Sebuah Notula: Mencurigai Diri Sendiri Part 2



Hari ke #126

Setiap kali mendengar kajiannya Ustadz Salim A. Fillah tentang #mncrgknskl, rasanya begitu sesak. Teringat akan begitu banyak dosa yang kian hari kian menumpuk, tetapi masih sempat-sempatnya merasa lebih baik dibanding orang lain. Teringat akan begitu mudahnya mencurigai orang lain, tetapi lalai untuk mencurigai diri sendiri. Padahal fitrah manusia adalah untuk mencurigai diri sendiri.

Seperti yang dicontohkan nabi Adam dan Hawa yang mencurigai diri mereka sendiri, merasa telah mendzolimi diri mereka sendiri hingga terusir dari surga. Rabbana dzalamna anfusana. Padahal bisa saja mereka menyalahkan iblis yang memang ikut campur dalam dikeluarkannya nabi Adam dan Hawa dari surga. Namun, nabi Adam dan Hawa lebih memilih untuk mencurigai diri sendiri, merasa mereka dikeluarkan dari surga karena kesalahan yang telah mereka lakukan, karena ketamakan akan kekuasaan dan keabadian. Dua hal yang menjadi godaan terbesar bagi manusia dari pertama kali manusia diciptakan hingga saat ini. Berkat kecurigaan terhadap diri sendiri, nabi Adam dan Hawa diberi kesempatan kembali untuk membuktikan ketaatannya kepada Allah.

Seperti yang dicontohkan Nabi Musa yang merasa orang-orang yang didakwahinya tidak mau mengikuti ajarannya karena kesalahannya. Bahkan Nabi Musa takut jika kekakuan lidahnya membuat dia tidak dapat menyampaikan risalah Allah. Maka Nabi Musa memohon untuk dilancarkan bicaranya. Rabbisy rahliishadrii, wa yassirlii amrii, wahlul'uqdatan min lisaanii, yafqahuu qawlii. Padahal bisa saja Nabi Musa mengadu kepada Allah bahwa dia sudah berdakwah ratu
[02:46, 5/7/2018] Apriastiana Dian Fikroti: Setiap kali mendengar kajiannya Ustadz @salimafillah tentang #mncrgknskl, rasanya begitu sesak. Teringat akan begitu banyak dosa yang kian hari kian menumpuk, tetapi masih sempat-sempatnya merasa lebih baik dibanding orang lain. Teringat akan begitu mudahnya mencurigai orang lain, tetapi lalai untuk mencurigai diri sendiri. Padahal fitrah manusia adalah untuk mencurigai diri sendiri.

Seperti yang dicontohkan Nabi Adam dan Hawa yang mencurigai diri mereka sendiri, merasa telah mendzolimi diri mereka sendiri hingga terusir dari surga. Rabbana dzalamna anfudana. Padahal bisa saja mereka menyalahkan iblis yang memang ikut campur dalam dikeluarkannya Nabi Adam dan Hawa dari surga. Namun, Nabi Adam dan Hawa lebih memilih untuk mencurigai diri sendiri, merasa mereka dikeluarkan dari surga karena kesalahan yang telah mereka lakukan, karena ketamakan akan kekuasaan dan keabadian. Dua hal yang menjadi godaan terbesar bagi manusia dari pertama kali manusia diciptakan hingga saat ini. Berkat kecurigaan terhadap diri sendiri, nabi Adam dan Hawa diberi kesempatan kembali untuk membuktikan ketaatannya kepada Allah.

Seperti yang dicontohkan Nabi Nuh yang merasa orang-orang yang didakwahinya tidak mau mengikuti ajarannya karena kesalahannya. Padahal bisa saja Nabi Nuh mengadu kepada Allah bahwa dia sudah berdakwah ratusan tahun tetapi tidak ada yang beriman, tidak ada yang mau mendengarnya bahkan melecehkannya. Namun, Nabi Nuh justru merasa orang-orang yang didakwahinya tidak beriman karena caranya berdakwah.

Seperti Nabi Ibrahim yang bahkan berdoa agar hari pembalasan nanti Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya. Padahal Nabi Ibrahim telah mendarmabaktikan kehidupannya untuk Allah, rela melewati berbagai ujian karena Allah. Namun, Nabi Ibrahim justru berdoa agar Allah mengampuninya, bukan berdoa agar Allah membalas seluruh amal yang telah dilakukannya.

Seperti Nabi Musa yang merasa lidahnya bermasalah ketika diutus untuk kembali ke Mesir. Hingga merasa takut didustakan karena hal tersebut, padahal dia membawa risalah Allah. Maka, dalam surat Thaha ayat 25-28 disebutkan doa Nabi Musa untuk memudahkan urusan dan ucapan. Rabbisy rahliishadrii, wa yassirlii amrii, wahlul'uqdatan min lisaanii, yafqahuu qawlii.

Begitu banyak perilaku mencurigai diri sendiri yang dicontohkan para nabi dan rasul. Padahal mereka jauh lebih mulia dibanding kita. Mereka selalu mencurigai diri mereka sendiri atas apa-apa yang menimpa mereka. Sementara kita, terkadang justru mencurigai orang lain, merasa diri lebih baik dari orang lain, merasa orang lain memiliki dosa lebih besar dibanding kita. Pun kita merasa telah melakukan banyak kebaikan untuk Allah hingga berkah untuk mendapat ridha-Nya.

Share this:

0 comments:

Post a Comment