Rutinitas Bermaafan di Hari Raya


Hari ke #166


Salah satu momen yang menjadi rutinitas kala idulfitri yaitu bermaaf-maafan. Mengutip dari perkataannya Fiersa Besari, mungkin ego kita terlampau tinggi hingga meminta maaf saja harus menunggu hari raya tiba. Sebuah kalimat yang membuatku tersebut, merasa tersindir. Sepertinya diri ini termasuk orang-orang yang seperti itu.



Mungkin diri ini terlampau skeptis atau berprasangka buruk terhadap orang lain jika beranggapan momen bermaafan tersebut sebagai formalitas. Padahal, mungkin saja sebagian orang memang tulus mengucap maaf kepada kita, kepada siapapun. Karena merasa memiliki salah kepada kita, padahal kita merasa dia tidak memiliki salah. Bahkan terkadang sebaliknya, kita merasa seseorang memiliki salah kepada kita, tetapi orang tersebut tidak merasa memiliki salah.



Meski begitu, tidak ada salahnya untuk saling bermaaf-maafan ketika idulfitri tiba. Sebab, seringkali ada perbuatan atau perkataan yang ternyata tidak sengaja menyakiti orang lain. Dan yang terpenting dari memaafkan itu bukan hanya "ucapan memaafkan", tetapi juga niat tulus orang yang mengucapkannya. Sebab, sebagian orang menganggap bahwa mengucap maaf itu perlu usaha yang ekstra, perlu meredam ego. Bahkan sebelum mengucap maaf, seseorang perlu "membersihkan hatinya terlebih dahulu". Karena seperti sebuah kalimat yang sering tersiar, "forgiveness isn't about forgetting, but remembering without pain."

No comments:

Powered by Blogger.