Makna Puasa



Hari ke #136


Beberapa hari kemarin sebelum puasa tidak sengaja menonton salah satu video Shihab & Shihab di channel-nya Najwa Shihab yang muncul di beranda YouTube. Kebetulan video yang saat itu kutonton bertemakan tentang Puasa. Dan yang paling menarik ketika Quraisy Shihab menjelaskan tentang makna puasa.

"...Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya." Ada dua makna dari hadits Qudsi tersebut yang berkaitan dengan makna puasa. Pertama, puasa itu dilakukan seseorang semata-mata bentuk keikhlasan hamba kepada Tuhan-Nya. Seseorang bisa berpuasa tapi tidak berpuasa, tidak berpuasa tapi berpuasa, bergantung pada keikhlasan orang tersebut, yang menunjukkan itu keikhlasannya. Maka Allah mengatakan, "Puasa itu untuk-Ku" karena di situlah tercermin keikhlasan yang dilakukan semata-mata kepada Allah dari pelaksanaan puasa yang kita jalani.

Kedua, Islam menganjurkan puasa untuk meneladan sifat-sifat Tuhan, terutama dalam tiga hal pokok yang menjadi kebutuhan manusia. Tuhan tidak minum, maka kita--hamba-Nya--berusaha untuk tidak minum sesuai kemampuan kita. Tuhan tidak makan, maka kita--hamba-Nya--berusaha untuk tidak makan sesuai kemampuan kita. Tuhan tidak memiliki pasangan, maka selama puasa, bagi yang telah memiliki pasangan tidak boleh melakukan hubungan suami istri. Seolah Selain itu, puasa juga mengajarkan kita untuk meneladan sifat Tuhan lainnya, sesuai dengan kemampuan kita yang lainnya. Seperti Tuhan Maha Kaya dalam arti tidak butuh sesuatu, maka kurangilah kebutuhan kita, terutama jika itu tidak bermanfaat. Tuhan Maha Mengetahui Segala Sesuatu, maka kita meneladan sifat-Nya dengan belajar, membaca buku, dan/atau mendatangi majelis ilmu. Jadi, bulan Ramadhan kita bermalas-malasan dan enggan untuk datang ke kajian.

Share this:

0 comments:

Post a Comment