Teringat Senja, Teringat Kematian Part 2




Hari ke #128
Selayaknya mentari yang kembali ke peraduannya usai menjalankan tugasnya. Begitupun dengan manusia, akan kembali ke rumahnya ketika "tugas" di dunia ini telah usai. Sayangnya, tidak seorang manusia pun yang tahu kapan dia kembali. Sang Maha Mengetahui lah yang tahu garis hidup kita, yang tahu kapan kita akan kembali. Namun, apakah kita telah mempersiapkan diri dan segala hal untuk kembali ke sebenar-benarnya rumah? Sementara untuk urusan duniawi kita sering mempersiapkan segalanya dengan begitu matang. Mulai dari urusan berangkat sekolah, menjelang ujian, memilih perguruan tinggi yang diinginkan, hingga mempersiapkan pernikahan.
Padahal, kematian adalah takdir Allah yang pasti dan mutlak akan dialami manusia. Semua manusia akan kembali kepada-Nya, ke rumah-Nya. "To Allah we belong, to Allah we shall return." Setiap kali bertakziah hati ini selalu sesak dan air mata harus dibendung agak tidak menetes. Sebab, selalu membayangkan suatu hari nanti diri ini berada di posisi jenazah. Membayangkan diri ini meninggal dalam kondisi diri sedang futur, kondisi iman sedang berada di titik terendah. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk ini merinding ketakutan.

Dan setiap kali bertakziah atau mendengar berita kematian, selalu merasa bersyukur dan tidak mungkin untuk disia-siakan. Sebab masih diberi kesempatan satu kali lagi untuk menghirup udara, untuk melakukan kebaikan lebih banyak lagi. Apalagi, ketika meninggal nanti, semua hal yang kita lakukan di dunia akan dimintai pertanggungjawabannya. Tiada yang akan menemani kita nanti, kecuali amal kebaikan yang kita lakukan di dunia. Bahkan dalam beberapa surat di Alquran disebutkan bahwa orang-orang yang telah meninggal dan masuk neraka merasa begitu menyesal dan ingin kembali ke dunia agar dapat menuruti perintah Allah dan para rasul-Nya serta dapat melakukan amal kebaikan.

Share this:

0 comments:

Post a Comment