(Semacam) Sebuah Memoar




Tidak terasa, ternyata sudah setengah bulan PDKT dan Empatik berlalu. Namun, kenangan akan peristiwa dua hari satu malam tepat setengah bulan yang lalu itu akan terus tertanam di long-term memory-ku. Terlebih mengingat perjuangan teman-teman satu kelompokku sebelum hari H acara itu tiba. Sedikit gambaran, PDKT (Pelatihan Dakwah dan Karya Tulis) dan Empatik ini merupakan rangkaian acara untuk menyambut anggota baru FLP (Forum Lingkar Pena). 

Kalau dibanding yang lain, yang telah mengenal FLP sejak remaja. Seingatku, aku baru mengenal FLP saat aku sudah kuliah. Tanpa sengaja. Kalau tidak salah saat itu aku baru saja mengikuti kelas menulis yang pembicaranya Boim Lebon. Salah satu orang di balik buku yang kubaca sejak SMP, yaitu Lupus. Setelah mengikuti kelas itu, aku googling nama Boim Lebon. Sampai entah bagaimana menemukan FLP dan pada akhirnya aku justru mencari informasi tentang FLP. Aku ingin masuk FLP. Tiba-tiba terbesit keinginan untuk masuk FLP, menjadi bagian darinya. 

Kesempatan itu pun datang di tahun ini. Berawal dari informasi kalau FLP Yogya membuka rekrutmen anggota baru. Aku mencoba mendaftar, mengisi form pendaftaran, menyerahkan form itu hingga mendapat pengumuman kalau aku lolos seleksi administrasi (atau berkas, ya?). Lalu mengikuti tahap selanjutnya yaitu writing class selama 9-10 pertemuan. Sampai mendapat pengumuman lagi untuk datang ke technical meeting PDKT dan Empatik, acara untuk anggota baru FLP. Officially menjadi anggota. 

Hari-hari menuju acara itu ternyata merupakan hari-hari perjuangan bagiku. Selain rentang waktu antara technical meeting hingga hari H hanya sekitar 9 hari. Pun satu per satu teman satu kelompokku berguguran, tidak dapat mengikuti acara itu. Sampai pada akhirnya menyisakan aku dan dua temanku yang lain. Tiga mahasiswa tingkat akhir yang berjuang menuntaskan skripsi masing-masing. 

Sabtu-Minggu, 3-4 Desember 2016

Hari H itu pun tiba. Rencananya kami diminta berkumpul dulu di Tugu Teknik pukul 06.30. Namun, tidak seperti pagi-pagi sebelumnya, beberapa puluh menit sebelum pukul 06.30 hujan turun begitu deras. Hingga pukul 06.30, hingga temanku datang menjemput ke kosku, hujan masih enggan mereda. Aku dan temanku pun menunggu hujan reda karena temanku lupa membawa jas hujan. Setelah agak mereda, kami segera mencari jas hujan di sekitar kosku. Lalu bergegas menuju Tugu Teknik, sebelum akhirnya kami bersama-sama menuju lokasi pertama. Dari sekitar pukul 09.00 hingga sore hari kami dijejali tiga materi kepenulisan. Mulai dari menulis yang berkaitan dengan teknologi masa kini, suspense, hingga materi yang mengaduk emosi kami. Setelah materi ketiga selesai, kami mendapat kesempatan berbincang dengan anggota FLP beberapa angkatan sebelumnya.

Menjelang malam, menjelang haflah, teman sekelompokku tidak juga bertambah. Tetap bertiga, aku dan dua temanku yang lain. Selepas Isya, beberapa saat menjelang haflah, kami mengganti puisi yang akan kami deklamasikan. Dari Emha Ainun Najib menjadi Gus Mus. Dari "Nyanyian Gelandangan" menjadi "Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana". Latihan beberapa puluh menit hingga haflah pun dimulai. Sekitar pukul 20.00 haflah pun dimulai, diawali dengan penampilan yang apik dari anggota FLP Yogya angkatan 16. Membuatku minder dan semakin membuat jantungku berdegup kencang. Terlebih kelompok mendapat giliran pertama untuk maju. Lampu ruangan kembali dimatikan. Petikan gitar mulai terdengar. Aku bangkit dari kursiku lalu mendeklamasikan 7 bait pertama puisi itu. Delapan bait sisanya dideklamasikan oleh temanku. Petikan gitar masih terdengar mengiringi hingga baris terakhir bait kelimabelas. Hingga terdengar suara "jreng" yang mengakhiri penampilan kami. Lampu ruangan kembali dinyalakan. Komentar dari para judges yang merupakan anggota FLP Yogya angkatan 14 satu per satu bermunculan. Mengomentari penampilan kami yang masih amatir dan sangat jauh dari sempurna. Saat mendapat kritikan, entah kenapa justru membuatku ingin belajar membaca puisi. 

Pukul 21.00, setelah 2 kelompok lainnya mendapat giliran maju, kami dan panitia lainnya beranjak menuju ruang sebelah. Sesampainya di sana ternyata sudah berjajar rapi lilin membentuk hati. Nyalanya membuat syahdu suasana sesi itu, sesi membangun Istana Impian. Satu per satu dari kami bercerita tentang perjuangan mereka dan impian yang ingin mereka wujudkan. Mendengar cerita mereka membuat hatiku bergejolak. Membuatku salut pada mereka, orang-orang yang tangguh, orang-orang yang kuat dalam menghadapi masalahnya masing-masing. Setiap satu cerita telah disampaikan, istana impian itu mulai terlihat bentuknya. Dan ceritaku menjadi bagian terakhir yang membentuk istana impian itu.   

Keesokan harinya kami bersatu padu memecahkan teka-teki untuk mendapatkan kode rahasia yang berisi instruksi yang akan kami lakukan setelah PDKT usai. Ada 4 pos yang kami harus lalui. Pos pertama memindahkan air secara estafet menggunakan gelas plastik yang diikat di kepala/kaki/tangan. Pos kedua mencari puzzle yang jika diurutkan ternyata membentuk suatu cerita dan ada kode tersembunyi di balik rangkaian cerita itu. Pos ketiga kami diminta membuat satu buah puisi secara berkelompok lalu membacakannya di depan penjual yang ada di pasar. Dan pos keempat kami diminta membawa lilin dan menjaganya agar tetap menyala hingga berakhir di depan bendera FLP Yogya. Di pos terakhir inilah, kami harus mengerahkan tenaga karena berkali-kali lilinnya redup di tengah jalan. Sebelum akhirnya kami berhasil membawa lilin itu ke garis finish. 

Dan ya, selamat datang angkatan 17 di FLP Yogyakarta. Selamat menjadi bagian dari hidupku. Selamat menjadi bagian yang akan sering kutulis. 

Terkhusus untuk kelompok Aksara, semoga kita segera didadar dan diwisuda. Kutunggu  kabar baik dari kalian :3







Share this:

0 comments:

Post a Comment