Tidak Pernah Mengenalmu



Aku dan kamu. Kita adalah dua orang asing yang dipertemukan karena sebuah kebetulan. Dipertemukan dalam ruang yang sama, ruang yang kita anggap sebagai rumah. Tujuh bulan awal mengenalmu, kutahu kamu orang yang menyenangkan, konyol, dan selalu bisa mencairkan suasana. Hanya sebatas itu. Sisi dirimu yang lain tak kuketahui. 

Selama tujuh bulan itu pula tidak ada interaksi di antara kita. Bahkan untuk sekedar bertegur sapa. Aku yang enggan membaur dan kamu yang enggan memulai pembicaraan terlebih dulu. Membuat kita hanya diam membisu ketika bertemu. Hingga suatu hari, entah ada angin apa kamu mengajakku berbicara di dunia maya. 

Tujuh bulan berinteraksi denganmu di dunia maya ternyata tidak lantas membuatku mengenal lebih jauh tentangmu. Walau kamu menceritakan berbagai hal, termasuk masa lalumu. Walau kamu membuatku membuka sisi diriku yang lain, yang katamu cerewet. Namun, aku masih tidak mengenalmu dengan baik. Sisi lain dirimu yang misterius, yang masih nyaman untuk kamu simpan sendiri. 

Hingga kita semakin dekat, kupikir aku telah mengenalmu dengan baik. Seluruh sisi dirimu telah terkuak, telah kuketahui. Namun, sepertinya aku salah. Lima bulan ternyata kamu masih enggan untuk menguak sisi misteriusmu. Masih nyaman untuk menyimpannya sendiri. Di balik candamu, di balik kekonyolanmu, di balik tawamu. Serta di balik ceritamu tentang benda langit dan energi, kutahu ada cerita lain yang masih kamu simpan sendiri. Kutahu ada gurat kesedihan di wajahmu yang enggan kamu bagi. 

Dan hingga detik ini, setelah semuanya telah berakhir. Saat yang pernah kita lakukan hanya kenangan yang bisa kunikmati dalam memori. Saat kisah kita yang kutulis hanyalah sebuah pengulangan. Bahkan saat semua akses untuk kutahui kabarmu kamu tutup. Kutahu aku benar-benar tidak pernah mengenal dirimu dengan lebih baik. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment