#21 Three Lessons

Sumber: https://scontent.cdninstagram.com/hphotos-xfa1/t51.2885-15/e15/11312312_955111534541358_860898755_n.jpg

Tema hari-21 ini agak unik, yaitu what three lessons do you want your children to learn from you? Padahal aku belum menikah, apalagi punya anak. Dan kalau membicarakan masalah pernikahan ke teman-teman perempuanku, "Umur berapa kamu akan menikah?". Rata-rata akan menjawab di atas 26 tahun. Dan seketika aku merasa inferior karena target nikahku bisa dibilang terlalu muda. Padahal tidak juga sih. Aku jadi ingat, di salah satu mata kuliah, dosenku pernah mengatakan, saat beliau pertama kali mempunyai anak, seluruh ilmu psikologinya diterapkan pada anaknya tersebut. Dan sepertinya aku akan melakukan yang sama nantinya. 

Membicarakan menikah, terlebih di umur segini (20+) seperti sebuah keharusan, trending topics. Dan menikah bukan sekedar, "I love you, you love me. And let's get married." Pertanggungjawabannya bukan sekedar ke pasanganmu, tapi juga ke anak-anakmu nanti. Bagaimana kalau dirimu masih "belum baik" dari segi agama, kematangan emosi masih belum stabil? Bagaimana generasi yang "kamu ciptakan" nantinya akan mengikuti ke-"belum baik"-kanmu itu? Nobody's perfect, but you have to upgrade yourself not only for your future husband/wife, but also for your future children--to make your new generation better than you. And I feel so childish to get married right now. 

Seorang dosen pernah bergurau, "Kapan lagi bisa belajar cinta, kalau bukan di Psikologi?" That's true. Di teori segitigany Stenberg juga mengungkapkan bahwa ada tiga pilar cinta, yaitu passion, commitment, dan intimacy. Dan nantinya, komitmen lah yang paling menjadi faktor utama utuhnya sebuah hubungan (rumah tangga). Kalau di mata kuliah Rentang Perkembangan Manusia, Baumrind mengatakan ada empat gaya pengasuhan (parenting), yaitu authoritarian, authoritative, neglectful, dan indulgent/permissive. Kata dosen, tidak mungkin orangtua mutlak hanya menggunakan satu gaya pengasuhan, pasti gabungan satu atau dua gaya pengasuhan. Dan dari keempat gaya pengasuhan itu, jelas authoritative lah yang paling baik karena tidak mengekang anak, juga tidak membiarkan anak. 

So, what three lessons I wanna give to my (future) children? 

1. Bersyukur 

Aku ingin mengajari anak-anakku nanti kebersyukuran. Bahwa Allah telah memberikan rezeki pada masing-masing orang. Bahkan rezeki itu bisa digolongkan sebagai kenikmatan atau ujian. Artinya, kita tidak boleh menyombongkan suatu rezeki (dalam konteks ini materi atau barang) yang kita punya karena bisa jadi itu ujian bagi kita. Dan rezeki itu pun hanya bersifat sementara, suatu saat nanti akan kembali ke pemilik aslinya. Jadi, tetaplah bersyukur, sekalipun kamu sedang diuji. Sekalipun kamu sedang ada masalah. Sebab sesungguhnya alam semesta ini pun nikmat dari Allah, yang seharusnya kamu syukuri. Jadi, aku ingin sekali membawa anak-anakku kelak ke pantai atau gunung agar mereka mensyukuri semua nikmat yang Allah berikan pada kita. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

2. Sabar

Poin kedua ini juga masih berhubungan dengan poin pertama. Setiap orang pasti pernah diberi ujian dalam bentuk yang berbeda-beda. Kunci penting dalam sebuah ujian adalah sabar. Aku ingin menceritakan pada anak-anakku kelak bagaimana sabarnya ibunya dalam melawan penyakitnya. Walau seringkali mengeluh. "Inna ma'al 'usri yusran, sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan." Allah pasti tahu batas kita, kemampuan kita sehingga ujian yang Dia berikan pun sesuai dengan kapasitas kita. "Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu." Di satu titik, pasti kita pernah mengalami I wanna give up, aku tidak kuat dengan semua ini. Seharusnya di saat itu pulalah, kamu harus melihat orang lain, yang diberi ujian lebih besar darimu tapi mereka begitu sabar menghadapi ujian yang diberikan. Enjoy their life, sampai kita tidak menyangka masalah yang mereka miliki ternyata begitu berat. 

3. Bertanggung jawab

Aku adalah anak pertama, perempuan pula. Ibuku adalah orang yang protektif. Ada beberapa larangan yang secara tidak tertulis beliau buat, yaitu tidak boleh naik motor saat malam hari, tidak boleh pergi sendirian, tidak boleh naik gunung, dan tidak boleh-tidak boleh lainnya. Dan karena aku bukanlah anak yang penurut dan a little bit rebel. Semenjak merantau, seperti burung yang baru saja dibebaskan dari sangkarnya, larangan itu hampir semua kulanggar. Beberapa kali aku naik motor saat malam hari, sering pergi sendirian bahkan hingga ke luar kota, dan tiga kali naik gunung. Bahkan untuk merantau pun aku merayu Ibu hampir setiap hari. Sampai akhirnya Ibu mengatakan, "Ya, kamu boleh daftar UGM, tapi pilihan keduanya harus Unsoed." Dan ternyata aku diterima di pilihan pertama (universitasnya)--pilihan kedua (jurusannya). 

Mungkin saat aku punya anak nanti (terutama anak perempuan), ke-tidak-boleh-an itu akan kukurangi. Aku tidak ingin anakku merasa terkekang dan akhirnya "memberontak". Mungkin aku akan mengatakan, "Kamu boleh naik motor saat malam hari, boleh pergi sendirian, boleh naik gunung, boleh kuliah di luar kota, asal kamu bertanggung jawab atas pilihanmu tersebut. Bertanggung jawab pada dirimu sendiri. Kamu harus siap atas segala risiko yang kamu terima. Termasuk kalau terjadi apa-apa denganmu dan tidak ada seorang pun yang menolongmu. Namun, percayalah, Allah akan selalu menemanimu. Selain itu, saat memilih universitas dan jurusan, jangan sampai kamu merasa salah jurusan. Pilihlah karena kamu suka dan minat di situ. Bukan karena ikut-ikutan atau tergiur dengan gaji profesi tersebut."

Share this:

0 comments:

Post a Comment