JJGJ dengan Sesama Pejuang Skripsi


Semakin ke sini, terkadang aku semakin menyadari bahwa aku tidak se-introvert yang kupikirkan. Di tahun ini bahkan aku kopi darat atau jalan dengan orang-orang yang baru kukenal melalui suatu komunitas. Termasuk dengan perempuan dalam foto tersebut. Perempuan yang secara sosial satu tahun di atasku (2012) tetapi secara biologis kami lahir di tahun yang sama. Kami pertama kali bertemu di suatu organisasi kepenulisan September kemarin. Rela bolak-balik dari Solo-Klaten-Jogja-Solo lagi untuk mengikuti writing class tiap Sabtu itu. Namun, dia yang paling rajin datang, tidak pernah absen satu kali pun. Sama sepertiku, Shofya juga sedang berjuang menyelesaikan skripsinya (*eh. Semangat qaqa). 

Beberapa pertemuan awal, kami masih saling kenalan tiap kali writing class akan dimulai. Tidak langsung ingat nama masing-masing, walau familiar dengan wajah. “Kamu punya permen nggak?” atau “Minta minum dong,” itulah dua kalimat yang sering diucapkan Shofya. Bahkan saat aku menawarkan Chuppa Cup*, walau dia bilang tidak mau, tapi dia tetap menerimanya. Namun, permen itu dia pukulkan ke lantai agar terbagi menjadi beberapa keping.
JJGJ atau jalan-jalan nggak jelas semingguan sebenarnya tidak begitu terencana. Terlebih keadaanku saat itu sedang mengalami sembelit. Setelah bertukar akun Tumblr saat writing class, beberapa hari setelahnya, saat tragedi 411, aku iseng men-chat-nya lewat message Tumblr.
Oy.”
What? Ngajak aksi?” tanyanya.
Aku tertawa. “Ya kali. Mau ngajak JJGJ. Kamu ke Solo hari Minggu atau Senin? Pengen maen ke Klaten atau Solo. Bosen di Jogja
“Kapan nih? Ke solo yuk. Klaten lebih boseni timbang Jogja.”
“Minggu besok ini banget,”balasku sambil tertawa.
Akhirnya kami pun merencanakan untuk JJGJ ke Solo tanggal 6-nya. Namun, sejak Sabtu dini hari perutku sudah tidak karuan. Sangat nyeri. Terutama karena sembelit yang kualami. Seharian itu pun aku harus bolak-balik ke kamar mandi walau terasa sia-sia. Namun, aku tetap paksakan untuk datang ke dua acara di sore dan malam harinya. Dan untungnya aku mendapat pinjaman motor. Sabtu malam aku pun menginap di kontrakan seorang senior agar dia lebih mudah untuk mengantarku ke stasiun Minggu paginya. Di hari Minggu, keadaanku belum terlalu membaik, tetapi tetap kupaksakan untuk ke Solo karena sudah berjanji untuk datang.
Sesampainya di Solo, di depan pintu gerbang stasiun Shofya menungguku. Ternyata dia baru saja pulang dari Klaten. Lalu aku pun naik di atas motornya.
“Rencananya kamu mau ke mana aja nih?”
Aku menggeleng. “Nggak tahu.”
“Oh iya, JJGJ ya.”
“Yoi, jalan-jalan gak jelas.
Usai dari stasiun, dia mengajakku untuk ke rumah kakaknya--yang berada di Karanganyar--untuk menaruh barang-barang yang dibawa. Sesampainya di sana, ternyata tidak ada seorang pun yang menjawab ketukan atau salamnya. Akhirnya kami kembali ke Solo, bergegas menuju asramanya. Aku cukup kaget saat melihat bentuk asramanya yang (maaf) terlihat kurang terawat. Dan saat aku berkomentar seperti itu, dia pun mengiyakan komentarku. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, kamar pun terbuka. Dia segera menaruh sebuah tas yang cukup besar dan aku pun ikut menaruh beberapa barangku. Ketika kami di asramanya, dia menanyakan kepada teman sekamarnya beberapa tempat serta jarak dan waktu tempuh untuk menuju sana. Setelah dia menimbang-nimbang, dia pun bilang, “Ayo, ke Kebun Teh Kemuning aja.” Aku mengangguk setuju. “Asal waktunya cukup, aku nggak masalah.”
“Yuk.”
“Yuk. Cari makan dulu tapi,” pintaku.
Dia mengangguk. Lalu mengajakku ke sebuah warung soto ayam favoritnya. Tempatnya cukup luas dan enak untuk nongkrong. Usai makan, sekitar jam 9.30, kami beranjak dari tempat itu. Berbekal GPS ponsel dan bertanya pada orang-orang, kami pun sampai di Kebun Teh Kemuning, Karanganyar. Kebunnya begitu luas seperti di Gucialit Lumajang. Namun, akses jalannya sangat mulus, beraspal semua, dan tidak begitu curam. Tidak seperti akses jalan menuju Kebun Teh Gucialit dan Kebun Teh Nglinggo. Kebun Teh Kemuning memiliki beberapa bukit, salah satunya bernama Bukit Teletubbies. Setelah memakirkan motor di sebelah warung, kami pun bergegas ke atas, salah satu bukit dari Bukit Teletubbies. Naik naik ke atas untuk mencari spot bagus untuk berfoto. Sayangnya, saat itu cuaca sedang mendung sehingga sedikit menutupi keindahan Kebun Teh Kemuning.
“Coba foto pakai hapeku,” pintanya saat kami ingin selfie (atau we-fie?). Setelah beberapa kali take foto dan melihat hasilnya, dia mengatakan, “Memang kamera dusta.” Sebab cahayanya terlihat lebih terang dan sedikit berbeda dengan aslinya. Menjelang Dhuhur, kami pun turun ke bawah. Aku berjalan dengan sangat tertatih sambil memegang ranting yang ada di pinggir.
“Ya Allah Yas, jalanmu udah kayak mbah-mbah. Pelan banget.”
Aku hanya tertawa. “Makasih ya, Cu.”
Sebelum benar-benar meninggalkan kebun teh, kami bercerita banyak hal. Mulai dari hal yang tidak penting sampai ke hal yang penting. Dan kulihat dia cukup dewasa saat mengatakan beberapa hal. 
“Mau nyoba ke Candi Cetho nggak?” katanya saat kami sudah turun, tapi tidak jauh dari kebun teh. 
“Mau.”
“Motorku kuat nggak ya?”
“Kamu yakin nggak tapi? Kalau nggak yakin nggak usah aja.”
“Nggak yakin sih.”
Akhirnya kami bergegas kembali ke Solo, tidak jadi ke Candi Cetho. Sekitar jam 3 kurang kami kembali ke asrama. Setelah itu mampir di sebuah tempat makan, sekaligus untuk salat. Sekitar jam 4 pesanan yang kami pesan datang. Usai makan, tiba-tiba perutku terasa nyeri. Timbul dan hilang. Sekitar jam 5 kurang kami sampai di stasiun.
“Maaf ya, kalau kamu jadi semakin sakit.”
“Nggak apa-apa, santai aja Shof.”
Dia pun bergegas pergi, aku langsung berlari menuju loket. Dan sangat terkejut melihat antrean Prameks yang mengular panjang. Duh, nggak bisa pulang nih, gumamku. Saat aku ingin menghubungi seorang teman, tiba-tiba saja ponselku mati. Aku keluar dari antrean panjang itu dan kembali menuju depan loket, mencari tempat untuk charge ponsel. Tidak disangka, ternyata aku bertemu kembali dengan dua mahasiswa Kampus Biru yang tadi pagi satu gerbong denganku.
“Kalian naik apa?”
“Senja Utama Solo, mbak.”
“Masih ada nggak ya?”
“Coba dulu aja mbak.”
“Titip hapeku ya.”
Aku kembali berlari menuju loket tiket. Berganti mengantre di barisan penumpang kereta jarak jauh. Alhamdulillah, kesabaranku tidak sia-sia. 15 menit sebelum kereta berangkat, tiket Senja Utama Solo sudah ada di genggamanku.
Pukul 18.35 kereta sampai di Stasiun Tugu. Nyeri perutku semakin terasa perih dan sembelitku membuatku berlama-lama di kamar mandi. Merintih kesakitan hingga menggigit kerudung.
Aku menelepon kedua temanku, tetapi mereka tidak bisa menjemputku sehingga aku terpaksa naik Trans Jogja. Namun, saat berjalan dari stasiun menuju halte, aku merasa tidak kuat jalan. Apalagi jika tiba di Halte UNY, aku harus berjalan lagi menuju kosku. Akhirnya aku menelepon teman SMA-ku sambil sesenggukan. Dengan cepat, dia mengiyakan untuk menjemputku.
Dan Senin paginya aku masuk IGD karena nyeri perutku masih terasa dan sembelitku semakin menyakitkan.
Ternyata, selain dopaminku meningkat, asam lambungku pun meningkat. But, JJGJ with Shofya was really fun. Semoga kita bisa ber-JJGJ lagi. Semangat pejuang skripsi! :D

Share this:

0 comments:

Post a Comment