#24 Loving



Challenge hari ke-24 ini agak sulit untuk dituliskan karena temanya adalah write about a lesson you've learned the hard way. Sebab, selain beberapa mata kuliah yang menurutku sulit untuk dipelajari, banyak juga pelajaran hidup yang menurutku sangat sulit untuk dipelajari atau diambil hikmahnya. Seperti beberapa tulisanku sebelumnya yang telah banyak membahas mengenai kebersyukuran dan kesabaran. Mungkin kali ini aku akan membahas pelajaran hidup lainnya, yaitu tentang cinta. Karena ada banyak pelajaran yang kudapat dari cinta, loving someone. 

One of psychologist ever said,"Loving someone is the gift from God. When you love someone, you will feel all the emotions, either positive or negative. Just enjoy it, but don’t expect anything, including expect having him/her." Ya, mencintai merupakan fitrah manusia, karunia yang diberikan oleh Allah. Sesuatu yang tidak bisa kita sangkal datangnya. Namun, sebenarnya kita bisa mengontrol rasa itu, walau terkadang terasa begitu sulit. Banyak distraktor atau faktor-faktor lainnya yang membuat cinta "tidak murni" berbentuk cinta. Tidak berjalan di jalan yang lurus sehingga terkadang membuat diri ini merasa munafik atau merasakan pergulatan batin. 

Saat mencintai seseorang, hal yang tidak boleh dilakukan adalah berharap dia akan mencintai kita juga. Sebab, saat kita telah berekspektasi, dan ekspektasi tersebut tidak terwujud, kita jugalah yang merasakan kekecewaan itu. Bahkan saat kita merasa dekat dengan seseorang, entah memiliki status atau tidak, kita harus menyadari bahwa bukan berarti yang sedang dekat dengan kita adalah jodoh kita. Apalagi saat kedekatan itu memiliki status, kalau kata Pidi Baiq tujuannya adalah untuk putus, bisa karena berpisah atau menikah. Dan sebelum kita menjalani kedekatan itu, kita harus mengetahui risiko tersebut. 

Sebenarnya ada banyak hal yang kupelajari tentang cinta, terutama saat mencintai seseorang. Pertama, yaitu memperbaiki diri seharusnya bukan karena dia, ingin mendapat dia untuk kita. Namun, seharusnya lebih dari itu, memperbaiki diri itu seharusnya karena Dia. Sebagai hamba-Nya, seharusnya segala perbaikan diri yang kita lakukan memang ditujukan untuk Dia, bukan karena dia. Kedua, cinta mengajarkanku tentang mengikhlaskan dan merelakan. Mungkin karena kedekatan kalian telah berakhir. Mungkin juga karena orang yang kamu cinta telah memilih dan memperjuangkan yang lain. Mau tidak mau, suka atau tidak, kita harus mengikhlaskan dia dan merelakan dia untuk orang lain, yang telah dipilihnya. Ketiga, love is blind. That's the fact. Bahkan kita bisa melakukan sesuatu hal yang sebenarnya bertentangan dengan prinsip kita, alih-alih kita melakukannya karena cinta. I will give and do everything just for him. 

Keempat, terkadang aku merasa lebih baik "aku tidak tahu kamu suka atau tidak, tapi aku tahu aku suka kamu" . Sebab saat situasi, waktu, dan segalanya terlihat atau terasa salah atau kurang tepat, saat kita tahu orang yang kita cinta juga mencintai kita, justru kita yang akan merasakan kekecewaan itu. Karena telah ada ekspektasi yang muncul saat seseorang mengungkapkan perasaannya pada kita. Padahal kita tahu bahwa kita dan dia tidak akan bisa bersama. Kalau kata Tulus, selalu bersama tapi tak bisa bersatu. Dan yang kelima--yang pernah kudengar dari salah satu radio online--, terkadang kita tidak sadar bahwa cinta yang paling keren itu cinta Tuhan kepada hamba-Nya. Sebab kita terlalu mengagungkan cinta yang kita punya atau cinta yang dia berikan pada kita. 

Ah ya, usia 20+ seperti ini memang usia yang riskan, terlebih saat membicarakan cinta dan jodoh. Mengulang dari paragraf kedua tadi, "...When you love someone, you will feel all the emotions, either positive or negative. Just enjoy it, but don’t expect anything...". Kalau kataku, "...Selalu ada kenikmatan dalam setiap penantian. Selalu ada keberkahan dalam setiap kebaikan. Bersabarlah dalam menanti."

Share this:

0 comments:

Post a Comment