#22 Dua Novel yang Paling Berkesan

Tahun ini sepertinya ada banyak buku yang kubeli dan pada akhirnya hanya tergeletak di kardus atau di atas printer. Bahkan ada yang terpaksa kujual. Lalu ada juga beberapa buku pemberian beberapa orang yang belum sempat kubaca hingga tuntas. Anehnya ada beberapa buku yang kupinjam dari beberapa orang dan ternyata lebih dulu selesai dibaca dibanding buku yang kubeli. 

Tahun ini target membacaku adalah 35 buku dan sepertinya target itu baru tercapai setengahnya. Namun, dari beberapa buku yang kubaca ada yang membuatku berkesan. 

1. Amelia



Salah satu yang paling berkesan dari novel ini adalah yang memberikannya. Bukan seseorang, tapi instansi. Namun, bukan instansi pemerintah, melainkan penerbit novel itu sendiri. Yup, pihak Republika Penerbit sendiri yang memberikannya padaku dan teman-temanku yang lain ketika kami berkunjung ke sana. Agak tidak menyangka kami akan diberi novel secara gratis oleh mereka. 

Amelia, merupakan novel karangan Tere Liye yang diterbitkan oleh Republika Penerbit. Amelia juga merupakan salah satu dari empat novel serial anak-anak mamak. Novel ini menceritakan Amelia, si bungsu yang sering diejek oleh dua kakak laki-lakinya--Pukat dan Burlian--dengan sebutan penunggu rumah. Sesuatu yang menarik karena stigma anak bungsu memang seperti itu, penunggu rumah. Apalagi jika anak bungsu itu perempuan. 

Bagian yang paling kuingat dari novel ini, yaitu sejauh apapun kita pergi, kita pasti akan kembali  ke kampung halaman, menjadi penunggu rumah. Novel Amelia ini juga sempurna membuat kepikiran berhari-hari, bahkan hingga detik ini. Mengenai bagaimana perasaan orangtuaku jika aku dan adikku tidak tinggal lagi di rumah setelah masing-masing dari kami mempunyai keluarga yang lain. Dan aku jadi penasaran apakah ibuku sedih ketika aku memutuskan merantau, sesedih Mamak yang melepas Eliana untuk merantau ke kabupaten. 

2. Teman Imaji



Ini novel yang paling seru yang kubaca di tahun ini. Bahasanya unik, agak mirip Pidi Baiq tetapi tidak se-absurd tulisan beliau. Namun, diksinya sama-sama serunya. Banyak kata-kata dalam novel ini yang entah kenapa terbawa dalam kehidupanku sehari-hari. Mulai dari JJGJ, baju kejujuran, 'menangkan!', hingga Ranger Biru. Selain diksinya yang seru, ceritanya juga seru walaupun sederhana. Walaupun tetap tentang cinta tetapi dibalut dengan sisi religius yang tidak menggurui. 

Novel ini bercerita tentang Kica, seorang anak kota hujan yang menyukai hujan. Seseorang yang digambarkan introvert dan memiliki 'dunianya' sendiri. Sampai suatu hari dia bertemu dengan Banyu, seorang anak Teknik Sipil yang ternyata teman masa kecilnya. Namun, Kica tidak menyadarinya. Dan kehadiran (kembali) Banyu ternyata cukup mengubah hidup Kica. 

Banyak hal baik yang disampaikan dalam novel ini. Bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang keluarga dan mimpi. Bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang melepaskan dan mengikhlaskan. 

Kalimat yang paling kuingat (walau mungkin tidak sama persis) dalam novel ini, yaitu kunci hanya akan dapat membuka gembok yang tepat, dan gembok akan terbuka oleh kunci yang tepat.

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

3 comments:

  1. Assalamualaikum Rias, wah ditanya nulis yah.. barakalloh semoga semakin banyak menginspirasi πŸ˜ƒπŸ‘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaykumussalam Nova. Eh? Maksudnya "ditanya nulis..." ? .-.

      Aamiin ya Rabb

      Delete
  2. Assalamualaikum Rias, wah ditanya nulis yah.. barakalloh semoga semakin banyak menginspirasi πŸ˜ƒπŸ‘

    ReplyDelete