#25 Stereotip

Sumber: http://i.quoteaddicts.com/media/quotes/2/57743-quotes-about-psychology.jpg


Challenge ke-25 ini yaitu think of any word, search it on google images and write something inspired by the 11th image. Dan keyword yang kutulis adalah psychologist student quotes. Saat menulis ini sepertinya keyword yang kutulis salah, tapi tak apalah. Dari keyword itu, gambar ke-11 yang kudapat adalah itu.

Pasti banyak yang menemukan quote atau gambar seperti gambar itu.

"If a person laughs too much even at stupid things, she/he is lonely deep inside."
"If someone can't cry, she/he is weak."

And so many "if" others. 


Dan banyak orang yang percaya, padahal itu belum tentu benar sebab tidak dicantumkan siapa psikolog yang mengemukakan pendapat itu, apalagi bukti ilmiahnya. 

Try to understand people. Seperti itulah psikologi. Namun, bagiku, semakin mempelajari manusia, semakin kita tidak mengerti manusia karena manusia itu begitu kompleks. Cepat sekali berubah. Kalau menurut Teori Ekologinya Bronfenbrenner, perubahan itu bisa terjadi karena faktor mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem, hingga kronosistemnya. Dan faktor-faktor lainnya yang bisa dijelaskan dengan teori lainnya. 

Menjadi mahasiswa psikologi, terkadang membuatku kesal sendiri karena banyak sekali stereotip tentang mahasiswa psikologi. Seperti mahasiswa psikologi bisa membaca pikiran, membaca kepribadian dengan hanya melihat wajah mereka atau gerak tubuh mereka. Padahal banyak asesmen yang perlu dilakukan untuk mengungkap kepribadian seseorang. 

Selain stereotip itu, ternyata di kalangan tenaga medis, seperti dokter pun memiliki stereotip tentang mahasiswa psikologi. Hal itu baru kusadari saat aku bolak-balik ke GMC-RSA-Sardjito. Beberapa dokter yang menanganiku dan tahu kalau aku kuliah di jurusan Psikologi, pasti akan mengatakan, "Masa anak Psikologi tidak dapat mengatasi masalahnya sendiri?". Wajahku langsung berubah masam tiap kali ada dokter yang mengatakan hal itu. Calon psikolog juga manusia Dok, bisa stress juga, gumamku dalam hati. Sebab beberapa dokter yang menanganiku mengatakan bahwa sakitku bisa terjadi karena kondisi psikologisku sedang tidak baik. Kalau istilah psikologisnya adalah Psikosomatis, yaitu merasa nyeri perut dan sakit fisik lainnya tetapi tidak ada bukti medisnya. Namun, saat aku melihat PPDGJ (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa), aku tidak tergolong dalam psikosomatis. 

Beberapa hari yang lalu, aku menceritakan hal itu pada dosenku yang juga psikolog. Menurutnya, aku tidak mengalami Psikosomatis, tetapi Somatoform karena aku memiliki bukti medis. Walau dari hasil USG kemarin dokter mengatakan tidak terlihat apa-apa di organ pencernaanku. Dan sakit ini menyadarkanku bahwa psikologis dan fisiologis tidak dapat dipisahkan. Mungkin memang secara fisiologis, kamu sakit, tetapi karena kondisi psikologismu sedang tidak baik maka sakit secara fisiologismu semakin parah. Begitu pun sebaliknya. Terkadang itu membuatku tidak memahami apakah sakitku ini murni karena faktor fisiologis atau psikologis atau keduanya. 

Kembali ke masalah stereotip tadi, ternyata temanku yang kuliah di Pendidikan Dokter pun mengatakan kalau banyak masyarakat yang kurang aware dengan kesehatannya. Seperti masih ada rasa takut untuk periksa ke dokter. Sampai temanku memujiku, "Coba orang Indonesia sadar akan kesahatannya kayak kamu, pasti kesehatan di Indonesia bisa lebih maju." Padahal kupikir hanya ke psikolog yang masih ada stereotip negatif, karena masyarakat yang masih beranggapan orang yang konseling ke psikolog pasti memiliki gangguan. Padahal tidak juga. 

Apoteker, dokter, psikolog, dan profesi lain di bidang kesehatan--baik mental maupun non mental--juga seorang manusia biasa, yang bisa sakit. Dan butuh orang lain untuk mengatasi masalahnya sendiri. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment