#31 Refleksi Penghujung Tahun 2016



Bagiku, tahun 2016 ini merupakan tahun yang mengesankan. Tahun yang nano-nano. Berbagai rasa bercampur satu di tahun ini. Senang, sedih, kesal, marah. Tidak hanya di satu aspek kehidupan, tetapi hampir di berbagai aspek. Mulai dari aspek hati sampai aspek kesehatan. 

Tahun ini aku bertemu dengan orang-orang yang menakjubkan, menginspirasi dari segi kepenulisan. Bertemu dengan orang-orang yang memberi banyak pelajaran kehidupan. Tentang cinta, tentang kesabaran, tentang mengikhlaskan, tentang komitmen. Tahun ini ada yang pergi, menghilang tanpa kabar tapi kenangan dengannya seringkali merusak hari dan mengaduk emosiku. Ada juga yang datang, seperti lagu Sepatu milik Tulus. Selalu bersama tak bisa bersatu. 

Januari-Juni

Bulan-bulan persiapan KKN. Tiap pekan rapat di berbagai tempat yang berbeda. Mulai dari Selasar Psikologi sampai KPFT. Mulai dari GSP hingga kafe. Selain rapat, juga ada sosialisasi, General Test, dan tes kesehatan. Mempersiapkan berbagai hal, bukan hanya mempersiapkan fisik dan mental diri, juga mempersiapkan dana untuk KKN. Salah satunya dengan berjualan makanan di acara PAS-nya Teknik Sipil dan Try Out tim KKN lain. 

Januari-Februari

Bulan-bulan ini aku dipertemukan dengan orang-orang kece di Kece (Kelas Cerpen), suatu program di komunitas kepenulisan yang kuikuti. Mereka orang-orang yang kece dari segi tulisan dan semangat mempelajari cerpen. Berkenalan dengan mereka membuatku sadar bahwa tulisanku belum apa-apa dibanding mereka. 

Januari-Mei

Tahun ini aku merasakan yang namanya kerja part-time yang hanya bermodalkan laptop, ponsel, dan koneksi internet. Pekerjaan yang menurutku sangat menyenangkan karena bisa dilakukan di manapun dan waktunya fleksibel. Dan di bulan-bulan ini aku merasakan menerima gaji dari kerja kerasku. Walau sebenarnya awalnya aku hanya diminta untuk membantu menjadi admin. 

Februari-Desember

Lengser dari kepengurusan di BPPM ternyata aku mendapat amanah lain di organisasi yang kuikuti. Menjadi penanggung jawab di suatu divisi suatu departemen di organisasi tersebut. Sejujurnya saat mendapat amanah itu aku sangat kaget karena merasa tidak memiliki kapabilitas untuk menjadi 'pemimpin'. 

Membuatku bertanya-tanya, why me why me? Membuatku nyinyir pada diri sendiri. Seorang introvert sepertiku jadi pemimpin? Seorang aku yang tidak menyukai rapat ini tiba-tiba harus bicara di depan, membuka-memandu-menutup rapat? Amanah ini sejujurnya membuatku ingin menyerah. Karena tidak dapat membangkitkan yang telah lama mati suri. Apalagi karena faktor kesehatanku yang beberapa bulan terakhir ini menurun. Membuatku ingin keluar, tapi tidak diperbolehkan. Alhasil aku tetap mencoba bertahan dan menyelesaikan satu program yang belum sempat terwujud. 

Maret-Juni

Di minggu terakhir bulan Maret aku tidak sengaja mengikuti kelas membuat novel bernama Bikin Buku Club: Batch 14 (BBC). Program itu merupakan program menulis 90 hari, 4 kali pertemuan secara langsung dan selebihnya konsultasi melalui dunia maya. Awalnya aku hanya diminta untuk datang di pertemuan pertama oleh kakak kelasku di SMA yang sekaligus menjadi mentor di kelas itu. Dan menulis selama 90 hari, dengan satu harinya harus mengirim minimal 4 halaman membuatku kalang-kabut. Terlebih bulan-bulan aku masih hectic dengan tugas kuliah, UTS, dan UAS. Alhamdulillah-nya, sebelum 90 hari, bahkan 2 hari sebelum berangkat KKN, novelku telah selesai. Walau menurutku masih berantakan. 

April 

Di bulan ini angka usiaku bertambah satu tahun, menjadi 21. Dengan bertambahnya angka 1 itu membuatku tidak lagi tergolong remaja. Hampir semua ahli teori psikologi perkembangan sepakat kalau usia 21 termasuk dalam masa dewasa awal. Selain itu, di bulan ini aku dan teman-teman Kece mencetak sebuah antologi cerpen--tugas-tugas yang kami buat sewaktu kelas berlangsung--berjudul "Sketsa 8 Warna". Buku tersebut sengaja untuk kami nikmati sendiri, bukan untuk dijual. 

Mei-Juli

Di bulan-bulan ini aku menemani adikku mengikuti tes, mulai dari tes IPDN hingga UM UGM. Juga merekomendasikan beberapa universitas untuk diikuti. Saat pengumuman tes, selalu ada rasa cemas. Terlebih saat hasilnya penolakan, rasanya ikut sedih. Dan saat adikku diterima di suatu universitas, aku merasa terharu sekaligus senang. 

Juni-Agustus

Masa-masa KKN, dari 20 Juni-7 Agustus. Masa-masa yang susah dijelaskan karena ada senang, sedih, dan segala hal yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Tempat KKN yang begitu dingin dan hampir tiap sore diselimuti kabut, logat yang berbeda dibanding Jogja dan Purwokerto. Dan pemandangannya yang indah, dapat melihat Semeru lebih dekat. Dari segi orang-orangnya, teman-teman KKN-ku unik-unik dan seru-seru, warga setempat juga sangat ramah, apalagi guru-guru dan murid-murid SD yang ada di sub unitku. 

Di sela-sela KKN aku dan teman-teman KKN ku juga sempat mengunjungi beberapa objek wisata, seperti Gunung Bromo, Ranupani, Kebun Teh Guci, Coban Sewu. Dan yang paling seru saat mendaki Gunung Semeru. 

Agustus

Tanggal 7 Agustus pagi aku dan teman-teman KKN sampai di Jogja lagi. Lalu sore harinya aku dan beberapa teman-teman BBC lainnya pergi ke Jakarta untuk mengunjungi Elex Media dan Republika Penerbit. Dan di akhir bulan kami juga mengunjungi Bentang Pustaka. Di tiga penerbit itu kami menceritakan dan mempresentasikan naskah kami masing-masing. Dikritik dan dikasih saran banyak sekali. Di bulan ini juga, usai dari Jakarta aku mampir ke Depok untuk bertemu dengan teman SMA-ku dan teman-teman satu komunitas kepenulisan. 

September-Desember

Bulan-bulan ini merupakan bulan penuh ujian. Tekanan datang dari mana-mana, organisasi, tugas kuliah, dan skripsi. Bulan-bulan lambungku mulai memberontak hingga akhirnya banyak makanan dan minuman yang tidak boleh kukonsumsi. Bulan-bulan ini juga merupakan bulan ujian untuk terus bersabar dan bersyukur. Bolak-balik ke rumah sakit dan GMC. Minta surat rujukan dan periksa hingga banyak surat rujukan yang menumpuk di mapku. 

Bulan-bulan ini merupakan bulan penuh pertanyaan. Kenapa obat-obat yang kukonsumsi tidak kunjung membuatku sembuh 100%? Kenapa aku masih mengalami keluhan? Sebenarnya apa yang kupikirkan? Dan pernyataan-pernyataan. Andai aku lebih aware dengan simptom-simptom yang muncul dariku. Seandainya aku dapat mengasesmen diri sendiri hingga tahu diagnosa dan treatment yang tepat untuk diriku sendiri. 

Pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan yang membuatku merasa tidak bersyukur atas apa yang Allah beri. Tidak mengambil hikmah dari setiap hal yang kualami. Padahal di luar sana banyak yang diberi ujian jauh lebih berat dariku. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment