Tentang Kebersyukuran dan Kesabaran di Balik Sakit



Ternyata banyak cara yang Allah berikan untuk membuat hamba-Nya lebih bersyukur, mensyukuri segala nikmat yang Dia berikan. Salah satu cara yang paling sederhana adalah menguji hamba-Nya dengan suatu penyakit. Termasuk yang aku rasakan sekarang. 

Selama hampir tiga bulan ini bolak-balik ke GMC untuk periksa, tes urin, dan meminta surat rujukan. Empat kali tiap pekan kontrol dokter ke RSA hingga akhirnya dirujuk untuk endoskopi. Empat kali berturut-turut dalam seminggu ke Sardjito untuk periksa, tes urin, kultur urin, dan kontrol. Selama itu pula aku selalu mendapatkan sebuah nikmat, rasa bersyukur, setiap kali aku ke  GMC-RSA-Sardjito. 

Alhamdulillah aku tidak dirawat inap--walau aku pernah meminta dirawat inap saking bosannya rawat jalan. Alhamdulillah aku masih dapat melangkahkan kedua kakiku dengan baik tanpa bantuan kursi roda atau alat bantu lainnya. Alhamdulillah aku masih dapat bernapas dengan organ tubuhku. Sebab setiap kali ke sana, entah GMC, RSA, atau Sardjito, aku merasa bahwa aku terlalu lemah dalam menghadapi penyakitku sendiri. Ternyata masih banyak yang mengalami penyakit yang (maaf) lebih parah dariku. Namun, mereka tetap sabar dan kuat menghadapi penyakitnya. 

Pagi ini, aku kembali lagi ke Sardjito, mengambil hasil kultur urin lalu bergegas masuk ke ruang Poliklinik Penyakit Dalam, bagian Gastro dan Tropmed (Tropikal Medis). Begitu namaku dipanggil, aku langsung masuk ke bagian Gastro. 

"Tunggu sebentar ya mba." Aku mengangguk sambil melirik sekilas ke kedua dokter yang ada di depan dan sampingku. Dokter yang di depanku terlihat sedang menyalin sesuatu dari satu hasil pemeriksaan ke kertas hasil pemeriksaan yang masih kosong. Aku menunggu beberapa menit dengan agak sedikit kesal. Aku harus nunggu sampai kapan nih Dok? gumamku. Sekitar 10 menit kemudian, aku baru tahu kalau dokter yang ada di samping sedang berkonsultasi dengan dokter yang ada di depanku. 

Setelah dokter yang ada di sampingku pergi, dokter yang ada di depanku mengalihkan pandangannya padaku. Lalu membuka sebuah map yang berisi riwayat kontrolku sambil menanyakan keluhanku. Seperti biasa aku menceritakan kronologis penyakitku. Lalu aku menyerahkan hasil tes urin dan kultur urin yang kulakukan di Sardjito, hasil tes urin yang kulakukan di GMC, serta obat-obat yang sedang kukonsumsi. Setelah melihat hasil tes tersebut, sang dokter menjelaskan padaku mengenai hasil tes urin dan kultur urin tersebut. Ternyata tidak ada masalah dengan ISK. 

"Sebentar ya. Oya, itu temannya boleh ikut masuk kok." Aku mengangguk lalu memanggil seniorku--yang ternyata sedang tertidur--untuk masuk ke dalam ruangan. Beberapa menit kemudian sang dokter datang. Menjelaskan beberapa lalu memintaku berbaring ke kasur pasien, diperiksa, dan memang main factor-nya ada di bagian ulu hati. 

"Ini harus di USG dulu ya mbak..." kata sang dokter sambil merobek secarik kertas putih untuk ke Instalasi Radiologi dan kertas hijau untuk Instalasi Patologi Klinik. Aku melirik sekilas ke arah kertas putih tersebut. Ternyata sang dokter melingkari dan mencentang USG Upper Abdomen. 

"...sama dicek darahnya juga." Kini sang dokter beralih ke kertas hijau, melingkari bagian pankreas yang memuat amilase dan lipase

"Itu kapan ya Dok?"

"Kalau bisa besok, harus puasa juga kan?"

"Wah, besok banget? Kalau Jumat bagaimana Dok? Soalnya Kamis saya sudah sering tidak masuk kuliah. Kalau Jumat juga sebenarnya ada kuliah."

"Tidak apa-apa, yang penting secepatnya. Nanti saya buatkan juga surat keterangan sakit."

Lalu sang dokter kembali menjelaskan ulang yang belum kupahami. Setelah itu sang dokter mengambil secarik kertas lagi. 

"Ini saya kasih Lansoprazole, Domperidone, sama Sucralfate. Obatnya cuma untuk 5 hari. Jadi sebelum obatnya habis, kontrol lagi ke sini."

Aku dan seniorku mengangguk. Aku mengambil map yang berisi riwayat kontrolku. Lalu menyerahkannya ke bagian perawat Tropmed. 

"Nanti setelah pasien yang di dalam, jenengan mlebet nggih."

Aku dan seniorku mengangguk. Lalu menunggu di depan ruang 3, bagian Tropmed. Tidak berselang lama, giliranku tiba. Aku menyerahkan seluruh hasil tes urin dan kultur urin serta kertas berwarna hijau dan putih. Kami ngobrol banyak dengan sang dokter. Dan kesimpulannya aku tidak ISK, tapi ada kecenderungan ISK karena hasil tes urin sebelumnya memperlihatkan jumlah bakteri yang banyak dari yang sewajarnya ada. Lalu sang dokter mencentang dan melingkari USG Lower Abdomen di kertas putih yang diberikan dokter bagian Gastro. 

Setelah urusan di bagian Poliklinik Penyakit Dalam selesai, kami bergegas mengambil obat yang ternyata prosedurnya cukup ribet dan antrenya cukup melelahkan. Dan setelah benar-benar selesai, kami bergegas pulang. 

Sekitar jam 2 kurang aku baru makan siang, dan sorenya, sesampainya di tempat technical meeting aku langsung bergegas mencari kamar mandi. Aku ingin vomitus, teriakku dalam hati sambil berlari kecil menuju kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, aku langsung muntah hampir tiga kali. Rasanya tidak karuan. Dan seselesainya technical meeting, aku bergegas ke kamar mandi lagi, dan vomitus lagi. Aku menghela napas dalam-dalam dan berkali-kali lalu ber-istighfar. Rasanya sungguh tidak mengenakan. 

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu." Kini menjadi kutipan ayat favorit, mengingatkanku untuk terus bersabar dalam menghadapi semua ini dan terus menguatkan kesabaranku saat kesabaranku mulai melemah. 

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments: