Dua Sidang


Hari ini ada dua acara penting yang terjadi, yang bernama sama, yaitu sidang skripsi atau pendadaran. Sidang pertama adalah sidang seniorku, satu minggu sebelumnya bahkan sudah memberitahukan bahwa hari ini dia sidang skripsi. Serta meminta aku dan teman-teman untuk hadir di sidangnya sekaligus agar tahu bagaimana rasanya sidang. Saat memasuki ruang sidang, atmosfer ketegangan mulai terasa. Kursi-kursi penonton yang berjumlah sekitar 10 kursi pun hampir terpenuhi. Sekitar pukul 13.30 dua dosen penguji dan dosen pembimbing skripsi seniorku mulai memasuki ruangan. Seketika pintu ditutup. Ketegangan semakin meningkat. Entah mengapa jantungku ikut berdegup kencang. Sekilas kulihat wajah seniorku yang sedikit tegang. Dosen pembimbing skripsi seniorku yang membuka sidang kali itu dengan berdoa bersama. Usai berdoa, sang dosen memberi pilihan pada seniorku untuk presentasi skripsi terlebih dahulu atau langsung dibantai. Dengan mantap seniorku memilih untuk mempresentasikan hasil skripsinya. 
Melihat seniorku berdiri di situ rasanya seperti kelegaan karena kucukup tahu bagaimana perjuangannya menyelesaikan skripsi. Presentasi hasil skripsi pun dimulai. Seniorku tampak begitu tenang saat menjelaskan hasil skripsinya. Mulai dari latar belakang hingga saran. Walau beberapa kali terdengar salah ucap. Kulihat wajah-wajah ketiga dosen tersebut--yang juga dosenku. Salah satu dosen penguji bahkan terlihat memejamkan mata hampir di sepanjang presentasi skripsi. Begitu presentasi skripsi selesai, sesi pembantaian pun terjadi. Kupikir tidak akan ada banyak pertanyaan yang diajukan karena dari presentasi kulihat sudah baik. Namun, dugaanku salah. Begitu banyak pertanyaan yang diajukan oleh dua dosen penguji dan dosen pembimbing skripsi seniorku. Membuatku yang tadinya tidak ingin mencatat, dipaksa untuk mencatatnya di note ponselku. Kuanggap sebagai pembelajaran ketika aku berada di posisi seniorku nantinya. Banyak sekali pertanyaan yang diajukan yang sebenarnya cukup mendasar. Kasarannya, apa sih masalah penelitianmu? Apa itu memang penting? Atau cuma kamu yang menganggapnya sebagai sebuah masalah? Lalu tujuan penelitianmu itu apa? Walau yang disidang seniorku, tetapi aku tetap merasakan kegugupan itu terutama saat dibantai seperti itu. Bahkan dosen penguji yang sepanjang presentasi memejamkan mata justru yang paling banyak bertanya dan berpendapat. Deg. Parah nih dosen, gumamku. 
Walah, iki jare mung nganti jam setengah telu. Tapi saiki ameh jam 3 rung rampung (?),” gurau dosen pembimbing skripsi seniorku berusaha mencairkan ketegangan. Mendekati jam 3 ketiga dosen tersebut menyudahi sesi pembantaian,meminta kami--para penonton dan seniorku untuk keluar. Sebab mereka sedang berunding mengenai hasil presentasi skripsi seniorku. Usai keluar dari ruangan itu aku kembali memeluk seniorku. Beberapa saat kemudian seniorku dipanggil oleh ketiga dosen tersebut. Aku dan teman-teman menunggu dengan tidak tenang. 
Tiba-tiba ponselku bergetar. Satu notifikasi Line dari teman SMA-ku yang mengabarkan kalau dia sudah di depan Psikologi. Seketika aku merasa bingung. Harus bergegas pergi atau ikut menunggu hasil presentasi skripsi seniorku. Berkali-kali aku bertanya ke teman-temanku, mereka pun menggeleng tidak tahu. Ponselku kembali bergetar. Satu notifikasi Line dari orang yang sama, memintaku untuk segera keluar. Dengan perasaan tidak kepenak dengan seniorku, aku pun bergegas pergi. “Sampaikan maafku buat mba ya, semoga hasilnya sesuai yang diharapkan,” pamitku yang ditanggapi dengan anggukan kepala. 
“Udah dari tadi ya?”
“Lumayan. Yuk, udah pada di FK tuh.”
“Sume (tapi aku menyebut nama asli saat aku bertanya pada teman SMA-ku itu) udah keluar po?”
“Belum sih. Masih di ruangan kata X.”
Aku ber-oh, lalu naik ke atas motor temanku. Kami pun bergegas menuju FK UGM. Namun, parkir di dekat RSGM. Bukan tempat parkir yang seharusnya kami tuju. 
“Kamu tahu tempatnya?” tanya temanku.
Aku menggeleng. “Cuma tahu kalau di Grha Wiyata lantai 1. Ya udah, nanti tanya satpam.”
Temanku mengangguk. Kami pun mempercepat langkah kaki kami untuk sampai di ruangan tersebut. Begitu mendekati pintu masuk Jalan Farmaco kami bertemu dua teman kami yang sedang bertransaksi dengan supir ojek online yang mengantar hadiah kami. Dua buket jajan, merah maroon dan biru dongker. 
Sidang kedua dari temanku yang lain ini sangat membuatku kaget. Saat itu aku tengah asik menulis sesuatu di blog--pertama kalinya kulakukan saat naik kereta--tiba-tiba temanku memberi kabar yang sangat mengejutkanku. “Yas, Sume (dia menyebut nama asli, sebenarnya) hari ini pendadaran. Datang, yuk!” Perasaanku saat itu antara kaget, senang, tapi mangkel karena bukan dari orangnya langsung. Lalu kubalas dengan serentetan pertanyaan. Dan bernapas lega, sidang skripsinya selesai setelah sidang skripsi seniorku di Psikologi. Siangnya aku chat Sume, memberi semangat dan marah-marah karena tidak dikasihtahu secara langsung. 
Rasa tegangku saat menghadiri sidang skripsinya Sume terasa berbeda. Tidak setegang saat seniorku disidang. Mungkin karena aku juga masuk ke ruangan ketika seniorku di sidang. Sementara saat sidang skripsinya Sume, aku, ketiga temanku, dan dua temanku yang sedari sudah datang menunggu di luar karena Sume sedang menunggu hasil sidangnya. Wow, banyak banget yang dateng, gumamku ketika kulihat teman-teman Sume--yang sepertinya anak FK semua--menunggu di depan Ruang Tutor. Beberapa saat kemudian Sume pun datang sembari membawa beberapa berkas. Wajahnya terlihat begitu ceria. Teman-temannya pun langsung antusias menyambut kedatangan Sume. Menyerahkan beberapa hadiah. Sementara kami hanya berdiri, sedikit menjauh dari teman-temannya. Lalu dia pun menghampiri kami, menyapa, dan langsung mengambil hadiah dari kami. Setelah itu dia kembali dengan teman-teman FK-nya. Keluar dari gedung, membuat kami mengekor di belakang. Saat kami tengah menunggu antrean foto bersama Sume, ketiga temanku yang lain pun datang. Kami segera menghampiri mereka. Menyapa mereka dengan wajah antusias. 
Sekitar jam 4 kurang tiba-tiba Sume menghampiri kami. “Mau foto sekarang atau nunggu yang lain. Kayaknya sebentar lagi mereka datang.”
“Nunggu lengkap dulu aja.”
“Oh, ya udah.” Sume pun kembali berfoto dengan teman-teman FK-nya. 
Tidak berselang lama, empat temanku yang lain datang. Dua di antaranya bahkan jauh-jauh dari Purwokerto. Setelah pasukan lengkap kami langsung mengambil alih untuk foto bersama Sume. Mulai dari formasi lengkap, teman-teman Sepit Masal (X-7), teman-teman Dalban (IPA-6), OSIS, mantan, dan teman-tanpa-status-hubungan. Aku merasa seperti reuni kecil SMA saat bertemu, berfoto, dan berbincang bersama mereka. Usai berfoto, kami pun berpisah, ada yang langsung pulang, ada yang mampir entah ke mana. Sementara aku, Sume, dan keempat sisanya tetap stay di Grha Wiyata. Setelah aku dan Sume menunaikan salat, kami mengobrol sejenak sembari menunggu dia makan. “Aku lulus tanpa revisi,” katanya ketika ditanya tentang hasil sidang tadi. Seketika membuatku takjub. Usai makan dan pesanan ojek online kami datang, kami bergegas menuju McD Soedirman. 
“Mau pulang kapan Li?” tanya G, seketika membuat temanku yang berinisial A kesal karena baru beberapa saat duduk dan menyantap eskrim. 
Mendekati jam 6 mereka pamit kembali ke Purwokerto karena kereta yang mereka pesan berangkat pukul 18.30. Sume dan salah satu temanku yang laki-laki bergegas mengantar mereka ke stasiun. Meninggalkan aku dan salah satu temanku yang perempuan. Teman yang saat SMA hanya bertegur sapa, tanpa banyak mengobrol karena tidak pernah satu kelas dan organisasi. Dari dialah aku mendapat seekor kucing bernama Eci atau Kreacher (nama aslinya). Namun, keadaan saat itu memaksaku dan dia untuk mengobrol. Walau di awal terasa kaku, terlebih aku, tetapi lama-lama mencair juga. Membicarakan banyak hal, mulai dari kucing hingga pindah jurusan. Tidak berselang lama Sume dan temanku yang laki-laki pun kembali datang. Akhirnya tinggal kami berempat yang berada di situ. Mengobrol ngalor-ngidul-ra cetho. Dan lagi-lagi keadaan memaksaku untuk mengobrol dengan temanku yang laki-laki itu. Sebab sama seperti temanku yang perempuan, yang tidak pernah sekelas dan satu organisasi. Baru mendekati pukul 20.00 kami beranjak dari tempat itu. Aku dan temanku yang perempuan berpamitan pada Sume dan temanku yang laki-laki. Arah pulang kami pun berbeda. Dua laki-laki itu ke arah utara sementara aku dan temanku yang perempuan ke arah selatan untuk putar arah menuju kosku. 
Dan dua sidang skripsi itu memberi pelajaran banyak bagiku. Meningkatkan semangatku dan membuatku ingin segera menuntaskan skripsiku ini. 
Dan selamat untuk seniorku dan Sume yang sudah didadar. Selamat untuk kalian. Semoga ilmu kalian berguna untuk nusa, bangsa, dan agama. Doakan aku segera menyusul kalian, meraih gelar S.Psi. ^^

Terima kasih sekali juga buat Sume yang sering kujadikan tempatku bertanya soal penyakitku. 
***
Yogyakarta, 11 November 2016

Share this:

0 comments:

Post a Comment