Sebuah Notula: Menjadi Baitul Muslim



Hari ke #129

Materi halaqah pekanan kemarin membahas tentang pernikahan, tepatnya tentang baitul muslim atau keluarga islami. Sang Murabbi mengawali materi halaqah siang itu dengan cerita proses pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah, istri pertama Rasulullah SAW. Seorang wanita muslim pertama, wanita pertama yang beriman kepada Rasulullah SAW. Sekaligus wanita yang mendermakan seluruh harta yang dimiliki untuk keperluan dakwah sang suami.

Kisah cinta Rasulullah SAW dengan Khadijah itu mungkin menjadi bukti pernikahan yang bertujuan untuk berdakwah. Sebab, terkadang ada sebagian orang yang terasa seperti berhenti berdakwah, jarang mengikuti kajian setelah menikah. Padahal sebelum menikah begitu aktif di lembaga dakwah, begitu aktif menuntut ilmu agama. Jika diselisik, salah satu penyebabnya karena proses adaptasi yang cukup lama dilakukan. Mengutip dari perkataan Anis Matta, "Kita seringkali menganggap pernikahan adalah peristiwa hati. Padahal sesungguhnya, pernikahan adalah peristiwa peradaban." Jadi, seharusnya pernikahan membuat kita semakin semangat menuntut ilmu, semakin semangat untuk berdakwah, semakin semangat untuk memperbaiki diri. Bukan sebaliknya. Pun, seharusnya sebuah keluarga hendaknya menjadi keluarga yang kokoh.

Lebih lanjut Sang Murabbi mengungkapkan ada beberapa karakteristik sebuah baitul muslim atau keluarga yang islami, yang dikutip dari Dakwatuna. Setidaknya ada sepuluh karakteristik baitul muslim. Pertama, memiliki aspek tauhid yang kuat. Ketika kita memandang segala sesuatu hendaknya berdasarkan ukuran Allah. Seperti ketika kita akan bekerja di perusahaan X, kita harus melihat dulu apakah Allah akan meridhai kita atau tidak. Karakteristik ini bisa diciptakan dengan mengumandangkan azan dan iqamah ke telinga anak (kita) yang baru lahir.

Kedua, memperhatikan ibadah anggota keluarga kepada Allah. Ketika memilih pasangan, hendaknya utamakan yang baik dari segi agamanya. Namun, jangan berekspektasi lebih kepada pasangan. Berharap pasangan selalu dalam kondisi iman yang stabil sehingga selalu mengingatkan kita untuk beribadah, untuk mengajak puasa sunah bersama. Sebab sebagus apapun agama seseorang, pasti adakalanya berada dalam kondisi iman yang turun. Begitupun dengan pasangan yang agamanya baik. Sebab tugas utama suami adalah memastikan sang istri untuk tetap berjalan sesuai koridor agama. Sementara sebagai istri hendaknya menjadikan suami sebagai jalan untuk mendapat ridha Allah, untuk lebih mendekatkan kita kepada Allah. Sehingga ketika pasangan dalam kondisi iman yang turun, kita tidak akan merasa kecewa. Sebaliknya kita dapat menguatkan pasangan dan mengingatkannya.

Selain kepada suami, kewajiban istri juga ditujukan kepada seluruh anggota keluarga, terutama anak. Ketika anak belum berusia tujuh tahun, orang tua belum berkewajiban untuk mengenalkan ibadah kepada anak. Namun, orang tua dapat menanamkan ajaran-ajaran tauhid kepada anak. Pun dapat mengenalkan ibadah kepada anak dengan cara yang menyenangkan dan tidak memaksa anak untuk melakukan hal tersebut. Sehingga anak dapat tumbuh dengan pemahaman bahwa ibadah adalah hal yang menyenangkan, bukan hal yang harus dijadikan beban.

Ketiga, menyemai akhlak islami, seperti amanah, muraqabah (selalu merasa dalam pengawasan Allah), jujur. Contoh akhlak islami dicontohkan oleh seorang penggembala domba di zaman Rasulullah. Ketika ada seseorang yang ingin membeli salah satu dombanya, penggembala tersebut menolaknya. Sebab domba-domba tersebut bukanlah miliknya. Pun ketika orang tersebut merayu lagi dengan menenangkan hati sang penggembala bahwa tidak masalah jika salah satu dombanya dijual. Toh, masih ada puluhan domba yang lain, yang tentunya pemilik asli domba tersebut tidak akan tahu jika hilang satu. Namun, sang penggembala tetap menolak dan mengatakan bahwa meskipun sang pemilik domba tidak melihatnya, tetapi Allah selalu melihatnya. Dengan demikian kita selalu merasa terlindungi karena perlindungan kepada Allah sangatlah penting.

Karakteristik selanjutnya yaitu memberi perhatian dan semangat memenuhi dakwah, memenuhi kebutuhan rumah tangga, menjaga kebersihan rumah, membentengi rumah dari pencemaran akhlak, bersikap sederhana, menjaga dan memelihara status dan masing-masing, serta menjaga hubungan tetangga. Mendengarkan materi ini sekali lagi membuatku tersadar bahwa pernikahan adalah peristiwa yang besar. Tidak heran jika termasuk menjadi salah satu dari tiga mitsaqan ghaliza. Pun tidak heran jika Anis Matta mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban. Ya, sebab, salah satu tujuan menikah memang untuk meneruskan keturunan, mencetakan generasi yang lebih baik lagi dibanding generasi sebelumnya. Jadi, agak kurang pas jika ada guyonan, "Aku capek kuliah, mending nikah aja." Really, it isn't funny. You have to prepare many things before make decision to marry with someone. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment