#18 Pertemuan Kembali



Saat itu adalah hari yang cerah dan dingin di bulan April dan jarum jam menunjuk angka tiga belas. Aku mengantre di barisan yang super duper panjang. Aku lupa sekali jam-jam seperti ini supermarket begitu sesak oleh pembeli yang mayoritas ibu-ibu. Aku mengutuki diri. Menunduk kesal melihat troli belanjaanku yang penuh dengan barang-barang.

Satu per satu pembeli telah terlayani dengan sabar oleh kasir. Senyum terus merekah dari bibir mereka. Termasuk kepadaku yang seketika mengubah raut wajah agar terlihat lebih ramah Seketika troli belanjaan itu berubah menjadi lima tas plastik besar. Tiga tas plastik besar berwarna biru kugenggam erat di tangan kanan. Dua tas plastik biru lainnya kugenggam erat di tangan kiri. Aku berjalan begitu tertatih dari kasir hingga pintu keluar supermarket. 

Aku terus berjalan tertatih. Memaksakan diri membawa lima tas plastik besar biru itu. Jarak supermarket menuju rumahku sebenarnya tidak terlampau jauh. Membuatku nekat untuk tetap berjalan, begitu enggan untuk menaiki kendaraan umum.


"Boleh saya bantu?" Eh? Aku terkesiap. Sejenak menghentikan langkah kakiku dan menoleh ke arah suara itu.

Apa yang tadi kamu katakan?

"Boleh saya bantu?" Pemuda itu kembali bertanya, seolah tahu isi pikiranku. Pandanganku terpaku padanya hingga tanpa sadar aku mengangguk. Dia tersenyum begitu tulus lalu dengan sigap mengambil tiga tas plastik besar berwarna biru itu. Tiba-tiba hatiku berdesir, terhipnotis oleh pesona dan kebaikannya.


Sama sekali tidak ada pembicaraan di antara kami. Sempurna membisu. Hanya gesture kami yang berbicara. Menunduk malu saat tak sengaja bertatapan.

Tiga puluh menit berlalu kami pun tiba di rumah kecilku. "Terima kasih atas bantuanmu."

Pemuda itu menggeleng sembari tersenyum. "Tidak perlu berterima kasih. Bertemu kembali denganmu saja sudah membuatku bahagia. Kamu memang tidak berubah, masih seperti yang dulu Reva."

Dulu? Reva? Dia tahu namaku? Aku mengerutkan kening. "Kamu tahu namaku?"

Pemuda itu justru tertawa melihat wajah bingungku. "Sifat pelupamu sepertinya semakin menjadi-jadi."

Eh? Dia mengenalku? Sekejap kemudian pemuda itu berlalu begitu saja. Meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan. Meninggalkanku yang masih terpaku menatap kepergiannya. Tiba-tiba dia membalikkan badan, melambaikan tangannya kepadaku. "Sampai jumpa lagi Reva," teriaknya. Aku ingin membalas teriakannya tetapi lidahku begitu kelu. Tidak sanggup mengatakan sepatah kata pun.

"Ini black coffee-nya Nona." Suara pelayan itu seketika membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk lalu mengucap terima kasih. Hari ini adalah hari yang cerah dan dingin di bulan April dan jarum jam menunjuk angka tiga belas. Aku terus mengaduk kopi yang kupesan. Entah kenapa begitu enggan untuk langsung kuteguk.

"Selamat datang di Kofie Kafe. Mau pesan apa?" Aku mengangkat kepala demi melihat siapa yang datang. Seketika wajah masamku berubah ceria, mataku berubah berbinar.

"Reva?" Pemuda itu menyapaku terlebih dahulu. Segera kubetulkan posisi dudukku, kurapikan rambutku yang berantakan. Tidak lama kemudian dia telah duduk di kursi depanku.

"Aku sudah ingat kamu," kataku memberanikan diri.

Dia tersenyum. "Memangnya siapa?"

"Eza, teman keciku." Lalu dia kembali tersenyum. Kali ini senyumnya lebih lebar. Begitu tulus hingga membuat kafe ini begitu hangat.  

***
19 Desember 2016

Sumber gambar: di sini

Share this:

0 comments:

Post a Comment