#24 Perjalanan yang Paling Berkesan: Naik Gunung!



Dalam sebuah hadits yang pernah kudengar, untuk mengenal lebih jauh orang lain ada berbagai macam cara yang dapat dilakukan. Salah satunya melalui perjalanan. Dan perjalanan yang menurutku paling berkesan adalah saat naik gunung. Tanggal 24 Desember 2014, sekitar 2 tahun yang lalu aku melakukan pendakian pertama ke Merbabu. Ternyata pendakian itu mengawali pendakian-pendakian selanjutnya, yaitu Andong dan Semeru. 

Menurutku, naik gunung merupakan perjalanan yang paling berkesan. Karena pertama, persiapan yang dibutuhkan sangat banyak dibanding jika kita ke pantai atau kebun teh. Bukan hanya mempersiapkan barang-barang yang dibawa, tetapi juga mempersiapkan fisik untuk tetap sehat saat mendaki. Bahkan di beberapa gunung, seperti Semeru, kita perlu menunjukkan surat keterangan sehat. Selain itu ada briefing sebelum melakukan pendakian. Saat naik gunung juga kita perlu memasang target kita akan mendaki sampai puncak atau hanya di pos tertentu. Dengan kita tahu target tersebut, kita dapat mengestimasi waktu yang diperlukan. Sebab tiap gunung memiliki karakteristik yang berbeda dan untuk mencapai puncak memerlukan waktu yang berbeda juga. Seperti Andong, sekitar 1-2 jam mungkin kita dapat langsung sampai di puncak. Namun, butuh waktu berhari-hari untuk sampai Puncak Mahameru jika kita mendaki Semeru. 

Kedua, pemandangan saat mendaki sangat mengagumkan. Segala kelelahan seperti terbayar tuntas saat melihat pemandangan yang disuguhkan saat kita naik gunung. Merasa begitu dekat dengan alam. Suasananya begitu sejuk dan menenangkan. Kita dapat melihat bintang-bintang yang memenuhi langit. Pun bintang-bintang yang terlihat dari bawah. Kumpulan cahaya lampu-lampu yang tercipta. Selain itu, jika cuacanya sedang cerah, kita dapat melihat sunrise yang begitu indah dan gumpalan awan yang berada di bawah kita. 

Ketiga, ketika naik gunung, secara tidak langsung kita dapat mengenal sifat teman-teman kita. Mana teman yang egois, berjalan duluan meninggalkan rombongan. Mana teman yang tidak peduli dengan orang lain, yang tidak mau membantu saat temannya membutuhkan pertolongan. Pun mana teman yang dapat menjadi pemimpin rombongan, yang tidak berjalan lebih dulu saat temannya tertinggal atau kelelahan. Sebab naik gunung bukan sekadar menikmati alam, tetapi juga mengasah kekompakan dan kerjasama dengan teman serombongan, serta kesabaran. Juga melatih kita untuk menjaga alam tetap lestari. 

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

3 comments:

  1. Replies
    1. wkwkwk, astaghfirullah. Typo-nya jauh banget :""" makasih koreksinya mas

      Delete
    2. Buset dah.. Kuwi udu typo mnh jenenge.. haha

      Delete