#26 Improve My Public Speaking Skill

Sumber: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/564x/cc/b5/3e/ccb53e24a0c21932b2c85f7eddda7d1c.jpg


Entah sejak kapan aku sulit sekali untuk bisa percaya diri bicara di depan banyak orang. Apalagi ditambah kepribadianku yang introvert--dan aku terlalu tersugesti olehnya. Padahal ayahku seorang guru, supel dan sering tampil di depan banyak orang. Namun, mungkin karena tidak distimulus sejak kecil, aku pun tumbuh berkebalikan dengan ayahku. Pendiam, pemalu, dan sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan sosialku. Mulai dari aku SD hingga SMA. Bahkan saat kuliah aku masih seperti itu. Sulit untuk berbicara di depan banyak orang. Suaraku tidak stabil, artikulasiku semakin tidak jelas terdengar. Akan tetapi, untuk bicara empat mata sejujurnya aku tidak mengalami kendala, masih dapat kukontrol dengan baik. 

Berkuliah di Psikologi menamparku bahwa aku tidak bisa seperti ini terus. Modalnya psikolog itu ngomong, kata salah seorang dosen. Dan ngomong adalah titik terlemahku. Namun, aku mendorong diriku untuk berubah, setidaknya meningkatkan kemampuan bicaraku di depan orang banyak. Salah satunya dengan mengikuti beberapa organisasi. Di salah satu organisasi aku diberi amanah untuk menjadi Pengurus Harian--sebut saja Bendahara--sehingga terkadang memaksaku untuk memberikan pendapat atau saran saat berkumpul dengan anggota lain dan anggota baru. Seperti membacakan LPJ saat pergantian pengurus, serta menyampaikan pendapat tentang buletin yang dibuat oleh anggota baru saat workshop. 

Sementara di organisasi lain aku diberi amanah untuk menjadi penanggung jawab suatu divisi, yang memaksaku untuk memimpin suatu rapat. Padahal aku sendiri tidak begitu suka rapat. Aku juga memberanikan diri untuk mendaftar sebagai pemandu, mentoring anggota baru organisasi tersebut. Benar-benar memaksaku untuk menjadi pembicara utama. Dan hari ini, aku dipaksa kembali oleh keadaan. Menjadi pembawa acara pelatihan jurnalistik. Suatu hal yang belum pernah kulakukan. Bahkan aku sambil mencontek doa pembuka suatu acara. 

Selain organisasi, di liqo pun aku belajar untuk berbicara di depan orang banyak, seperti menjadi pembawa acara atau pengisi kultum. Selain itu di suatu program S2 yang berbentuk konseling kelompok kami semua diberi kesempatan untuk berbicara, mengemukakan pendapat dan perasaan kami. Seperti biasa aku enggan untuk memulai terlebih dulu. Namun, di salah satu satu, entah kenapa aku memiliki inisiatif untuk terlebih dahulu berbicara dan menanggapi pernyataannya temanku.

Walau hampir semuanya kulakukan dengan tidak lancar, masih gagap saat berbicara, membeku, terbata-bata, dan kurang jelas, tetapi aku merasa belajar banyak hal. Bahwa untuk lancar berbicara di depan orang banyak, kita harus banyak berlatih, berani, tidak tahu kalau tidak ada yang mendengar, dan harus mempersiapkan segalanya dari jauh hari (ini untuk konteks presentasi atau hal serupa lainnya). Dan jangan pernah lelah untuk belajar. 

***
Yogyakarta, 26 November 2016

Share this:

0 comments:

Post a Comment