#30 Highs and Lows for the Month



Seharusnya ini di-post kemarin, di hari terakhir bulan November. Bukan sekarang, awal Desember. Namun, tidak apalah. Untuk menggenapkan, aku ingin menulis yang ke-30. Temanya your highs and lows for the month, yang kutangkap sebagai kejadian yang paling menyenangkan dan menyebalkan di bulan November. Dan ya, sesungguhnya, bulan November memang benar-benar menaik-turunkan mood-ku. 

Kejadian yang highs for the month mungkin saat aku JJGJ dengan teman baru, orangtua datang ke Jogja--setelah tahu anaknya masuk IGD--,menghadiri sidangnya seniorku dan teman SMA, menghadiri wisudanya teman-teman satu organisasi atau komunitas yang kuikuti, dan tentu saja hari ulang tahun orangtuaku yang hanya berselang 2 minggu. Sisanya, kejadian yang kulalui di November benar-benar lows for the month. 

Pertama, bulan ini puncak-puncaknya aku merasa nyeri perut dan susah untuk B*B hingga akhirnya aku harus ke IGD. Membuat orangtuaku panik dan bergegas ke Jogja saat mendengar anak sulungnya masuk IGD. Namun, aku menyadari, kehadiran mereka ternyata sangat berarti, bahwa aku masih seorang anak yang bergantung pada orangtua. Terlebih saat sakit seperti itu. 

Kedua, vomitus-ku tidak berhenti dan sendawaku semakin sering. Ketiga, di pertengahan bulan, di kali keempat kontrol ke RSA, sang dokter langsung merujukku untuk endoskopi. Mendengar kata endoskopi seperti mendengar sesuatu yang mengerikan. Sejak masih di dalam ruang periksa sampai beberapa menit keluar dari ruang periksa aku tidak berhenti menangis. Apalagi saat itu aku sedang sendirian. Benar-benar butuh tempat sampah. 

Keempat, di hari Seninnya, setelah dirujuk untuk endoskopi, aku, saudaraku, dan dua temanku yang lain bergegas ke Sardjito untuk mengurus endoskopi. Sialnya, hari itu terlalu banyak halangan sehingga aku tidak jadi periksa di hari itu. Esoknya hingga hari Kamis, aku bolak-balik Sardjito untuk mengurus salah satu penyakitku, yaitu ISK. Mulai dari tes urin rutin sampai kultur urin. Benar-benar menguras waktu, tenaga, dan emosi. Empat kali tiap minggu kontrol dokter saja rasanya memuakkan, apalagi empat hari berturut-turut ke rumah sakit. 

Kelima, selang satu minggu, setelah hasil kultur urin dan tes urin keluar, aku langsung ke bagian Poliklinik Penyakit Dalam bagian Gastro dan Tropmed. Di bagian Gastro, setelah melihat kedua hasil itu, sang dokter merujukku untuk USG Upper Abdomen dan tes darah. Dan begitu di bagian Tropmed, dokter tersebut menambahkan untuk USG Lower Abdomen dan mengatakan kalau aku tidak bermasalah dengan ISK. Esoknya, sepulang kuliah aku ke Sardjito untuk tes darah dan Jumat-nya, dua hari setelah kontrol, aku melakukan USG, yang pertama yaitu USG Upper Abdomen, yang kedua baru yang lower. Di sela-sela USG pertama ke kedua, aku kembali vomitus, memuntahkan obatku sendiri. Usai USG selesai, dokter itu mengatakan kalau tidak ada masalah dengan organ pencernaan dan kandung kemihku. 

Keenam, Senin-nya, tepatnya tanggal 28 November kemarin aku kembali ke Sardjito untuk kontrol sembari membawa hasil USG dan tes darah. Melihat dua hasil itu dan mendengar keluhanku, dengan cepat sang dokter menawariku untuk diendoskopi. Aku tidak langsung menentukan jadwal karena pertimbangan dana untuk endoskopi yang lumayan mahal. Keluar dari ruang periksa aku masih baik-baik saja. Namun, saat aku tiba di basement, menuju mushola, aku kembali menangis. Kejadian di RSA seperti terulang kembali. Hari itu aku juga bolak-balik GMC-Sardjito bagian pengambilan obat-Sardjito bagian Poliklinik Penyakit Dalam-Sardjito bagian pengambilan obat-Sardjito bagian Poliklinik Penyakit Dalam-GMC. Saat ke GMC, petugas di situ mengatakan kalau endoskopi ditanggung 75%. Sesaat aku merasa lega, bergegas kembali ke Sardjito untuk bertemu dokter yang tadi menanganiku untuk meminta surat pengantar diendoskopi. Usai mendapat surat pengantar, aku turun ke lantai 1 untuk mengambil obat. Setelah semua selesai aku kembali ke GMC untuk meminta surat rujukan dan menyerahkan surat pengantar. Sesampainya di sana, dengan petugas yang berbeda, dia mengatakan kalau endoskopi murni 100% ditanggung oleh pasien. Aku cukup kaget saat mendengarnya. 

"Tapi kalau ada BPJS bisa free kok mba." Aku menepuk keningku, kartu BPJS tidak bisa dipakai kalau tidak di daerah asalku. Lalu aku menunjukkan kartu BPJS-ku ke petugas GMC. "Wah, kalau ini sih nggak bisa dipakai lagi. Usianya mba kan udah 21 tahun, udah nggak ditanggung negara. Kalau mau ngurus BPJS harus pakai surat keterangan masih kuliah dan bukti gaji orangtua." Untuk kali kedua, aku merasa cukup kaget sekaligus panik karena aku tidak bisa bergegas pulang saat itu juga. Hari itu pikiranku tidak begitu jernih, bagaimana caranya aku mendapat uang segini dalam waktu singkat? 

Bulan November memang bulan yang mempermainkan mood-ku. Namun, hikmah yang kuambil setelah bolak-balik ke rumah sakit adalah untuk lebih banyak bersyukur, bersabar, dan lebih mendekat kepada-Nya. 

***
Yogyakarta, 1 Desember 2016

Share this:

0 comments:

Post a Comment