#28 Surat Beramplop Biru



Surat beramplop biru itu masih tergeletak rapi di meja belajarku. Masih belum kubuka sejak satu bulan yang lalu kumenerimanya. Surat darimu. Surat pertama yang kuterima setelah satu tahun kehilangan-mu. Hilang dari peradaban. Menghilang dari hidupku, bahkan menghilang dari kehidupan teman-temanmu. Membuatku tidak habis pikir denganmu. 

Berkali-kali aku menulis tentang ini, mengeluh tentang tragedi hilang-mu dari orang-orang sekitar. Berkali-kali juga aku bertanya pada diri sendiri penyebabnya. Berkali-berkali kusadari tidak akan kutemukan jawabannya. Jika bukan kamu yang menjawabnya.

Hingga...

Tepat sebulan yang lalu surat itu datang. Namamu tertera jelas di sampul amplop biru itu. Lengkap dengan alamat tempat tinggalmu. Tanganku begitu gemetaran saat menerimanya. Tubuhku seketika membeka. Lidahku kelu. Bahkan sekadar untuk mengucap 'terima kasih' pada pak pos yang mengantarnya pun aku tidak bisa. Aku begitu senang. Sekaligus begitu takut. Membuat surat itu hanya tergeletak di atas meja. Tidak berani kubuka. Apalagi membaca isinya. 

Hingga hari ini. 

Hari ini aku hanya meringkuk di kasur. Enggan melakukan aktivitas apapun. Tidak seperti biasanya. Seketika mataku tertuju pada surat beramplop biru itu. Seketika ingatanku kembali tertuju pada masa lalu. Kembali tertuju padamu. Pada pertanyaan yang masih belum terjawab. Pada jawaban yang mungkin tersimpan rapi dalam surat beramplop birumu. 

Aku bangkit dari kasur, mendekati meja belajar yang terletak segaris dengan arah pandangku. Tanganku kuulur hingga meraih surat beramplop biru darimu. Aku masih gemetar memegangnya. Tubuhku masih membeku ketika mengambilnya. Namun, aku memberanikan diri. Perlahan aku membuka amplop biru itu dengan takut-takut. 
It's always been you
Surat itu hanya berisi satu kalimat. Begitu ambigu. Namun, membuatku tertegun saat membacanya. Membuat mataku berkaca-kaca untuk sekejap kemudian tangisku pecah. Kalimat itu begitu ambigu, membuatku hanya menerkanya. Terkaan yang begitu manis. Terkaan yang melegakan, mengharukan sekaligus menyedihkan.

Aku masih memegang surat itu begitu erat. Kubiarkan lagu 'Langit dan Laut' milik Banda Neira menggema di langit-langit kamar. Memenuhi seluruh ruangan. Seakan menjadi lagu pengiring adegan ini. Adeganku membaca suratmu. Seakan membuka kenangan lama. Langit dan laut, dua hal yang sama-sama kita suka. Dua hal yang membuat kita betah menatapnya begitu lama. Walau tanpa pembicaraan di antara kita. Sekaligus dua hal yang selalu mengingatkanku akan dirimu. 

Tiba-tiba aku tertawa kecut. Menyadari satu hal. Suratmu tidak dapat mengembalikanmu ke sini. Suratmu tidak membuat masa lalu itu bergerak menjadi masa depan. Lagu itu semakin terdengar nyaring, membuatku menyadari satu hal lainnya. Pemilik lagu itu baru saja bubar beberapa hari yang lalu. Mengejutkan seluruh penggemarnya di Jumat dini hari itu. Namun, anehnya aku masih menikmati lagu indah itu. Langit dan Laut. 

Tiba-tiba bibirku mengulas senyum. Wajahku berubah cerah. Seperti mendapat insight yang baru saja datang. Seperti mendapat sebuah harapan baru. Kamu, surat, Langit dan Laut, dan Banda Neira seakan membentuk satu kesatuan yang mencerahkan. Bahwa yang hilang hanya dapat dinikmati kenangannya. Bahwa yang hilang hanya dapat dinikmati karyanya. Bahwa yang hilang hanya dapat disimpan dalam sebuah memori. Bahwa yang hilang akan tetap pergi walau kita paksa untuk kembali. Seperti dulu. 

***

Bekasi, 28 Desember 2016
Terinspirasi dari amplop biru novel 'Refrain'-nya Winna Effendi dan lagu 'Langit dan Laut'-nya Banda Neira.

Share this:

0 comments:

Post a Comment