Mendengar Kematian



Mendengar kematian atau mendatangi suatu pemakaman seringkali membuatku takut. Rasa takut yang begitu saja menyelinap ke seluruh tubuhku. Aku takut umurku berhenti di angka 21. Aku takut ajal datang sebelum aku membahagiakan orangtuaku. Aku takut ajal datang ketika aku belum siap dia untuk datang. Belum siap karena amal baik yang masih kurang. Belum siap karena dosaku yang begitu banyak. Belum siap karena aku masih terlalu memikirkan dunia. Belum siap karena aku belum bertobat, memohon ampun, dan tidak mengulangi perbuatan itu lagi. 

Mendengar kematian atau mendatangi suatu pemakaman seringkali membuatku takut. Rasa takut yang begitu saja menyelinap ke seluruh tubuhku. Terlebih mengingat selama hampir empat bulan terakhir ini aku terus mengonsumsi obat. Hilang satu keluhan, muncul keluhan yang lain. Hilang dua keluhan, frekuensi keluhan yang lain justru semakin sering. Keluhan-keluhan yang terkadang membuatku merasa tidak sabar, merasa ingin menyerah. Dan merasa mungkin sebentar lagi giliranku tiba. 

Mendengar kematian atau mendatangi suatu pemakaman seringkali membuatku takut. Rasa takut yang begitu saja menyelinap ke seluruh tubuhku. Aku takut terlebih dulu meninggalkan orangtua dan adikku. Membuat mereka sedih bahkan sebelum aku sempat membahagiakan mereka. Atau justru mereka meninggalkanku terlebih dulu, sebelum aku sempat berdiri kokoh menjalani hidup ini seorang diri. Tanpa mereka. Aku takut mereka pergi lebih dulu sebelum aku sempat membuat mereka bangga, membuat mereka bahagia.

Mendengar kematian atau mendatangi suatu pemakaman seringkali membuatku takut. Rasa takut yang begitu saja menyelinap ke seluruh tubuhku. Aku takut saat dadaku terasa sesak, ajal datang padaku. Aku takut saat kakiku sulit melangkah, saat perutku nyeri, saat perutku terasa panas, ajal semakin dekat dan bersiap untuk mencabut nyawaku. Aku takut saat aku tertidur, ternyata itu tidurku untuk selamanya. 

Mendengar kematian atau mendatangi suatu pemakaman seringkali membuatku takut. Rasa takut yang begitu saja menyelinap ke seluruh tubuhku. Dan kematian membuatku sadar bahwa itu sesuatu yang pasti, yang seharusnya dipersiapkan dengan baik dari sekarang. Berjodoh dengan kematian itu sesuatu yang pasti, sementara berjodoh dengan manusia itu tidak pasti. Bisa jadi kita terlebih dulu berjodoh dengan kematian sebelum kita sempat merasakan berjodoh dengan manusia. 

Kematian adalah sesuatu yang pasti, yang pasti datang tanpa bisa kita hindari. Tidak peduli kita sudah tua, masih muda, sedang sakit, atau masih sehat. Namun, seringkali kita lalai untuk mempersiapkannya. Dan kematian menyadarkanku bahwa pulang yang sesungguhnya adalah kembali kepada Sang Pencipta. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa memperbaiki diri dan mempersiapkan diri untuk kematian. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment