#12 Tiga Hal Menarik di 12 Desember

Sebelum memasuki pembahasan mengenai tiga hal menarik hari ini, aku ingin mengucapkan Selamat Hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Semoga kita senantiasa menjadi pengikutnya yang setia, yang selalu meneladani perilaku beliau yang memang uswatun hasanah atau teladan yang baik. 

Jadi, selain Maulid Nabi Muhammad SAW, ada tiga hal menarik yang terjadi hari ini. Walaupun sebagian besar waktuku hari ini dihabiskan di rumah. 

1. Mendapat Tiket Kereta yang Murah

Sumber: Fanspage Grand Prix Marching Band. Dengan sedikit edit brushes ._.v

Sejak adikku mengatakan kalau dia ikut Marching Band dan bulan Desember ini akan ikut GPMB (Grand Prix Marching Band), aku telah mengagendakan akhir tahunku untuk melihat dia lomba. GPMB tahun ini diadakan di Stadion Wibawa Mukti Cikarang-Bekasi dan aku sangat excited untuk segera datang ke sana. Sialnya, aku lupa belum pesan tiket dan lupa juga kalau akhir tahun biasanya banyak orang yang berlibur. Setelah ingat, aku langsung mengecek sisa kursi kereta dari Jogja menuju Bekasi untuk tanggal 28 Desember. Dan hasilnya seperti yang kuduga, tiket ekonomi yang murah telah habis. Hanya tersisa tiket yang harganya dua ratusan ribu lebih. Bahkan tiket yang paling murah harganya 140.000. 

Lalu kucari lagi untuk tanggal 27, 26, 25 Desember dengan tujuan yang sama. Hasilnya ternyata sama, sold out. Namun, aku tidak berputus asa, esoknya aku cek lagi dan merasa sangat bersyukur, kereta Bengawan yang harga tiketnya 74.000 tiba-tiba tersisa 3 kursi kosong. Aku bergegas pesan dan tidak lama kemudian mendapat kode pembayaran. Dan sifat lupaku kambuh lagi, aku lupa kapan batas akhir pembayaran tiket itu. Sesampainya di ATM, ternyata kode pembayaran tiketnya sudah expired. Rasanya ingin menggaruk tembok, sebab setelah itu aku cek lagi sudah tidak ada kursi kosong untuk kereta yang murah. Aku menatap nanar layar ponsel yang bertuliskan sold pada kereta Bengawan dan Gaya Baru Malam--dua kereta yang paling murah dibanding yang lain. Mengecek berkali-kali pun hasilnya tetap sama. Hingga keajaiban pun datang, tiba-tiba dini hari tadi saat aku iseng mengecek tiket ke Bekasi untuk tanggal 27 Desember, ada satu kursi yang tersisa. Aku terkesiap, ingin berteriak senang tapi masih dini hari. Dan untungnya aku tidak lupa lagi untuk membayarnya.

2. Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas)

Sejak kemarin, kata Harbolnas selalu menggaung di telingaku, menyilaukan mataku. Namun, aku tidak tertarik untuk belanja online pada hari ini. Dan aku sama sekali tidak tertarik dengan Harbolnas. Hingga suatu kabar muncul di grup Writing Challenge, "Gramedia diskon 70%". Aku sangat terkejut, lebih ke tidak percaya. Lalu kubuka web-nya dan ternyata benar kabar itu. Kupilih novel yang aku ingin baca, The Achitecture of Love-nya Ika Natassa. Ternyata permasalahannya baru dimulai usai aku memilih novel. Sistem pembayarannya tidak bisa lewat ATM. Bisanya melalui internet banking, e-Money, dan credit card. Nahasnya aku tidak punya semuanya. Namun, tiba-tiba seorang teman di grup itu menawari bantuan untuk membayar novel yang kami pesan karena dia punya clickpay. Kami senang sekali untuk menerima tawarannya, mendaftar buku apa saja yang kami pesan dan menyebutkan alamat yang dituju. Sekitar pukul 11.00 permasalahan lainnya muncul, loading lama server-nya down karena banyak yang mengakses. Sampai sekitar satu jam setelahnya, web-nya ternyata sedang dalam proses maintenance. Kami tetap sabar menunggu hingga pukul 14.00 web-nya kembali dapat diakses tetapi sekejap kemudian kembali lama loading-nya. Membuat kami tidak dapat menaruh satu pun buku ke 'keranjang'. Berkali-kali mencoba tetapi tidak bisa. Dan tiba-tiba sekitar pukul 15.00 pihak penerbit itu mengatakan kalau stok buku untuk Harbolnas telah habis. Rasanya benar-benar sedih karena tidak dapat membeli buku dengan harga yang sangat murah. 

3. Menulis, Menulis, dan Menulis

Sejak bangun hingga akan tidur, tanganku tidak dapat jauh dari keyboard laptop dan mataku tidak henti memandang layar laptopku. Dan ya, sebagian besar hari iniku diisi dengan menulis, menulis, dan menulis. Dulu menulis hanya sebagai pelampiasan emosiku yang tidak dapat diekspresikan. Namun, sekarang menulis sudah menjadi bagian hidupku. Walau kadang merasa jengah, bosan, tertekan menatap begitu banyak huruf setiap harinya, tetapi di sisi lain aku membutuhkannya. Aku jadi kepikiran bagaimana jadi jurnalis atau penulis yang profesional yang lingkungannya lebih under pressure, kalau masih amatiran saja aku sudah merasa seperti ini.

***
12 Desember 2016

Share this:

0 comments:

Post a Comment