Mengakui Kesalahan dan Meminta Maaf



Hari ke #125

Terkadang, aku berpikir jika kata-kata yang sering terucap suatu saat akan mencapai titik ketidakbermaknaannya. Terasa kehilangan esensi dari kata-kata itu sendiri. Seperti kata maaf yang diucap berulang kali ketika berbuat kesalahan. Terasa seperti "menggampangkan" kata maaf tersebut hingga kita dapat berbuat kesalahan seenaknya.

Setelah kupikir-pikir, sepertinya perlu diselisik kembali kenapa sebuah kata "maaf" bisa kembali terucap. Apakah si yang meminta maaf memang kembali berbuat kesalahan. Ataukah si yang dimintai maaf tipikal orang yang sensitif. Namun, pasti akan terlihat dan terasa mana kata "maaf" yang tulus diucapkan. Dan jika kita berada di posisi "yang dimintai maaf", seharusnya kita mengapresiasi orang yang meminta maaf kepada kita. Sebab, mengakui kesalahan hingga akhirnya meminta maaf itu bukanlah hal yang mudah--meski terlihat sepele.

Perihal mengakui kesalahan dan meminta maaf itu membuatku teringat akan dua driver ojek daring yang pernah kutemui. Pertama, driver yang mengantarku dan ibu dari Halte Psikologi UI menuju rumah sepupu yang terletak di Cipayung, Jakarta Timur. Di awal, sang driver sudah mengatakan kepadaku kalau ponselnya low battery jadi memintaku untuk menunjukkan jalan. Sayangnya, di tengah jalan tiba-tiba maps-ku tidak bekerja dengan baik, ditambah lagi aku dan ibu belum hafal jalan menuju rumah sepupu. Alhasil, kami tersesat, mencoba satu jalan ke jalan lainnya. Mengetahui maps-ku tidak berjalan dengan baik, sang driver mengeluarkan ponselnya dan membuka maps. Aku membatin, "lah, itu hapenya nyala."

Ketersesatan itu membuat kepalaku yang sudah pening karena tes menjadi semakin pening. Detik selanjutnya aku dan ibu mencoba menelepon bude. Dan ternyata terasa percuma, sang driver seperti tidak satu frekuensi dengan bude. Di tengah ketersesatan itu, sang driver bilang ke ibu kalau ada tambahan biaya, padahal seharusnya tidak membayar apapun lagi. Rasanya kesal sendiri, sebab menurutku itu bukan salah aku dan ibu. Ya, meski akhirnya ibu tetap memberi uang. Setelah satu setengah jam tersesat di entah berantah, kami pun sampai di rumah sepupu. Dan ketika kami akan turun dari mobil, "Bu, boleh nambah biaya lagi gak?"  Dari kejadian itu aku menyadari bahwa mengakui kesalahan itu sulit. Seperti sang driver yang (dalam suudzonku) tidak paham jalan sehingga kami tersesat, ditambah lagi kami harus membayar biaya tambahan dari kesalahan yang bukan kami lakukan. Atau driver itu memang sengaja menyesatkan kami agar mendapat tambahan biaya.

Lain halnya ketika Sabtu malam kemarin, sepulang dari Grand Opening RDK, aku pulang dengan menggunakan ojek daring. Jarak kampus-kantor yang biasanya hanya ditempuh selama 20-30 menit, kali ini harus ditempuh hampir satu jam. Penyebabnya tentu karena macet. Sang driver yang peka akan kemacetan yang ada, mencoba mencari jalan lain yang dikira lancar, padahal tetap berujung macet. Bahkan sempat salah jalan karena sang driver merasa mengambil jalan yang salah yang nantinya akan berujung kemacetan panjang dan lama. Hal yang kuapresiasi dari driver itu yakni Beliau mengakui "kesalahan" yang dibuatnya yang mengambil jalan (yang menurutnya) salah. Pun meminta maaf beberapa kali karena jalan yang Beliau ambil selalu berujung pada kemacetan. Padahal kemacetan itu bukan salah Beliau, sehingga Beliau tidak perlu berulang kali meminta maaf. Jadi, terasa sekali bahwa ucapan maaf Beliau memang tulus.

Share this:

0 comments:

Post a Comment