#14 My Favorite Movies

Kalau disuruh memilih, membaca buku atau menonton film? Aku akan lantang menjawab, "membaca buku". Aku bukanlah orang yang suka menonton film, terutama di bioskop. Sayang uangnya. Dibanding dialokasikan untuk menonton film, lebih baik kualokasikan untuk membeli sebuah buku. Namun, kalau filmnya sudah ada link download-nya, aku sangat bersemangat untuk mengunduh dan menontonnya. Akan tetapi, ada beberapa film yang menurutku paling menyentuh, paling terkenang hingga sekarang. 


Sumber: http://asianwiki.com/A_Long_Visit

Aku jamin, saat menonton ini kalian akan menangis. Film asal Korea ini bercerita tentang sebuah keluarga sederhana yang berjuang untuk menghidupi anak-anaknya. Menyekolahkan anak-anak mereka. Namun, beranjak remaja, sang anak perempuan sulung malu ketika sang ibu datang untuk ke pertemuan orang tua atau sekedar mengambil rapor. Menurutnya ibunya berbeda dengan yang lain, dengan teman-temannya yang tergolong menengah ke atas. Dan terlalu memperlakukannya seperti anak kecil. Suatu ketika, menjelang sang anak perempuan lulus SMA, sang ayah meninggal dunia. Dia, ibu, dan adiknya harus survive. Sang ibu harus berjuang lebih keras untuk menghidupi anak-anaknya. Terlebih, sang anak perempuan ingin berkuliah di luar kota. Saat sang anak perempuan kuliah di kota hingga akhirnya menikah, sang ibu tetap rela datang dari desa ke kota untuk menjenguk sang anak perempuannya. Bagaimana dia tertatih membawa begitu banyak makanan untuk sang anak perempuan. Bagaimana perasaannya saat mengetahui sang anak perempuan mengidap suatu penyakit. Menonton film ini sesungguhnya membuat kita menyadari betapa kerasnya perjuangan seorang orangtua, terutama ibu dalam film ini, untuk melihat anaknya sukses. Dan tentu, kasih sayang ibu terhadap kita, terutama saat kita sedang sakit. 


Sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/b/b4/Taare_Zameen_Par_Like_Stars_on_Earth_poster.png

Ini adalah film yang nyikologis, wajib banget anak Psikologi menonton film ini agar lebih memahami bagaimana Disleksia itu. Film yang dibintangi Aamir Khan ini mengisahkan seorang keluarga yang memiliki anak disleksia. Namun, karena mereka dan pihak sekolah kurang memahami apa itu Disleksia, mereka menganggap anak itu adalah anak yang bodoh karena tidak bisa menulis dan membaca. Apalagi memahami pelajaran Matematika. Hingga seorang guru--yang diperankan Aamir Khan--datang, mereka baru mengerti kalau anak itu tidak bodoh, tetapi Disleksia. Guru itu mengajari sang murid yang mengalami Disleksia itu untuk dapat menulis dan membaca dengan berbagai cara. 

Poin plus dari film ini adalah tentang menghargai kekurangan dan kelebihan yang dimiliki seseorang. Bagaimana memanfaatkan kelebihan yang dimiliki untuk menutupi kekurangannya. Poin plus lainnya yaitu bagaimana treatment yang dilakukan untuk menghadapi anak yang mengalami Disleksia. 

Sumber: http://papasemar.com/wp-content/uploads/2016/10/image6.jpeg

Selain Taare Zamen Par, Indonesia juga memiliki film tentang Disleksia berjudul Wonderful Life yang sebulan lalu tayang di bioskop. Kalau di Taare Zamen Par, tokoh orangtua sang anak tidak ditonjolkan, dalam film Wonderful Life, tokoh orangtua, terutama ibu sangat ditonjolkan. Bagaimana perjuangan sang ibu dalam menangani sang anak yang mengalami Disleksia, berobat dari satu tempat ke tempat lain untuk menyembuhkan sang anak. Kesibukannya yang padat pun membuatnya tidak dekat dengan sang anak sehingga perjalanan itu mengajarkannya agar dapat menjadi sahabat bagi sang anak. Dibandingkan Taare Zamen Par, film ini kurang menjelaskan tentang disleksia dan treatment-nya, tetapi sangat menjelaskan bagaimana pengasuhan atau parenting yang baik.  

Dan sebulan yang lalu aku digratiskan oleh manager-ku untuk menonton film dan dibuat review-nya, berjudul Wonderful Life: Kesempurnaan di Balik Kekurangan


Sumber: http://uc.blogdetik.com/604/60481/files/2014/11/34b904cc78c9392c6b9e9c3411378709_the-teachers-diary-poster6.jpg

Film ini juga pernah kuresensi dengan judul The Teacher’s Diary: Berawal dari Sebuah Buku Harian. Cerita film asal Thailand terbilang unik, karena sang tokoh utama yang bernama Song jatuh cinta dengan guru yang sebelumnya mengajar di sekolah kapal itu. Namun, Song mulai jatuh cinta karena tulisan yang ada di buku catatan perempuan tersebut. Dari catatan itu juga Song belajar untuk menjadi guru yang baik dan kreatif. Poin plus dari film ini yaitu mengajarkan bahwa cinta itu bisa datang dari mana saja, bahkan dari tulisan sekalipun. 


Sumber: http://www.imdb.com/title/tt1859438/mediaviewer/rm3439847168

Setiap orang yang sering atau pernah beberapa kali menonton film Thailand, pasti pernah menonton film ini. Seakan film ini film Thailand yang wajib untuk ditonton. Film ini mengisahkan Nam, seorang gadis SMA yang berwajah kurang cantik yang mengagumi Shone, remaja laki-laki yang digemari banyak perempuan karena wajahnya yang tampan. Dibantu oleh teman-temannya, Nam pun bertekad untuk menjadi cantik, pintar, dan populer agar Shone menyukainya. Mulai dari memutihkan kulit hingga bekerja keras hingga akhirnya menjadi mayoret. Namun, ternyata saat kelulusan SMA, saat Nam ingin mengatakan cinta pada Shone, dia baru tahu kalau Shone jadian dengan perempuan lain. Di tengah film, ada suatu adegan yang membuat penonton yakin bahwa Shone menyukai Nam yaitu saat Shone membuka sebuah album yang berisi foto-fotonya Nam. Mulai dari dia yang masih berkulit gelap dan kurang menarik hingga berubah menjadi cantik. 

Poin plus dari film ini yaitu cinta terkadang dapat membuat seseorang menjadi lebih baik, bersemangat untuk mengubah diri agar yang kita sukai menyukai kita balik. Namun, setiap mencintai seseorang pasti kita berekspektasi orang tersebut akan menyukai kita juga. Akan tetapi, saat harapan itu hanya angan belaka, kita sendiri yang merasa kecewa. 


Sumber: http://bpar.org/wp-content/uploads/2015/07/Big-Hero-6-Movie-54.jpg

Mengisahkan seorang kakak yang menciptakan sebuah caregiver berbentuk robot bernama Baymax. Namun, karena suatu kebakaran, sang kakak meninggal, membuah Hiro--sang adik--terpukul atas kepergiannya. Hampir sama dengan sang kakak, Hiro pun dapat menciptakan sebuah alat berbentuk chips yang menakjubkan banyak pihak dan menggiurkan banyak pihak untuk membeli alat tersebut. Namun, Hiro enggan menjualnya. Hingga seseorang mencuri alat yang dia ciptakan. 

Di tengah kesendiriannya ditinggal sang kakak, Baymax keluar dari 'sarang'-nya. Dan mengatakan, "Hello, I am Baymax, your personal healthcare companion." Dia selalu menanyakan bagaimana perasaan Hiro. Sebab Baymax hanya membantu Hiro ketika dia memiliki perasaan yang kurang menyenangkan. Awalnya Hiro merasa risih dengan kehadiran Baymax. Namun, ternyata Hiro membutuhkan bantuan Baymax untuk menemukan si pencuri. Ending film ini sangat menyedihkan, saat Hiro mengatakan,"Aku puas dengan perawatanmu." Saat itulah Baymax pergi. 


6. Di Balik Frekuensi



Sumber:http://media.halomalang.com/media/2013/3/Events/19/Di_Balik_Frekuensi_ev.jpg

Sebenarnya ini adalah film dokumenter yang bercerita tentang konglomerasi media. Bahwa frekuensi adalah milik masyarakat Indonesia. Namun, banyak pemilik media--yang ternyata hanya berjumlah 12 atau 13 orang--yang menyalahgunakan frekuensi. Seperti menayangkan acara yang (maaf) kurang bermutu atau untuk self-branding untuk tujuan politik. Selengkapnya dapat dibaca di Frekuensi dan Advokasi Demokratisasi Media. Sesungguhnya menonton kita (baru) menyadari bahwa kita pun memiliki hak atas frekuensi tersebut. 


7. Tanah Surga...Katanya 


Sumber: http://cdn.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2012/08/31/84191/540x270/review-tanah-surga-katanya-rumput-tetangga-yang-lebih-hijau.jpg

Film ini mengisahkan kehidupan masyarakat perbatasan yang kesehariannya menggunakan bahasa dan uang dari negara sebelah. Sebab akses ke negara sendiri terlampau jauh. Sehingga banyak masyarakat yang memutuskan pindah dan bekerja ke negara sebelah. Film ini seperti menggambarkan 'pemberontakan' masyarakat perbatasan yang terkadang kurang diperhatikan oleh pemerintah. Ending film ini pun sangat menyedihkan, membuatku menetaskan air mata. 


8. Hotaru no Naka atau The Grave of the Fireflies



Sumber: http://www.ifi.ie/wp-content/uploads/Grave-Of-The-Fireflies-post-lrg.jpg

Film ini mengisahkan perjuangan seorang kakak yang mengurus adiknya seorang diri. Peperangan di zaman dahulu membuat mereka terpisah dari orangtua mereka. Sang kakak berjerih payah untuk menghidupi adiknya, mulai dari bekerja serabutan, menjual pakaian mereka, hingga beberapa kali mencuri. Dari semua film buatan Studio Gibli, menurutku film ini yang paling menyentuh. Terlihat segala perjuangan sang kakak agar sang adik tetap dapat makan. Lalu perjuangannya ketika adiknya sakit. Berlarian mencari bantuan tapi tidak ada seorang pun yang membantu. 


Apalagi aku adalah anak pertama yang mempunyai seorang adik. Film ini menamparku bahwa aku belum bisa seperti dia yang berjuang untuk adiknya. 


9. Shigatsu wa Kimi no Uso atau Your Lie in April



Sumber: http://2.bp.blogspot.com/--IGme6jxFVk/VLiS9CNFHOI/AAAAAAAAALk/xcVpN-XHGYw/s1600/570x806ximg_top3.jpg.pagespeed.ic.yx6LLxy3BQ.jpg

Sebenarnya ini adalah serial ber-22 episode, bukan film. Walau ada versi film live action-nya, I prefer this series than that live action. Anime ini mengisahkan Kousei, seorang remaja yang jago bermain piano. Namun, setelah ibunya meninggal, Kousei justru trauma dengan piano. Sebab setiap kali memainkan piano, di tengah permainan dia tidak mendengar nada yang dia mainkan. Membuat siapapun yang mendengarnya ingin menutup telinga. Tsubaki, teman kecilnya sering mendorongnya untuk terus bermain piano. Namun, Kousei enggan melakukannya karena rasa trauma yang dia alami. Hingga dia bertemu dengan Kaori, seorang perempuan yang jago bermain biola. Kaori adalah gadis yang ceria dan penuh semangat. Dia juga yang memaksa Kousei untuk mengikuti perlombaan bersama dirinya. Berduet piano dan biola. Berkat Kaori lah Kousei mau memainkan piano kembali dan berusaha sekeras mungkin untuk menghilangkan traumanya. Akan tetapi, siapa sangka kalau di balik keceriaan Kaori, dia menyimpan sejuta rahasia, mengidap suatu penyakit yang cukup berbahaya. Selain jalan ceritanya, soundtrack-nya pun bagus, easy listening, dan sangat menyentuh. Terlebih saat salah satu soundtrack berjudul Kirameki, diputar di ending anime ini


10. Bakuman



Sumber: https://myanimelist.cdn-dena.com/s/common/uploaded_files/1442931949-43149015c56717a3563ffa944dfd3cc5.jpeg

Ini juga serial, bukan film walau ada versi live action-nya. Secara keseluruhan anime ini ada tiga season. Anime ini mengisahkan seorang remaja SMP yang memiliki bakat menggambar bernama Moritaka. Dia ingin sekali menjadi mangaka sebab sang paman sebelum meninggal juga bekerja sebagai mangaka. Mengetahui Moritaka memiliki bakat menggambar, Takagi mengajaknya untuk membuat sebuah komik. Moritaka yang menggambar, Takagi yang menulis ceritanya. Awalnya Moritaka ragu untuk menerima tawaran tersebut. Namun, pada akhirnya dia menerima tawaran tersebut. Selain itu, Takagi pun tahu kalau Moritaka menyukai Azuki, tetapi Moritaka tidak berani menyatakan perasaannya. Hingga suatu hari Takagi membawa Moritaka ke rumah Azuki. Mereka terlihat malu-malu saat bertemu. Lalu Takagi dengan lantang mengatakan bahwa Moritaka menyukai Azuki. Mendengar hal itu Moritaka salah tingkah, tetapi akhirnya dia pun mengatakan ingin menikah dengan Azuki. Setelah mengatakan itu, tiba-tiba Azuki masuk ke dalam rumahnya, lalu beberapa menit kemudian kembali membuka pintu dan mengiyakan tawaran tersebut. Mereka pun berjanji untuk tidak saling berkomunikasi dan bertemu sebelum Moritaka dan Takagi menjadi mangaka dan Azuki sebagai seiyu. 


Secara logika, mungkin di dunia nyata tidak mungkin ada anak SMP yang mengatakan hal seperti itu. Namun, itulah letak kerennya anime ini. Tentang perjuangan mereka dalam meraih mimpi masing-masing. Perjuangan mereka untuk menjaga jarak sebelum mimpi masing-masing terpenuhi. 


11. A Werewolf Boy

Sumber: http://www.mrwickedproductions.com/wickquoting/wp-content/uploads/2013/06/a-werewolf-boy-duo.jpg


Film yang dibintangi Song Joong Ki ini mengisahkan sebuah keluarga yang baru saja pindah rumah. Suatu hari, mereka mendengar suara serigala. Setelah didekati, ternyata dia berbentuk manusia, seorang laki-laki. Akhirnya keluarga itu pun memutuskan untuk merawat laki-laki itu. Bahkan anak sulung perempuan keluarga itu mengajari bagaimana menulis, berbicara, dan berperilaku seperti mereka, manusia. Suatu ketika, laki-laki itu bertengkar dengan segerombolan pemuda, salah satunya orang yang menyukai perempuan itu. Karena emosi negatif yang memuncak, laki-laki itu berubah menjadi serigala. Berawal dari situ, tetangga sebelah rumah tahu bahwa keluarga itu merawat serigala. Mereka pun memaksa keluarga itu untuk mengusir laki-laki serigala itu. Hingga laki-laki serigala itu pergi dari rumah itu. Adegan yang paling membuatku sedih yaitu saat perempuan itu kembali bertemu dengan laki-laki serigala itu di tengah hutan dan laki-laki serigala itu memanggil nama perempuan itu. 

Poin plus film ini yaitu pengasuhan orangtua itu penting. Kalau dia dari kecil berada di lingkungan, bahkan dirawat oleh hewan, dia akan bertingkahlaku seperti hewan. Karena tidak ada role model manusia saat dia kecil. Selain itu, akting Song Joong Ki sangat patut diacungi jempol karena sangat keren dan menjiwai saat berperan sebagai laki-laki serigala.

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 comments:

  1. wah aku belum semua , hiii, aku memang sukanya film detektif, habis kalau nonton film drama suka ketiduran di bisokop

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwk, selera orang beda-beda. Tapi itu gak ngantukin kok :v

      Delete
  2. Dari sebelas judul aku sudah nonton 7 judul..
    kayaknya kt punya selera film yang sama, jd film yang lain kayaknya recommnded buat aku
    Bakuman dan Shigatsu Wa kimi No Uso menjadi inceran saya untuk mengisi akhir pekan besok.. kira bs di download dimana ya???

    ReplyDelete
    Replies
    1. yeay! :D
      Biasanya kalo anime aku donlot di oploverz atau wardhanime mba

      Delete