Pengantin As-Sunnah: Berpegang pada Alquran dan Sunnah



Hari ke #156

Judul: Pengantin As-Sunnah
Penulis: Adi Hidayat
Penerbit: Institut Quantum Akhyar
Tahun Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 97

"Pohon itu akan menjadi tenang saat angin mulai berlalu meninggalkannya." (Halaman 56)

Sesuai dengan namanya, buku Pengantin As-Sunnah berisi tentang pelbagai hal terkait proses pernikahan. Mulai dari perkenalan hingga peran dalam ruma tangga. Buku ini terdiri tiga bagian utama, yaitu taaruf dan khitbah, pernikahan, serta peran suami istri.

Bagian pertama berjudul "Dari Kenalan hingga Lamaran" yang diawali dengan penjelasan sang penulis tentang fitrah manusia yang diciptakan berpasangan, laki-laki dan perempuan. Setelah itu, baru dijelaskan mengenai taaruf dan khitbah. Di bagian ini ditekankan bahwa taaruf bukanlah pacaran, pun khitbah bukanlah tunangan.

Memasuki bagian kedua, pembaca diajak memaknai kembali mengenai kesakralan dan keunikan pernikahan, makna pernikahan, makna samara (sakinah, mawaddah, rahmah), serta hikmah pernikahan. Pun di bagian ini dijelaskan bahwa setiap pernikahan pasti akan terjadi konflik. Tinggal bagaimana setiap pasangan menghadapinya. Seperti pepatah orang Arab, "Pohon itu menjadi tenang saat angin mulai berlalu meninggalkannya." Maknanya, "...ketentraman yang diraih dalam kehidupam berumah tangga tidaklah datang dengan tiba-tiba..." (halaman 56).

Lalu di bagian ketiga, penulis menjelaskan peran suami dan istri dalam rumah tangga. Seperti hak suami, kewajiban suami, dan kewajiban istri. Setelah tiga bagian utama selesai dijabarkan, di bagian penutup penulis menyampaikan tujuannya menuliskan buku Pengantin As-Sunnah. Penulis ingin mengajak pembaca untuk kembali kepada Alquran dan sunnah ketika (akan) menjalani kehidupan pernikahan. Pun mengingatkan kembali bahwa pernikahan bukan hanya pengikat perasaan, tetapi juga amanah yang nantinya akan dipertanggungjawabkan.

Secara keselurahan buku Pengantin As-Sunnah ini tidak berbeda jauh dengan buku tentang pernikahan lainnya. Meski penjelasan tiap bagiannya terbilang ringkas--mengingat buku ini yang hanya 97 halaman--tetapi masih terasa esensi materinya yang padat dan berisi. Hal menarik dari buku ini yaitu bagaimana penulis, Ustadz Adi Hidayat, menjelaskan sesuatu berdasarkan akar katanya. Sesuatu yang jarang dilakukan oleh penulis buku tentang pernikahan lainnya.

Seperti ketika menjelaskan mengenai definisi "khitbah", penulis menjelaskan bahwa khitbah (الخِطْبَة) berasal dari kata خَطَبَ yang berarti tutur yang jelas dan tegas. Bagian menariknya ketika penulis menjelaskan makna خ dalam kata "khitbah" yang berharakat kasrah. Penulis menjelaskan bahwa secara bahasa kasrah berarti sesuatu yang terpecah sehingga "khitbah" mengesankan bahwa lamaran yang jelas akan memecah kegalauan bagi perempuan yang dipinang. Selain itu, harakat kasrah menempati posisi "jar" dalam gramatikal bahasa Arab yang diartikan sebagai sesuatu yang rendah. Sehingga lamaran meski jelas dan tegas tetap harus diungkapkan secara rendah atau tidak berlebihan.

Hal menarik lainnya ketika penulis menjelaskan mengenai empat faktor yang harus diperhatikan laki-laki dalam memilih pasangan, yaitu agama, garis keturunan, kecantikan, dan hartanya. Penjelasan menarik ketika menjabarkan tentang faktor harta--yang setelahnya disebut motif ekonomi--bahwa faktor ini bukan hanya seberapa banyak harta yang dimiliki seorang perempuan. Namun, bagaimana kesepahaman antara laki-laki dan perempuan dalam memandang dan mengelola harta. Sehingga laki-laki dapat memilih calon istri yang gaya hidupnya sesuai dengan pendapatannya. Selain itu, seperti buku tentang pernikahan lainnya, buku ini juga menekan agama sebagai faktor utama dalam memilih pasangan. Menariknya, penulis mengumpamakan faktor agama sebagai angka 1 sementara tiga faktor lainnya sebagai angka 0.

Sayangnya, ada satu kekurangan dalam buku ini, yaitu kesalahan dalam penulisan. Kesalahan yang sepertina terlihat sepele, tetapi dalam buku ini sedikit terlihat fatal. Sebab kesalahan penulisan ini terletak pada judul babnya. Sehingga dapat membuat pembaca menjadi kebingungan ketika pertama kali membaca isinya yang tidak selaras dengan judul. Namun, buku ini cocok dibaca bagi pasangan yang akan menikah sebagai bekal dalam menjalani pernikahannya. Maupun pasangan yang telah menikah untuk memaknai kembali pernikahan.

2 comments:

Powered by Blogger.