Mendewasakan Diri




Hari ke #132

Dulu, saat masih anak-anak, selalu takjub setiap kali melihat mahasiswa atau pekerja yang kos di tempat sepupu. Dalam pandanganku, mereka terlihat begitu dewasa dan membuatku iri. "Aku ingin menjadi dewasa juga!" Namun, setelah sekarang mengalaminya sendiri, rasanya justru masih kekanakkan. Tidak dewasa sama sekali. Seakan hanya angka usia yang bertambah. Pemikiran dan sikap masih belum dewasa sepenuhnya.

Aku jadi setuju dengan ungkapan, "usia tidak memengaruhi kedewasaan seseorang." Terlebih jika berkaca pada diri ini yang masih berpikir dan bertindak kekanakkan. Terlalu egosentris tetapi terlalu perasa. Sampai terkadang aku sendiri bertanya-tanya, "apa yang salah denganmu--diriku?" Pertanyaan berulang yang membuat diri ini "feeling guilty". Kalau sudah seperti itu, pertanda perlu banyak mendekat kepada-Nya, perlu banyak beristighfar, perlu banyak bermuhasabah. Mengutip perkataan seorang kawan, kalau hati kita sedang gundah+gelisah dan terus-menerus merasa seperti itu, mungkin ada yang salah dengan hubungan kita dengan Allah, dengan Alquran, dengan orang tua. Mungkin hubungan kita dengan itu semua sedang merenggang.

Dan menjadi dewasa memang bukan perkara pertambahan angka usia. Bukan pula karena kita berpenampilan selayaknya orang dewasa. Namun, bagaimana kita berpikir dan bertindak dengan dewasa, tidak egosentris, tidak menganggap diri paling benar. Jadi, menjadi dewasa memerlukan proses. Selama kita mampu dan mau mengambil hikmah dari setiap hal yang kita alami, lakukan, dan rasakan. Pun selama kita mampu dan mau untuk mengubah diri menjadi lebih baik.

Share this:

0 comments:

Post a Comment