#5 Menjadi Jurnalis




Saat aku masih kecil, aku memiliki banyak cita-cita dan hampir tiap tahun berganti cita-cita. Namun, aku masih ingat, cita-cita pertamaku adalah menjadi astronot. Baru setelah aku mempunyai teman akrab saat SD, cita-citaku mulai berubah-ubah dan beragam. Dia bercita-cita menjadi ini, aku pun ingin menjadi ini. Dia bercita-cita menjadi itu, aku pun ingin menjadi itu. Hingga sempat aku bercita-cita menjadi wartawan. 

Saat itu aku sama sekali tidak tahu apa itu wartawan, bagaimana mereka bekerja, dan di mana mereka bekerja. Saat itu, yang aku tahu, aku ingin menjadi wartawan. Dulu, bersama teman akrabku itu, kami sempat bermimpi ingin memiliki sebuah toko buku yang sekaligus dapat menerbitkan buku sendiri. Dan hingga sekarang, aku ingin sekali mewujudkan mimpi tersebut. 

Sejak kecil aku sudah suka menulis, lebih tepatnya menulis diary. Seingatku, aku juga pernah menulis cerita pendek bergenre horor. Namun, aku belum tahu kalau wartawan berhubungan dengan dunia kepenulisan. Hingga tanpa direncana justru saat kuliah aku terlibat dalam dunia jurnalistik. Menjadi bagian dari Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa di fakultasku. Pengalaman pertamaku di dunia jurnalistik, menjadi reporter/jurnalis. Mewawancarai dosen dan mahasiswa lalu menuliskannya menjadi sebuah berita. 

Ketika semester berganti, dan buletin itu terbit, ada perasaan bangga melihat tulisanku dimuat di halaman awal buletin khusus mahasiswa baru tersebut. Rasanya tidak menyangka tulisanku dapat dimuat di suatu media, walau media BPPM fakultasku sendiri. Beberapa bulan setelahnya, ketika aku resmi menjadi bagian dari BPPM itu, aku direkrut menjadi editor. Lagi-lagi itu menjadi pengalaman pertamaku menjadi editor. 

Ternyata bukan hanya di situ pengalamanku menjadi reporter/jurnalis dan editor. Di tempat lain yang kuikuti, seperti di organisasi keislaman dan Pijar Psikologi pun aku mendapat banyak pengalaman menjadi jurnalis dan editor. Walaupun di Pijar baru bulan ini menjadi editor. Jika ditilik ke belakang, ternyata apa yang kulakukan sekarang serupa dengan apa yang kucita-citakan, yaitu menjadi wartawan. Walaupun masih amatir, pengalaman menjadi jurnalis dan editor membuatku belajar banyak hal tentang tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sekaligus semakin membuatku cinta dengan dunia menulis dan jurnalistik. 

Di tahun terakhir ini, selain menjadi psikolog, aku ingin kembali mencita-citakan apa yang kucita-citakan dulu, yaitu menjadi seorang wartawan atau jurnalis. Atau mungkin menjadi editor. Menjadi seorang yang profesional. Soon to be professional! ^^ 

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

8 comments:

  1. Aamiin. . Semogaa segera terealisasii mbaak yaa 😁 menjadi jurnalis begitu menyenangkan, berbagi cerita dan kebermanfaatan lwat tulisan 😊 salam kenaal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ya rabbal alamin :D Terima kasih atas doanya :D Yup, memang menyenangkan, makanya aku ingin, hehe. Salam kenal juga Lucky (?) :D

      Delete
  2. Waaaah keren deh sejak kecil cita-citanya jurnalis. Kalau aku dulu mah pengennya jadi presiden. Tapi ciut duluan ngelihat banyak yg doyan demo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwk, itu karena terpengaruh teman sih :v lebih keren cita-citamu, haha. Ayo, bercita-cita jadi presiden lagi :D Jangan ciut, semangat! :D

      Delete
  3. aamiin.. ikut mendoakan mbak. cita - citaku dulu pengin jadi pramugari. tapi ternyata tinggiku kurang, ikh gemes, padahal rumah udah dekat juanda dan maskapai lagi banyak2nya rekrut dan ada sekolahnya, ya sudah lah ikhlas saja :D sekarang punya cita - cita untuk pergi haji, aamiin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih udah ikut mendoakan :D Weh...percayalah, Tuhan punya skenario yang lebih baik untukmu :") semangat! :D Aamiin, semoga segera menunaikan rukun Islam yang kelima :D

      Delete
  4. Aamiin. aku dulu waktu SD cita-citanya juga jadi astronot, pas smp pengen jadi novelis, pas sma pengen jadi penulis. Kenapa cita-cita selalu disangkutpaut sama profesi ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata cita-cita kita mirip, wkwk. Hmmm, iya juga ya. Mungkin kita udah terskema seperti itu, kalau cita-cita=profesi

      Delete