#13 Surat untuk Ibu


Teruntuk Ibu yang paling kusayangi 
di rumah

Assalammualaykum Warahmatullah Wabarakatuh.
Ibu, mungkin aku bukanlah anak yang ekspresif, yang mudah mengatakan “aku sayang Ibu”, “terima kasih Ibu”. Bahkan sekedar mengekspresikan rasa sayangku secara non verbal, seperti memeluk Ibu pun terasa sulit. Mungkin karena terlalu gengsi. Ibu, kadang aku merasa kontradiktif. Saat di sini, di tanah rantau, aku merasa rindu, kangen, dan sangat membutuhkan Ibu. Namun, saat di rumah, saat berada di dekat Ibu, aku justru menjadi orang yang berkebalikan. Tidak dapat mengekspresikan rasa rinduku, rasa kangenku pada Ibu. Namun, aku justru sering ketus, marah-marah, dan berkata tidak sopan. Seakan aku menjadi dua orang yang berbeda. Maafkan aku ya, Bu.
Ibu, terima kasih telah merawatku selama 21 tahun ini. Walau tiga tahun terakhir intensitas kita bersama berkurang karena aku yang tetap ‘ngotot’ berkuliah di sini, di UGM. Walau seringkali pesan atau telepon dari Ibu kujawab dengan ketus karena  terkadang masalah finansial membuatku seperti itu. Namun, Ibu tetap selalu menyayangiku, merawatku dari jauh, dan tidak pernah marah besar padaku.  
Ibu, terima kasih sudah rela datang (mendadak) setiap kali aku sakit. Seperti saat semester pertama aku mengalami dehidrasi dan malam harinya baru kukabari kalau aku sakit. Pagi harinya Ibu dan Ayah langsung bergegas ke Jogja. Begitupun saat aku masuk IGD, tanggal 7 kemarin, kalian juga langsung ke sini, mencari tiket yang paling cepat untuk segera sampai Jogja. 
Terima kasih sudah merawatku tanggal 7-8 November kemarin saat Ibu dan Ayah berada di Jogja.Terima kasih telah membantuku ‘mengonsumsi’ Dulcolax. Terima kasih karena Selasa (8 November) paginya Ibu mau menuntunku dari kamar hingga kamar mandi karena aku sulit berjalan. Terima kasih telah mendukungku, selalu ada saat aku membutuhkan bantuan. Terima kasih yang tak terhingga kuucapkan pada Ibu dan juga Ayah. 
Terima kasih juga karena telah menjagaku selama 21 tahun ini. Sering menemaniku pergi ke manapun. Walau terkadang aku merasa Ibu terlalu protektif dan melarangku pergi sendirian ke suatu tempat, apalagi tempat yang jauh dan butuh tenaga yang kuat. Namun, anak sulung Ibu ini memang bandel, susah diatur, dan nekat. Seperti tiba-tiba sudah di Merbabu, Solo, Bandung, Andong, dan Semeru tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Kalaupun memberi tahu, tidak secara detil tujuan perjalananku ingin ke tempat tersebut. Seperti saat mendaki Semeru lalu yang notabene hanya ke Ranukumbolo, aku hanya mengatakan bahwa aku ke Ranukumbolo, sebuah danau di Semeru. Namun, tidak mengatakan kalau itu bagian dari Gunung Semeru. Aku sangat paham kalau ke-protektif-an Ibu tersebut bentuk kasih sayang Ibu padaku. Maafkan anak perempuanmu yang tidak pernah menurut ini 
Sebentar lagi usia Ibu bertambah 1, aku ingin sekali memberikan hadiah untuk Ibu. Namun saat aku bertanya , “Ibu mau hadiah apa saat ulang tahun nanti?” Ibu diam sejenak, lalu menjawab, “Yang penting kamu sehat, Yas.” Seketika aku merasa terharu saat mendengarnya. 
Terima kasih untuk semuanya Bu. Jazakillah khairan katsira. 
Maafkan anak perempuan sulungmu ini yang seringkali ‘ngeyel’, (sok) ‘strong’, dan susah untuk diatur. 
Sekali lagi jazakillah khairan katsira. 


Yogyakarta, 12 November 2016
Untuk Ibu yang tanggal 15 lalu genap berusia 52 tahun, semoga segalanya selalu dilancarkan. Selalu dilimpahkan rezeki dan kebahagiaan. Doakan anakmu yang sedang diuji dengan penyakit ini. Doakan agar segalanya cepat selesai. Doakan agar skripsinya cepat selesai juga. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment