#9 Dua Kisah Nabi




Tema hari ke-9 kemarin adalah nabi favorit selain Rasulullah. Tema yang agak berat karena aku lupa-lupa ingat cerita nabi yang pernah kubaca dan kudengar. Hanya setengah-setengah yang masih kuingat. Dan sepertinya aku tidak bisa menyebutkan satu saja karena semua nabi memiliki kisah uniknya masing-masing, yang tentunya memberi keteladanan bagi umatnya. 

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Aku suka kisah kedua nabi ini. Seorang ayah dan anak yang sama-sama seorang nabi. Poin yang kusuka dari kisah ayah-anak ini yaitu ketika nabi Ibrahim bermimpi diperintah Allah SWT untuk membunuh nabi Ismail. Keesokan harinya nabi Ibrahim mengatakan hal itu kepada nabi Ismail. Jawaban nabi Ismail yang masih remaja (kalau tidak salah) ternyata sangat bijak, dia rela melakukan apa yang dimimpikan oleh ayahnya tersebut. Sebab dia yakin kalau apa yang dimimpikan ayahnya memang perintah dari Allah SWT. Selang beberapa hari, nabi Ibrahim pun melakukan apa yang dia mimpikan kepada Ismail. Namun, ketika dia hendak menyembelih nabi Ismail, ternyata parang yang dia gunakan menjadi tumpul sehingga nabi Ismail tidak meninggal. Peristiwa itu menjadi bukti bagaimana pengorbanan nabi Ibrahim dan nabi Ismail atas perintah yang nabi Ibrahim terima dari Allah SWT. Sebagai gantinya, Allah kembali memerintah nabi Ibrahim untuk menyembelih seekor domba. Dan peristiwa itu menjadi awal mula Hari Raya Idul Adha. 

Jika dikorelasikan dengan keadaan saat ini mungkin sudah sangat jarang ditemukan. Justru semakin hari banyak berita yang mengabarkan pertikaian antara orangtua dengan anak. Banyak juga yang berujung pembunuhan, entah orangtua membunuh anaknya, atau anak yang membunuh orangtuanya. Dan jika ditelisik sebenarnya permasalahan yang melatarbelakangi pembunuhan itu hanyalah masalah sepele. 

Nabi Ayub 

Jika aku mengingat kisah nabi Ayub, membuatku merasa malu pada diri sendiri. Sangat jauh berbeda. Aku yang sering mengeluh dengan penyakitku. Sementara nabi Ayub begitu sabar menghadapi penyakitnya. Bertahun-tahun dia mengidap suatu penyakit kulit hingga dia terisolasi dari lingkungan sosialnya. Bahkan istrinya tidak kuat untuk merawat nabi Ayub. Namun, nabi Ayub begitu sabar dan tabah atas ujian yang diterimanya. Hingga suatu hari Allah SWT memberi kesembuhan padanya. 

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu." (Q.S. Ali Imran ayat 200). Memang benar adanya jika saat kita diberi ujian, hendaknya kita bersabar. Dan seperti yang dikatakan banyak orang bahwa "kesabaran itu ada batasnya", maka kuatkanlah kesabaranmu. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment