang merambah instrumen musik Marching Band. 

Dulu, aku dan adikku sering menonton siaran pertandingan sepak bola di televisi. Bela-belain bangun dini hari demi nonton bareng. Mulai dari Serie A, La Liga, Barclays Premier League, Champions League, FA Cup, hingga Indonesia Premier League. Aku pendukung Chelsea, adikku pendukung Liverpool. Aku pendukung Bambang Pamungkas, adikku pendukung Ismed Sofyan. Namun, sekarang kami jarang nonton bareng. Aku sudah tidak terlalu mengikuti sepak bola, dan adikku juga sudah jarang nonton. 

Dari segi kepribadian bisa dibilang kami berbeda jauh. Aku susah sekali beradaptasi dengan orang baru, menunggu sampai merasa nyaman. Sementara adikku jauh lebih mudah dan lebih supel. Adikku pernah menjadi Pradana semasa SMA. Agak kaget kenapa adikku bisa menjadi pradana padahal di rumah tidak terlihat jiwa leadership-nya. Membuatnya sangat sibuk. Sementara aku semasa SMA hanya pernah menjadi staf humas abal-abal di satu-satunya organisasi yang kuikuti. Rada selo. Dia pernah juga dapat award 'Terpopuler' saat perpisahan SMA-nya. Sementara aku, namaku hanya pernah sekali dipanggil saat wisuda SMA karena sesuatu hal. 

Seperti kakak-adik pada umumnya, aku dan adikku juga sering bertengkar karena hal-hal sepele. Misalnya saat aku menyuruh adikku untuk membersihkan rumah, tapi adikku tidak mau. Aku ingin nonton acara X, adikku ingin nonton acara Y. Namun, setelah kuliah aku sadar kalau pertengkaran kami saat kanak-kanak adalah sesuatu yang kurindukan. Ingat sekali saat pertama akan pulang kampung, saat aku melihat foto adikku di akun Facebook-nya, tiba-tiba saja aku menangis. Tiba-tiba merasa rindu dan ingin bergegas pulang. 

Aku juga sadar kalau saat masa kanak-kanak dulu jauh lebih mudah untuk menghabiskan waktu bersama. Terlebih saat sekarang kami sama-sama sibuk dengan aktivitas masing-masing. Apalagi dia yang (sok) sibuk, jarang sekali di rumah. Entah karena rapat, latihan, atau main dengan teman-temannya. Sering pulang larut malam juga karena rapat, sampai-sampai aku harus menahan kantuk agar dapat membukakan pintu untuknya. 

Kalau mau pergi juga harus janjian dari beberapa hari sebelumnya, walau terkadang di sela-sela rapatnya dia masih menyempatkan diri menjemputku di stasiun/terminal. Makanya, terkadang aku lebih suka saat dia yang mengunjungiku ke Jogja, dibanding aku yang pulang ke Purwokerto. Walau dia sering membuatku kesal, tapi aku sangat merasa khawatir saat dia kelas 3 SMA. Saat dia mengikuti berbagai tes perguruan tinggi dan sekolah dinas, dan pada akhirnya hanya mendapat penolakan. Ikut sedih saat dia mengatakan, "Aku udah yakin banget ngerjain tesnya, yakin banget bakalan lolos, tapi ternyata tetep gak lolos." Sungguh-sungguh harus kembali menguatkan dirinya. Dan ikut terharu saat dia dinyatakan lolos menjadi mahasiswa Manajemen Unsoed.

Terima kasih Ainul Fikri, adikku yang paling super. Super menyebalkan, super ngeselin, super ngangenin, kadang super baik juga. Terima kasih telah menjadi adikku. Maafkan kakakmu yang masih belum menjadi kakak yang baik, kakak yang bisa menjadi teladan untukkmu. Kuyakin kamu akan menjadi orang yang super untuk keluarga dan teman-temanmu. Sukses terus untukmu, dunia dan akheratmu. Saranghaeyo nae namdongsaeng!

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments:

  1. Ini belum selesai ya Mbak "Dan saat dia kelas", aku buka link ini karena ada jas almet Unsoed, kalo perkiraan jarak 3 tahun, dia baru masuk tahun ini ya Kak? Hihi, saya di Unsoed juga sih Kak, tapi angkatan 15. Aku juga sukaaa Banda Neira:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwk, itu harusnya dihapus, tapi lupa kuhapus. Makasih koreksinya, hehe. Iya, adikku angkatan 2016. Manajemen juga kah? Wew, pecinta Banda Neira juga :D Salam kenal

      Delete