#12 Five Biggest Blessing


Semalam, saat menonton sebuah video, ada salah satu kata yang menarik dari sang pemateri, yaitu asy-syakuur. Salah satu nama Allah dalam Asmaul Husna itu memiliki arti Maha Mensyukuri. Deg. Seketika membuatku merasa tertampar, Allah Sang Pencipta Alam Semesta saja Maha Mensyukuri. Kok kita sebagai hamba-Nya selalu mengeluh dan tidak mensyukuri setiap nikmat yang Dia beri.
Bagiku, ada 5 terbesar yang Allah beri:
1. Allah
Karunia terbesar dalam hidupku adalah Allah. I have Allah, I prefer to call Allah as Allah, not she or he. Because of Allah isn’t human, yang dibedakan dengan dua sex. Banyak kejadian yang Allah berikan sebagai pelajaran dan tamparan. Nikmat dan ujian. Melalui orang-orang yang hilir-mudik masuk ke dalam hidupku, tanpa permisi lalu pergi begitu saja. Padahal mereka memberi pelajaran yang begitu berharga that it’s real that love is blind. Mencintai seseorang dengan cara yang salah, di waktu yang (kemungkinan besar) salah. 
Pelajaran lain selain tentang cinta, Allah memberiku pelajaran tentang kesabaran dan kebersyukuran. Terlebih untuk menghadapi penyakitku ini. Allah Maha Baik, maka nikmat manakah yang kamu dustakan? Dekatilah Dia saat kamu sedang menghadapi masalah. Jangan justru menjauh dari-Nya. Mencari pelarian lain
2. Masih Diberi Kesempatan Hidup
Setiap kali aku bangun tidur, aku selalu bersyukur Allah masih memberiku kesempatan untuk hidup, untuk berbuat baik kepada orang lain. Untuk menjadi hamba yang lebih baik lagi. Walau sekarang Allah mengujiku dengan sakit, tapi kuyakin itu sebagai bukti cinta-Nya padaku agar aku lebih mendekat kepada-Nya.
Ingin menegurku, “Lihatlah mereka, seharusnya kamu lebih bersyukur. Penyakit yang mereka alami lebih menyakitkan, perjuangan mereka untuk survive jauh lebih besar darimu.” Dan setiap kali kontrol ke RSA atau ke rumah sakit manapun, membuatku merasa harus banyak bersyukur. Aku masih bisa berjalan, bernapas, makan tanpa bantuan alat medis. Secara tidak langsung mereka menamparku bahwa aku terlalu lemah untuk menghadapi penyakit yang kualami.
3. Memiliki Keluarga dan Orang-orang yang Menyayangiku
Dulu, aku berandai ingin memiliki keluarga seperti keluarganya temanku. Namun, sekarang aku merasa sangat bersyukur memiliki keluarga seperti keluargaku. Walau tidak sesempurna keluarga lainnya. Akan tetapi keluargaku begitu peduli padaku. Terasa sekali saat aku sedang seperti sekarang ini. Orang-orang terdekatku pun seringkali mengingatkanku untuk menjaga kesehatan, jangan begadang. Bahkan menamparku bahwa bukan hanya stresku yang perlu di-manage, tetapi juga waktuku. Don’t be procrastinate, but I still always doing like that. 
Dan saat orang-orang mengatakan, aku ingin sendiri. Aku ingin sekali berteriak di telinganya, aku bosan sendirian, bosan me-time. Sakit ini membuatku selalu ada orang yang always here and now. Seperti saat kontrol dokter Sabtu kemarin, setelah teman yang mengantarku ke RSA pulang, seketika aku merasa sedih. Semakin sedih setelah keluar dari ruang dokter karena keputusan dokter yang merujukku untuk endoskopi. Pikiran sudah tidak karuan. Menangis sejadi-jadinya di ruang tunggu pasien di lantai 3. Baru bisa turun setelah air mata sedikit mengering. Lalu ketika teman yang menjemputku datang, aku langsung berkata, “Ma, peluk aku dong.” And I was crying when she hugged me. Dan memang sakit ini juga membuatku selalu ingin dikuatkan karena aku selalu merasa tidak kuat menghadapinya. 
Orang introvert sedang butuh orang lain, bosan sendiri. 
4. Menjadi Mahasiswa Kampus Biru
Tidak bisa dipungkiri, masuk Kampus Biru adalah salah satu karunia dalam hidupku. Dari semester awal hingga sekarang terkadang masih tidak menyangka aku dapat menjadi bagian dari Gadjah Mada. Sebuah universitas yang katanya favorit. Terlebih aku diterima di universitas ini melalui jalur SNMPTN, jalur yang mulus karena tidak perlu tes. Namun, beberapa kali, karena masalah finansial, terkadang aku merasa menyesal kuliah di sini. Merayu ibuku untuk mengizinkanku kuliah di tanah rantau. Akan tetapi, sadar atau tidak, setelah aku menjadi bagian dari Kampus Biru, aku mendapat banyak akses untuk mengembangkan writing skill-ku dan juga bertemu dengan orang-orang yang tidak terduga sebelumnya. 
5. Menjadi Diri Sendiri
Bagian ini terkadang sering kita lupakan. Kadang kita lupa untuk berterima kasih pada diri sendiri karena kita terlalu sibuk dengan orang lain. Kita lupa bahwa diri kita sendiri adalah our blessing in our life. Pasti kita pernah bermimpi untuk menjadi orang lain. Namun, sekarang seharusnya kita lebih banyak bersyukur karena kita terlahir sebagai kita, bukan sebagai orang lain. Berterimakasihlah pada diri sendiri. Berterimakasihlah pada seluruh organ dalam tubuh kita yang seringkali kita abaikan. 
***
Yogyakarta, 15 November 2016

Share this:

0 comments:

Post a Comment